Untuk negeri bernama Natuna

235 Viewed redaksi 0 respond

.

Oleh Rosyita Hasan

Single content advertisement top

.

Pertama  membayangkan Natuna, hanya terbersit yang indah-indah saja. Dibalik itu, ternyata tersimpan sejuta arti bagi Indonesia.

“Siapa yang mau ke Natuna?” tanya salah satu temanku melalui percakapan saluran telepon selular.

“Aku,” jawabku singkat.

“Tidak boleh,” sebutnya dari seberang.

Percakapan berlanjut, dengan kesimpulan aku harus menemui teman-teman di Pulau Batam terlebih dahulu. Mereka akan berkumpul seakan ingin menyidangku, bentuk kerisauan bersampul ingin menahanku di Batam.

Pulau Batam tak juga asing bagiku,  jejak-jejak sebagai jurnalis terekam nyata di pulau berpenghuni beragam suku ini. Tak pelak, Batam yang sudah kutinggalkan sejak 10  tahun yang lalu ini menjadi rumah keduaku sebagai jurnalis setelah Pekanbaru.

Tiba di Batam, aku digiring ke sebuah pertemuan. “Kami meminta kamu membatalkan niat ke Natuna. Kami sudah menyiapkan pekerjaan yang cocok untuk kamu di sini,di Batam,” sebutnya sedikit ada nada penekanan.

Aku menatap satu persatu mengelilingi meja panjang itu. “Ada apa sebenarnya,” sambutku sambil sedikit tergelak.

“Kami serius, kamu tinggal bilang mau kerja di mana di Batam ini?” sebut seseorang yang kupanggil abang diantara enam orang lainnya.

“Aku tidak mungkin membatalkan, aku sudah tanda tangan. Tidak mungkin bukan? Lagian aku memang ingin melihat yang indah-indah saja saat ini,” sebutku sok lugu. Dalam hati, aku berharap semua yang di meja ini percaya dengan mimik muka yang kubuat sesedih mungkin.

Semua terdiam, terlihat terbawa dengan ekpresi wajahku. “Kalaupun kamu lagi sedih, janganlah ke sana. Please…” masih mencoba merayuku.

“Ini sudah tawaran ke dua kalinya, tak mungkin aku tolak lagi,” ungkapku sambil menyerut teh manis  hangat Abang tertua.

Itulah awal aku menginjakkan kaki ke Natuna, Si Pulau Terdepan, dengan segala pesonanya seperti magnet kutub yang mampu menyedot berjuta- juta keingintahuan, menggelitik setiap denyut nadi memaksa diri untuk tidak pernah diam mencari petualangan baru seperti menhantarkan jiwa raga dengan idialisme kebangsaan yang begitu tinggi.

Kekuatan itu mampu mendepak kecemasan, ketakutan, kegusaran dan ketidakpastian tentang pandangan negatif yang disuntikkan ke benakku agar membatalkan “KONTRAK MATI”, demikian para sahabat yang kucintai menyebutnya, untuk berlabuh di Natuna.

Wajar saja bila mereka mengkhawatirkan apa yang menjadi pilihanku saat itu. Aku sebagai sosok wanita yang terbiasa terfasilitasi dalam segala hal saat berkerja sebagai jurnalis di kota besar, dianggap akan menemui kesulitan bila berkarir disana.

Belum lagi jarak tempuh dengan kampung halaman tidak memungkinkan untuk pulang semau hati, karena harus menunggu jadwal tertentu agar dapat terbang atau berlayar, dan segala macam kekurangan lainnya yang mereka gambarkan kepadaku. Intinya lebih banyak tak enaknya bila aku tetap dalam pendirianku.

Aku sempat membatin, “Kalau mau dapat enak dan terfasilitasi dalam berkerja, jangan pernah memilih menjadi jurnalis,” hanya kalimat itu tak terlontar kepada seluruh sahabatku di Batam.

Aku yakin, apapun yang mereka sampaikan agar aku mengurungkan niat, semua atas dasar rasa sayang mereka terhadapku sebagai sahabat. Mereka tidak mau melihat aku menderita di negeri orang. Namun bila membatalkannya, mungkin aku tidak akan pernah mengenal kebesaran Allah yang disematkan kepada sebuah negeri bernama Natuna.

Sahabatku, Abang, Kakak dan Adik, kalian selalu berada dalam hati ini tanpa pernah ada seorangpun mampu menggesernya. You all the best. Inilah aku sekarang, “Syita si Pulau Terdepan”

(bersambung…)

.

Natuna, I’m Coming

Related posts