Cerita dibalik Festival Pesona Bau Nyale 2020

61 Viewed redaksi 0 respond
Nyale, Cacing laut warna- warni

.

Lombok (Outsiders) – Selain memiliki pesona alam nan Indah, bahkan banyak yang mengatakan sebagai kembaran Bali dilihat dari kemiripan budaya serta geografis, Lombok mulai bangkit sebagai salah satu tujuan wisata handalan Indonesia.

Mulai dari wisata pantai seperti Pantai Senggigi, Pantai Kuta Lombok, Pantai Sekotong hingga Pura Batu Bolong dan Gunung Rinjani, 14 – 15 Februari 2020 mendatang, akan digelar puncak Festival Pesona Bau Nyale 2020.

Nyale atau cacing laut sebagai ikon festival tahunan tersebut, adalah bahan pangan khas  Lombok. Cara berburunya yang unik memunculkan tradisi Bau Nyale atau berburu cacing laut karena keberadaan nyale dalam jumlah besar tidak didapati sepanjang tahun, biasanya kemunculan cacing warna- warni ini pada malam hari dengan rentang waktu Februari – Maret.

Bau Nyale oleh masyrakat Sasak, Lombok selalu dikaitkan dengan legenda Putri Mandalika, anak raja nan cantik jelita serta berprilaku lembut dan baik budi. Dikisahkan karena kecantikannya membuat ramai pangeran serta bangsawan menaruh hati, sehingga tak heran lamaran demi lamaran datang silih berganti.

Single content advertisement top

Sang raja yang arif bijaksana tak hendak memutuskan sendiri siapa yang akan menjadi pendamping hidup putri Mandalika, sehingga ia menyerahkan sepenuhnya kepada anak gadisnya untuk memutuskan pilihan dari sekian banyak lamaran.

Putri Mandalika juga merasa bingung untuk memutuskan, lalu ia  menenangkan hati sambil meminta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa dengan melakukan pertapaan. Setelah menyudahi tapa, sang putri mengundang seluruh pelamarnya untuk hadir pada tanggal 20 bulan ke sepuluh penanggalan Sasak bertempat di Pantai Kuta Lombok atau Pantai Seger.

Saat mengumumkan apa yang menjadi keputusannya, Putri Mandalika berdiri diatas Bukit Seger seraya berseru kepada undangan yang memadati pantai, bahwa ia memiliki keinginan untuk membuat seluruh lombok  menjadi kerajaan penuh damai. Kata Mandalika lagi, bila ia menerima salah satu lamaran, ia khawatir akan timbul perpecahan, maka dari itu, ia menyatakan menerima seluruh lamaran yang dialamatkan kepadanya.

Usai mengucapkan kata- kata tersebut Putri Mandalika terjun ke laut. Seluruh hadirin sontak kaget dan spontan ikut menceburkan diri menyelamatkan san putri meskipun tak ada yang dapat menemukannya, seolah tubuh sang putri telah menyatu dengar air.

Herannya, tak lama berselang Pantai Seger dipenuhi cacing warna- warni dan seluruh orang pada saat itu merasa takjub serta meyakini cacing laut yang kemudian dinamai Nyale tersebut, adalah jelmaan Putri Mandalika.

Sejak saat itu, setiap tahun masyarakat setempat menjadikannya sebagai Ritual Bau Nyale, dengan anggapan cacing laut yang muncul di Pantai Seger adalah cara Putri Mandalika menjaga kedamain di sana dengan mengumpulkan seluruh masyarakat dalam sebuah kesatuan tak terpecahkan yang larut pada suasana perburuan Nyale.

Belakangan, Pemerintah Lombok, Nusa Tenggara Tengah menjadikan ritual ini sebagai nama festival tahunan untuk mendongkrak kunjungan wisatawan yang diselenggarakan setiap bulan Februari.

Tahun 2020 ini, Festifal Pesona Bau Nyale telah dilaksanakan sejak 8 Februari lalu dengan  menggelar berbagai even seperti Mandalika Photo Contest, Peresean, Dialog Kreatif, Pemilihan Putri Mandalika, Mandalika Fashion Carnival, Kampoeng Kuliner dan dikahiri  puncak acara pada 15 Februari 2020 mendatang.

Selain sebagai daya tarik pariwisata, dikatakan Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenparekraf,  Muh. Ricky Fauziyani, bahwa Festival Pesona Bau Nyale 2020 adalah sebagai spot untuk memproduksi berbagai konten kreatif, terutama konten media sosial seperti Instagram.

“Ini adalah spot terbaik bagi pelaku konten kreatif. Untuk kebutuhan lomba, siapa saja boleh ikut dan tidak dibatasi perangkat apa yang mereka gunakan untuk mengambil gambar, mulai dari kamera profesional maupun kamera handphone, semuanya dapat berkarya, pokoknya kreatifitas harus dieksplorasi,” pungkasnya.

Pewarta : Syam Irfandi

Filed in

Rasa Indonesia di Taipe City Mall, Taiwan

Ini cara KBRI Kairo promosikan pariwisata Indonesia di Mesir

Related posts