Affendi Buang : Belum ada hal mendesak menempatkan kembali anggota ATM di Cox’s Bazar

  • Whatsapp
Panglima Angkatan Tentara Malaysia (ATM) Jenderal Tan Sri Affendi Buang (Foto : Lim Huey Teng/ malaysiakini.com)

Kuala Lumpur (Outsiders) – Belum terlihat hal mendesak untuk menempatkan kembali anggota Angkatan Tentara Malaysia (ATM) di Rumah Sakit  (RS) Medan Malaysia di Cox’s Bazar  Banglades  usai penyelesaian tugas, menyusul pandemi Covid-19 beberpa waktu lalu.

Bacaan Lainnya

Dikutip dari Bernama, Panglima ATM Jenderal Tan Sri Affendi Buang menyebutkan langkah tersebut dinilai sudah tepat karena fasilitas kesehatan yang dibangun  di sana sangat memadai dan lengkap.

 “Dulu, ketika tentara Malaysia ditugaskan di sana, tidak banyak negara lain yang mengulurkan bantuan fasilitas kesehatan, makanya RS  Medan di bina dan diambil alih oleh kami,” demikian dikatakan Affendi Buang kepada wartawan di Wisma Pertahanan.

Keberadaan RS Medan, lanjut Affendi, bertindak sebagai garda kesehatan pada masa itu. Meskipun tergolong sederhana namun cukup mumpuni untuk mengatasi masalah kesehatan penggunanya.

Kata Affendi, keadaan sekarang semakin membaik karena sudah banyak lembaga non pemerintah (NGO) yang terlibat memberikan dukungan dan bantuan di kamp pengungsian Rohingnya tersebut.

“Saat ini fasilitas sudah semakin membaik dan satu sisi,  pengabdian tentara kita tidak lagi diperlukan di sana. Bila memang diminta, tentu saja akan tetap di sana, namun belum terlihat fungsi yang signifikan untuk menempatkannya kembali,” ujar Affendi.

Juni 2020 lalu, Kerajaan membuat keputusan agar pengoperasian tentara di RS Medan di Banglades dihentikan sebagai langkah pencegahan penyebaran pandemi Covid-19.

 “seluruh tentera yang bertugas di sana telah dipulangkan dan bila dinilai masih dibutuhkan, kembali akan ditugaskan apabila pandemi ini berakhir,” ucap Affendi.

Sebagai info, Kerajaan Malaysia membangun RS Medan di Kamp pengungsian Cox’s Bazar, Banglades pada Desember 2017 untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi ratusan ribu pengungsi etnis Rohingnya yang melarikan diri ke bagian tenggara Banglades pasca konflik sara di Myanmar beberapa waktu lalu.

Editor : Syam Irfandi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *