Rasa Indonesia di Taipe City Mall, Taiwan

  • Whatsapp
Foto bareng bersama Mahasiswa Indonesia di kaawasan Taipe City Mall, Taiwan

.

Taipe, Taiwan (Outsiders) – Mendarat di Terminal 1 Bandara Taoyuan, Taiwan, terasa disambut atmosfir berbeda ketika mendapatkan keramahan petugas imigrasi yang melayani setiap pendatang saat melalui gerbang pemeriksaan paspor.

Setiap kali petugas mengembalikan paspor pendatang usai dibubuhi cap, tak lupa seulas senyum terukir spontan di wajah mereka seakan menggambarkan budi bahasa rakyat pulau Formasa, meskipun harus melayani ratusan antrian yang berkelok seperti ular terlihat berbaris teratur menunggu giliran.

Rasa lapar tiba- tiba saja muncul setelah keluar dari imigrasi bandara, mau tak mau tuntutan perut tersebut mesti dipenuhi sebelum protes terjadi hingga dikhawatirkan dapat mengakibatkan meningkatnya asam lambung, meskipun sebelumnya, ketika  bertolak dari Bandara Kuala Lumpur, sekitar pukul 04.00 pagi waktu Malaysia, sempat makan terlebih dahulu. Mungkin karena berada empat jam lebih di dalam kabin pesawat yang lumayan dingin, sehingga rasa lapar mudah timbul.

Bersama rombongan kecil dari Pekanbaru, kami mulai mencari makanan yang cocok, kebetulan rombongan dengan jumlah empat orang ini, semuanya muslim, artinya harus mencari panganan halal. Agak sulit memang, namun akhirnya menemukan juga sebuah café penyedia makanan riangan layak konsumsi di kawasan bandara tersebut.

Usai bersantap, perjalanan dilanjutkan menuju kota Taipe menggunakan MRT dengan masa tempuh sekitar 35 menit dan kami sengaja berhenti di kawasan  Y-27 basemen Taipe City Mall, karena dari informasi yang diperoleh, sangat mudah untuk mencari makanan halal dan rata- rata pedagang di sana adalah orang Indonesia.

Dr. Irfan, Om Yan dan Harry Dipo di Taipe Main Station

Benar saja, seperti menemukan harta karun, sajian kuliner Indonesia memang tersedia hampir di setiap tempat makan. Hal itu pula yang membuat Irfan Ardiansyah, pengacara kondang Pekanbaru, Harry Dipo, bos Persada FM dan Om Yan, bos Persada Sound & Lighting, berbinar dan semangat sekali untuk segera bersantap, karena saat di bandara memang sengaja tak makan banyak karena keraguan terhadap komposisi kudapan di sana.

Makan Lahap? Tentu saja segera terjadi karena mulai dari sambal goreng, gulai ayam hingga gulai jengkol dan lalap petai tinggal pilih saja sebagai menu makan siang. Ditambah lagi tidak perlu berbahasa Inggris atau Mandarin untuk memesan makanan, karena memang penyaji makanan adalah orang Indonesia tulen, dan kebanyakan dari tanah Jawa.

Tina (35),  TKI asal Jawa Timur yang telah menatap lima tahun lebih di Taipe, mengatakan kawasan bawah tanah atau basemen Y-26 dan Y-27 banyak pedagang Indonesia, terkhusus pedagang kuliner. Makanya tidak heran bila tempat ini menjadi favorit TKI di Taiwan untuk berkumpul pada hari libur.

Irfan Ardiansyah, saat berada di Y-27 Taipe City Mall, Taiwan

“Bila hari libur tempat ini dipadati TKI baik untuk berbelanja maupun hanya sekedar berkumpul melepas kangen,” ujar Tina.

Selain itu, sejumlah kegiatan sosial juga sering mereka gelar di kawasan Y-27, misalnya kegiatan keagamaan, perayaan HUT RI hingga fashion show busana muslim.

“Pokoknya tempat ini meriah sekali, dan bila hari libur justru sudah seperti mal di Indonesia karena memang isinya rata- rata pekerja Indonesia di Taiwan,” ungkap Tina.

Kata Tina, pedagang- pedagang itu ada yang sudah punya usaha sendiri dan ada pula sebagai pekerja. “Ada TKI yang menikah dengan orang Taiwan, lalu mereka membuka toko atau warung makanan, tapi ada juga perkerja yang sudah lama tinggal di Taipe, lalu setelah merasa punya modal banyak mereka tidak lagi berkerja sebagai TKI, malah ikutan dagang di sini,” imbuhnya.

Seperti rumah makan Syariah, pemiliknya adalah WNI. Warung ini sangat terkenal karena sajian kelezatan makanan tradiisional Indonesia yang mereka sajikan dapat memenuhi kerinduan para TKI terhadap kampung halaman.

Harga satu porsi  makanan juga bervariasi, mulai dari 90 hingga 170 NT dolar atau setara dengan Rp40 ribu hingga Rp.78 ribu.

Masih dikawasan berdampingan, tepatnya di jalur Y-26, bisa ditemukan Restoran Indorasa.  Warung miliki wanita asal Jawa yang akrab dipanggil Cece ini bahkan menyediakan bakso, siomay dan minuman tradisional seperti cendol.

Cece, pemilik restoran Indorasa, di kawsan Y-26 Taipe City Mall, Taiwan

Cece juga memperkerjakan orang- orang Indonesia di rumah makannya dan bagi pelanggan tidak perlu merasa ragu terhadap sajiannya, karena dimasak dan dihidangkan oleh muslim semua.

“Terima kasih atas kunjungannya dan silahkan mampir lagi, ya,” ujar Cece ramah kepada pelanggan.

Puas mengitari Taipe City Mall, kami kembali ke Bandara Taoyuan karena akan dijemput pihak Dayeh Univercity di kawasan Dacun Township, Chonghua,  untuk menghadiri sejumlah pertemuan.

.

Pewarta : Syam Irfandi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *