Prambanan, antara mitos dan sejarah

  • Whatsapp
Prambanan, telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai situs warisan dunia sejak 1991 (Foto: P2N – Outsiders)

Sleman (Outsiders) – Mitos, atau myth adalah narasi tradisional yang disampaikan dengan pola bertutur dari mulut ke mulut secara turun temurun dan memiliki hubungan erat dengan sebuah fenomena, tempat atau peristiwa.

Sebagai contoh, bentuk Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat yang mirip dengan sebuah kapal tertelungkup, memunculkan legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Selanjutnya sebuah batu karang dengan kemiripan seperti manusia tengah bersujud di Pantai Air Manis, Padang, dikait- kaitkan dengan anak durhaka Malin Kundang yang disumpah menjadi batu.

Layaknya cerita rakyat, penyampaian sebuah mitos terkadang mengalami perubahan alur cerita, karakter, setting serta sudut pandang karena erat hubungannya dengan latar belakang persona penutur cerita tersebut. Dengan kata lain, intelektual berfikir persona berdasarkan era dan lokasi sangat memungkinkan terjadinya varian cerita berbeda dari kisah aslinya.

Indonesia dengan beragam budaya memiliki ratusan mitos atau mungkin ribuan, salah satunya adalah legenda Candi Prambanan di perbatasan Yogyakarta dengan Jawa Tengah, yang telah menjadi destinasi pariwisata terkenal berlokasi di Jalan Raya Solo – Yogyakarta No.16, Kranggan, Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Adalah Raja Boko, digambarkan sebagai sosok kejam berwujud raksasa dan gemar memakan daging manusia, didampingi patihnya bernama Gupolo berusaha menaklukkan kerajaan Pengging yang diperintah oleh raja arif bijaksana, Prabu Damar Moyo.

Raja Pengging dikisahkan mengutus putranya yang maha sakti mandraguna bernama Bandung Bondowosa untuk bertempur menghadapi musuh mereka. Dalam pertempuran itu, dikisahkan pihak kerajaan Pengging berhasil melumpuhkan pasukan Raja Boko hingga membunuh rajanya, sementara patih Gupolo selamat dan melarikan diri kembali ke kerajaan.

Bandung Bondowosa tidak tinggal diam, ia beserta prajurit Pengging mengejar Gupolo hingga ke Boko dan di sanalah kisah pembangunan Prambanan berawal.

Ketika Bandung Bondowosa memasuki komplek kerajaan Boko, tanpa sengaja ia bertemu putri Raja Boko, Roro Jonggrang nan caktik jelita berwujudkan manusia. Jatuh cinta pada pandangan pertama tak terelakkan hingga akhirnya Bandung Bondowoso melamar sang putri.

Roro Jonggrang awalnya menolak dijadikan istri karena baginya adalah hal yang tidak mungkin bersuamikan pembunuh ayahnya. Namun setelah didesak dan ia menyadari kondisi kerajaannya tidak memungkinkan melakukan perlawanan, akhirnya Roro Jonggrang menyetujui lamaran tersebut dengan syarat  Bandung Bondowoso harus membuat sebuah sumur sangat dalam.

Ternyata permintaan tersebut hanya akal- akalan Roro Jonggrang untuk membunuh rival ayahnya, terbukti ketika tubuh Bandung Bondowosa tidak terlihat dari permukaan sumur saat menggali, dibantu Patih Gupolo,  Roro Jonggrang segera menimbun sumur tersebut dengan bebatuan hingga tertutup rapat.

Bukan manusia sakti namanya bila Bandung Bondowoso tidak mampu keluar dari sumur yang ia gali meskipun telah ditimbun dengan bebatuan. Setelah berada di luar sumur, dengan kemurkaannya ia kembali mencari Roro Jonggrang dan berencana menghabisinya.

Keadaan berkata lain. Demi melihat kembali wajah Roro Jonggrang beserta kecantikanya yang dibarengi kata- kata manis pemikat hati, Bandung Bondowoso kembali luluh terkulai. Kesempatan tersebut tidak disia- siakan oleh sang putri. Ia kembali mengajukan syarat tak masuk akal agar keinginan Bandung Bondowoso menjadikannya istri gagal.

Ia meminta pangeran kerajaan Pengging ini untuk membuatkan seribu candi dengan ketentuan harus diselesaikan sebelum ayam jantan berkokok sebagai tanda hari telah pagi. Memang terdengar mustahil bagi manusia bisa, namun Bandung Bondowoso justru menyanggupinya.

Dengan kekuatan supranatural, Bandung Bondowoso melakukan tapa di tanah lapang ketika matahari terbenam untuk meminta bantuan kepada Raja Iblis yang mengutus ribuan makhluk astral mewujudkan permintaan Roro Jonggrang.

Sebelum pertengahan malam, jumlah candi yang dibangun telah mencapai 999 unit. Keadaan tersebut tidak luput dari perhatian Roro Jonggrang. Ia kembali berusaha menggagalkan pekerjaan Bandung Bondowosa dengan cara memerintahkan seluruh rakyat  untuk membakar sebanyak- banyaknya kayu, sehingga menerangi langit dengan warna merah seperti awal kemunculan matahari di ufuk timur. Sementara perempuan- perempuan kerajaan dikerahkan untuk memukulkan alu ke lubang lesung layaknya tengah menumbuk padi seperti kebiasaan ketika pagi akan menjelang.

Kondisi itu sontak membuat ayam- ayam jantan seluruh pelosok kerajaan Boko,  berkokok menandakan hari telah pagi. Demi mengetahui keadaan tersebut adalah siasat busuk Roro Jonggrang, akhirnya Bandung Bondowoso kembali murka dengan mengutuk sang putri berubah menjadi candi untuk menggenapinya menjadi seribu unit. Bangunan tersebut juga dikenal sebagai Candi Roro Jonggrang lengkap dengan relief diyakini sebagai wujud sang putri yang hingga kini kokoh berdiri di komplek Prambanan.

Pembangunan Prambanan dari Sudut Pandang Sejarah

Berdasarkan sejarah, Candi Prambanan dibangun abad ke-9 pada masa Sri Maharaja Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram kuno. Hal tersebut terungkap berdasarkan prasasti Sivargha,  ditulis langsung oleh Rakai Pikatan sendiri.

Pakar Arkeologi akhirnya sepakat bila candi tersebut memang dibangun masa Raja Rakai Pikatan setelah mendalami salah satu bait dalam prasasti Sivargha, berisikan keterangan lengkap mengenai gugusan candi bernama Siwargha atau Siwalaya, bermakna Rumah Dewa Siwa.

Ahli Filologi Belanda, Johannes Gijsbertus de Casparis, berhasil menterjemahkan isi prasasti Sivargha dan membaginya menjadi beberapa bagian, yaitu kisah pendirian Prambanan sebagai tempat suci, kisah peresmian gugusan candi dan kisah penetapan tanah perdikan atau sima, dalam artian tanah dengan hak istimewa yang diberikan raja kepada orang- orang tertentu dan biasanya tidak dipungut pajak tanah.

Bagian pertama prasasti menceritakan tentang lokasi komplek Prambanan yang asri bernuansa kedamaian,  dikelilingi pagar dan setiap sisi memiliki pintu berpenjaga patung Dwarapala bermuka seram. Selanjutnya, digambarkan juga deretan candi- candi  kecil, disebut candi Perwara, mengitari candi utama berjumlah 224 unit.

Bagian lain menceritakan akhir pembangunan candi, kemudian diresmikan pada Kamis Wage, 11 Margarisa 778 Saka, bertepatan 11 November 856 Masehi. Setelah perampungan Kuil Siwalaya selesai secara keseluruhan, barulah dibangun irigasi yang mengaliri sisi- sisi halaman candi dengan mengalihkan aliran sungai terdekat. Kemudian pada bagian akhir prasati diceritakan tentang penetapan “Sawah Dharma” kuil Siwa.

Pembangunan Prambanan disebut- sebut sebagai bentuk tandingan Borobudur yang didirikan oleh Dinasti Syailendra beragama Budha, sementara Prambanan adalah refleksi ketaatan bagi pemeluk Hindu.

Jadi, relief Roro Jonggrang pada candi utama yang dikatakan akibat disumpah Bandung Bondowoso, sebenarnya adalah patung Durga Mahishasuramardini, atau perwujudan dari Bunda Alam Semesta menurut kepercayaan Hindu. Sementara kata Prambanan berasal dari kata Param dan Brahman, bermakna “Kebenaran Mutlak Tertinggi”.

Sejarah juga mencatat Prambanan sempat tidak terurus pasca pindahnya istana Kerajaan Mataram ke Jawa Timur sekitar tahun 928. Lebih parah lagi, komplek candi sempat porak- poranda akibat gempa bumi abad ke-16.

Masa penjajahan Belanda komplek candi ditemukan kembali oleh Colin Mackenzie, staf Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Timur asal Inggris yang berkuasa sejak 1811 hingga 1816.

Kala itu  Meckenzie berkeinginan membangun kembali reruntuhan Prambanan, namun tidak berhasil secara sempurna karena masih banyak banguna yang terkubur.

Bila saat ini Prambanan terlihat telah berbentuk layaknya bangunan bersejarah lainnya, semuanya tidak terlepas dari pemugaran besar- besaran tahun 1930 – 1953 pada era Presiden Sukarno yang juga berkesempatan meresmikannya.

Kini, Prambanan telah menjadi target kunjungan wisata handalan dan ditetapkan oleh UNESCO sejak 1991 sebagai salah satu situs warisan dunia yang banyak dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegera.

.

Penulis : Syam Irfandi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *