Irving Kahar Arifin, Pelukis Wajah Siak

94 Viewed redaksi 0 respond
Irving Kahar Arifin

Bukan dalam arti sebenarnya, Irving Kahar Arifin, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang dan Pemukiman Kabupaten Siak, dianggap sebagai pelukis wajah Kabupaten Siak karena idenya dalam memberi sentuhan warna pada Kota Siak membuat salah satu Kabupaten di Provinsi Riau tersebut terlihat telah berubah wujud menjadi sebuah kota dengan sentuhan modern, namun tetap mempertahankan nilai- nilai tradisional dari berbagai sisi tata ruang.

“Saya grogi kalau diwawancarai, jadi lebih baik kita ngobrol sambil diskusi saja. Mana tahu apa yang kita perbincangkan berkenan dengan informasi yang kawan- kawan cari,” ujar Irving membuka percakapan ketika ditemui Tim Outsiders di kantornya.

Awal pembicaraan, Irving menyebutkan faktor sejarah adalah komponen terpenting dalam perencanaan pembangunan tata ruang kota Siak untuk kembali menghidupkan momen kejayaan masa lalu.

“Tentu saja proses awal untuk membangun kembali kejayaan tersebut, dibutuhkan banyak informasi terkait sejarah Siak Sri Indrapura sehingga sentuhan yang akan diberikan pada komposisi disain arsitekturnya, kelak akan lebih mendekati bentuk asli meski mendapatkan polesan kekinian,” kata Irving.

Mengulang sejarah dalam disain artsitektur dan tata kota merupakan  tujuan utama untuk mengembangkan dan membangun imej Kota Siak sebagai destinasi wisata sejarah.

Single content advertisement top
Istana Siak Sri Indrapura

“Kita tidak berkerja sendiri. Sejumlah pusat kajian sejarah seperti dari perguruan tinggi serta lembaga terkait juga dilibatkan untuk memperoleh data pasti tentang bagaimana sebenarnya kondisi Siak sebagai salah satu urat nadi penopang perdagangan antar bangsa di kawasan Asia pada zaman keemasannya,” papar Irving.

Dijelaskan Irving, salah satu pusat perekonomian dunia dahulunya bukan Temasik atau Singapura, tetapi Malaka. Puncak kejayaannya adalah saat Portugis mengusai Malaka sekitar tahun 1511. Ketika Malaka diambil alih oleh Belanda  arus perekonomian dunia langsung menyentuh perairan Sungai Siak yang dianggap seperti Terusan Zues untuk mencapai Pulau Sumatera.

Gemerlap Sungai Siak malam hari dengan latar belakang Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah

Raja Kecik yang mengusai Siak kala itu, menetapkan Buantan Besar atau Sungai Siak sebagai Pusat Kerajaan adalah pilihan tepat karena Beliau yakin kondisi alamnya sangat mendukung jalur perdagangan antar bangsa. Sejumlah daerah di Sumatera tentu lebih nyaman untuk memanfaatkan jalur Sungai Siak untuk mencapai Malaka ketimbang harus memutar melalui jalur laut ke Arah Kerajaan Aceh, terutama daerah- daerah yang terkoneksi langsung dengan jalur sungai, seperti Jambi, Tapanuli dan Sumatera Barat.

“Bila menggunakan jalur laut via Aceh menuju kawasan timur untuk mencapai Malaka, tentu saja dibutuhkan biaya tinggi dan risiko besar, namun dengan jalur sungai, semuanya dapat direduksi. Inilah yang membuat Kerajaan Siak sangat dipandang kala itu dan dari segi pemasukan, ibarat melalui Terusan Zues, setiap kapal yang berlayar wajib membayar biaya lintas, begitu juga dengan Buantan Besar kalau itu,” imbuh Irving.

Ibarat melukis, dari kajian sejarah yang diperolehnya, Irving bersama tim kemudian merekayasa ulang titik- titik tertentu penataan Kota Siak dalam disain gambar. Tentu saja sejumlah bangunan sejarah yang tersisa tetap dipertahankan serta mendapatkan revitalisasi sesuai dengan keasliannya.

Balai Kerapatan Adat, salah satu peninggalan Kesultanan Siak

“Semuanya tidak terlepas dari keinginan Bapak Bupati Syamsuar kala itu, beliau menginginkan agar Kabupaten Siak memang benar- benar menjadi destinasi wisata sejarah. Alhamdulillah sebagian telah terlaksana dengan baik dan masih banyak PR yang harus kami kerjakan untuk mewujudkan cita- cita tersebut khususnya dari sisi infrastruktur dan bangunan serta fasilitas fisik lainnya,” katanya lagi.

Secara keseluruhan dari rencana menjadikan Siak Sebagai Kota Pusaka, signifikansinya adalah Kota Siak merupakan kota warisan kerajaan Melayu yang berada di bantaran Sungai Siak dan memiliki peta geospasial dari abad ke 18. “Dari signifikansi tersebut jelas tergambar arti penting dari Siak tersebut bukan kerajaannya, tetapi wilayah sungainya,” ucap Irving.

Sementara itu, ujar Irving meneruskan, titik fokus pembangunan destinasi Kota Pusaka juga tidak terlepas dari perjalanan sejarah Raja Kecik. “Raja Kecik membangun kawasan kerajaan pada masa itu tidak langsung di kawasan istana. Beliau berpindah- pindah seperti dari Buantan Besar, lalu ke Mempura, selanjutnya ke Kota Tinggi atau lebih dikenal dengan China Town, bahkan sampai ke kawasan Senapelan di Kota Pekanbaru dan terakhir barulah beliau menetapkan kawasan Istana Siak sekarang ini sebagai pusat kerajaan,” ujar Irving.

Dari segi membangunan saat membuka kawasan baru, Irving mengaku sangat mengagumi Rajak Kecik. Katanya, Raja Kecik itu cerdas dalam memanfaatkan material pembangunan.

“Kita bisa bayangkan bagaimana kondisi kawasan Buantan Besar ketika tahun 1723. Tentu saja hutan belantara. Saat Sultan Raja Kecik mulai membuka kawasan tersebut, yang pertama kali dikerjakan adalah membuat Suak atau kanal  yang mengelilingi area pembangunan, fungsinya untuk mengeringkan air karena kawasan tersebut gambut. Material galian Ia jadikan benteng untuk berlindung dari binatang buas serta serangan pasukan asing, sementara Suak tadi juga difungsikan sebagai sarana transportasi dari kawasan darat menuju ke sungai. Inilah yang saya katakan cerdas tadi,” ujar Irving memuji.

Mesjid Raya Syahabuddin, mesjid Sultan Siak yang masih digunakan sebagai tempat ibadah hingga kini

Kalau sekarang dikenal istilah konsep Water Front City (WFC), ternyata Raja Kecik sudah melakukannya lebih dahulu, “Lihat saja apa yang telah beliau bangun. Istana Siak misalnya, tata letaknya menghadap ke sungai, begitu juga dengan Balairung, Mesjid, Tangsi bahkan Landrad, semuanya menghadap ke sungai. Bukankah ini sudah termasuk dari konsep WFC?” ucap Irving lagi.

Menurut Irving, Sultan Raja Kecik mengedepankan konsep WFC tidak terlepas dari pemikiran Islami, karena didalam Al Quran ada sejumlah ayat yang menjelaskan tentang air sebagai sumber kehidupan.

Tidak salah kalau Sultan Raja Kecik disebut Sang Visioner, ujar Irving, bila dilihat dari prilakunya dalam membangun dan mengembangkan kawasan kerajaan pada masa lalu. “Dalam pemerataaan pembangunan Beliau membuat pusat pemerintahan dengan pola berpindah- pindah dari Buantan ke Mempura, lalu ke Kota Tinggi bahkan sampai ke Pekanbaru. Dalam membangun Beliau sudah menggunakan model pembuatan Suak yang kita kenal saat ini dengan istilah seperti Drainase, Canal Blocking atau Parit Gajah. Bahkan dalam Konsep tata kota beliau juga telah menerapkan konsep Water Front City,” ujarnya penuh semangat.

.

Pewarta : Syam Irfandi

Filed in

Arwinda mantap duduk di parlemen Kota Pekanbaru periode 2019 – 2024

Telah berpulang, Muhammad Fadri AR mantan anggota DPRD Pekanbaru

Related posts