Nelayan, oh, Nelayan

  • Whatsapp

.

Oleh Rosyita Hasan

.

Hiruk- pikuk Pasar Ranai telah berubah senyap seiring perjalanan matahari yang meninggalkan poros tengah cakrawala menggelincir berlahan mengurangi redupnya, sementara aku baru saja melangkah keluar dari satu- satunya pasar di Ibu Kota Kabupaten Natuna itu, setelah mengumpulkan data sebagai bahan tulisan untuk reportase ekonomi ke kantor pusat.

Hari- hari awal di Natuna memaksaku lebih mengenal setiap sudut kota Ranai sebagai upaya menambah perbendaharaan informasi pendukung kegiatan jurnalistik, terutama sisi sosial dan budaya masyarakat setempat dengan segala kearifan lokalnya, karena mesti dipelajari dengan cepat sebagai proses adaptasi lingkungan yang kujalani.

“Mbak Syita kerja dimana?” ujar pak Madji (50), orang pertama yang kukenal di salah satu tempat berkumpul nelayan tradisional, tepatnya di pinggir Pasar Ranai, dekat pelabuhan.

“Di ANTARA, pak,” jawabku.

“Oh, itu kantor berita Indonesia, kan?” ujarnya sambil terus memainkan jemarinya menjahit jala ikan yang rusak.

Heran juga aku, tak percaya seorang nelayan menyebutkan instutisi tempat aku berkerja dengan tepat.

“Setahu saya, ANTARA itu memang kantor berita Indonesia, karena setiap mengisi teka- teki silang, sering ada pertanyaan, apa nama kantor berita Indonesia. Kalau jumlah kotaknya enam, baik mendatar atau menurun, ya, jawabannya pasti ANTARA, lah,” ujar pak Madji sambil terkekeh merasa menang seolah menjawab keherananku.

Sore itu, menjadi perbincangan hangat dan sangat menarik. Pak Madji yang menghabiskan setengah hidupnya di laut ini,  berasal dari Pulau Laut, yaitu salah satu pulau terdepan di gugusan Natuna yang berbatasan langsung dengan Vietnam.

“Kalau difikir, kami ini ibarat nelayan dengan nasib menyedihkan,” lisannya mulai berujar dengan kata- kata lirih.

Aku tidak berani menyela seketika, kubiarkan ia melanjutkan cerita yang seakan ingin mengungkapkan sebuah kisah terpendam. Menjadi pendengar yang baik adalah keputusan tepat agar tidak merusak momen bertuturnya sambil mempertajam ingatan agar mudah terekam di kepala, kemudian baru dituangkan diatas keyboard laptop nanti malam. Hanya itu yang terfikir di benakku.

Ia bercerita kalau satu atau dua kali dalam sebulan, kapal-kapal nelayan asing akan berkumpul dan berlabuh di tengah laut pada malam hari. Mereka berpesta dengan lampu terang benderang, bagai memindahkan sebuah kota di tengah laut di perairan Natuna. Dalam pesta itu, mereka menghela jala- jala raksasa penuh ikan ke dalam kapal masing- masing, lalu menjelang subuh, semuanya menghilang membawa hasil tangkapan keluar wilayah NKRI.

“Ini saya saksikan bertahun- tahun. Mau bagaimana lagi? Untuk menangkap mereka bukan hal senang. Bila dikejar tidak akan terlawan karena kapal mereka lebih cepat dari milik nelayan di sini. Tak ditindak mereka pasti merusak peraian kita sebab alat tangkap mereka tidak sesuai dengan aturan pemerintah kita,” ujarnya sambil menghembuskan asap rokoknya yang sekejap lenyap dibawa angin laut.

Untuk meyakinkan ceritanya, aku diminta bermalam di Kampung Pulau Laut, atau pulau lain yang berdekatan, yaitu Pulau Sekantung dan Semiun. Dengan kasat mata pasti akan menyaksikan pesta pora nelayan asing menjarah ikan Natuna.

Lelaki bertulang tegap itu semakin lancar berceloteh tentang kurang beruntungnya nasib nelayan perbatasan, meskipun usia Kabupaten Natuna sudah mencapai 12 tahun kala itu, namun belum terlihat perubahan berarti nasib nelayan tempatan.

“Saya berharap, anak cucu kelak tidak lagi melihat pemandangan  kerlap-kerlip lampu kapal nelayan asing di tengah lautan. Itu seakan mengejek bangsa yang terkenal dengan semboyan ‘nenek moyangku seorang pelaut’ ini,” ujarnya berharap sembari berdoa.

Tidak hanya Pak Madji yang punya harapan serupa, hal senada juga diucapkan Pak Weh (47). Pelaut di Pelabuhan Penagi  ini menelan kekecewaan terhadap kondisi nelayan Natuna yang semakin menyedihkan.

“Hasil tangkapan kami semakin menurun dari waktu ke waktu,” katanya sambil bercerita mengenang kejayaan Kampung Penagi masa lalu, sebagai pelabuhan bongkar muat pertama di Pulau Bunguran Timur, dengan hasil tangkapan ikan berlimpah ruah.

Baginya, hal mustahil bersaing dengan nelayan asing yang bercokol di Natuna, selain kapal mereka telah dilengkapi alat navigasi canggih, bobot kapal juga lebih besar dari apa yang dimiliki nelayan setempat.

Tak dapat dipungkiri, ujar Pak Weh, penurunan tersebut erat hubungannya dengan pencuri dari negara seberang. “Kami bak penonton, sementara orang-orang asing itu bebas mengeruk hasil perikanan kami,” ujarnya sambil memandang nanar ke hamparan laut biru negeri yang dulu dikenal sebagai Pulau Tujuh ini.

“Hingga hari ini pemerintah seakan tidak peka dan membiarkan saja persoalan nelayan, negeri ini perlu pelabuhan yang dapat menjawab kebutuhan nelayan. Entahlah, andai saja impian ini bisa terwujud,” ujarnya pasrah sambil menhela nafas tipis.

Kenyataan lain, terkait alat tangkap tak standar milik nelayan asing, juga dikeluhkan Atan (34), nelayan asal Kecamatan Pulau Tiga yang ikut nimbrung bersama kelompok kecil kami.

Cerita Atan, kapal asing tersebut berkamuflase menggunakan bendera Indonesia saat melaut. Mereka memiliki perahu semut yang mengoperasikan alat tangkap petrol untuk menarik ikan- ikan yang berada di bawah empat mil, sehingga merusak alat tangkap rawai yang dipasang nelayan lokal.

“Sudahlah mencuri ikan, rawai kamipun ikut mereka rusak. Entahlah, bagaimana nasib kami,” keluh Atan seolah putus asa.

Belum lagi ketika musim utara, dengan rentang waktu awal Oktober hingga Januari, gelombang laut bisa capai delapan meter, adalah mustahil bagi nelayan lokal melaut. “Hanya kapal asing dengan kerlap- kerlip lampunya yang mampu menjelajah pada malam hari menebar jala modern,” imbuh Atan seraya meletakan telapak tangan kanan menutup keningnya.

Demikianlah celoteh nelayan tradisional di negeri terdepan bagian utara Indonesia ini mengisi soreku. Hampir dua jam berbual dengan mereka membuat pinggul mulai terasa pegal karena terlalu lama duduk. Setelah sedikit basa- basi, akupun berdiri dan langsung berpamitan. Kusalami mereka satu per satu sebelum meninggalkan tempat itu.

Dari cataan hasil wawancaraku dengan otoritas Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Natuna, data kasus illegal fishing sepanjang 2010, mencapai 108 kasus didominasi kapal nelayan asing asal Vietnam, Thailand, Cina dan Malaysia. Sementara kerugian negara pada 2010 mencapai Rp30 triliun dan turun menjadi Rp18 triliun pada 2011 dengan jumlah delapan kasus saja.

Mata ini tak hendak terpejam meski posisi tidur telah kuatur senyaman mungkin. Obrolan sore tadi terus mengisi hampir setiap ruang berfikirkku. Tidak hanya tangkapan nelayan tradisional yang berkurang, namun hayati bawah laut akan tergerus hingga mencapai tingkatan kerusakan terparah bila tidak ada penanganan serius dari pihak- pihak terkait. Sesak dada ini seketika demi membayangkan kerusakan terparah itu seperti apa.

Aku paham betul kalau sudah bicara soal biota laut, karena latar belakang pendidikanku memang berurusan dengan hal- hal seperti itu, jadi wajar bila rasa galau yang muncul menciptakan iritasi baru dalam benakku.

Menit- menit terakhir, menjelang jam digital yang kuletakkan diatas meja samping tempat tidur berganti ke angka 00.00,  otakku mulai stagnasi berfikir. Cahaya lampu jalan yang merambat masuk melalui ventilasi udara jendela kamar, berlahan mulai mengabur sering lelahku yang terperangkap dalam buaian mimpi.

(bersambung)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *