Natuna, I’m Coming

  • Whatsapp

.

Oleh Rosyita Hasan

.

Terpaan angin memainkan bagian ujung jilbabku saat menuruni tangga pesawat di Lanud Raden Sadjad. Rasa syukur terlontar dalam kalimat Hamdalah yang terucap berlahan dari mulutku saat kaki menjejak tanah Natuna untuk pertama kali.

Sedetik kemudian aku membaur mengikuti irama langkah penumpang lain menuju terminal kedatangan,  sambil mengitari keadaan di sekeliling hingga tertumpu pada pasak bumi yang tertancap  gagah menyerupai kerucut raksasa.

“Itu namanya Gunung Ranai,” ujar salah seorang penumpang yang beriringan denganku, seakan memberikan jawaban.

Tak mau kehilangan momen, aku berhenti sejenak menikmati pemandangan penuh pesona yang terpapar di hadapan mata. Jiwa petualang mulai berandai- andai, berkhayal dapat terbamg ke puncak Ranai saat itu juga, namun buyar ketika telepon selularku berdering.

“Hallo, Kak Syita, ya? Ini Ujang. Kakak sudah mendarat?” ujar suara dibalik speaker  telepon genggamku dengan dialek khas Natuna menyapa seraya memperkenalkan diri.

“Ya, saya sudah sampai, sebentar lagi keluar dari terminal,” ujarku kembali bergegas menuju pintu kedatangan.

Ujang, kontak pertama yang direkomendasikan teman- teman di Batam adalah wartawan media lokal. Meski baru kenal, keramahannya seolah menggambarkan sifat umum masyarakat Natuna.

“Kita harus bergegas ke Rumah Sakit Umum Natuna, ada korban kekerasan,” demikian ucapan singkat Ujang mengawali perjalanan kami keluar dari area lapangan udara milik TNI AL itu sambil memacu sepeda motornya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *