Sampah bukan masalah, tapi berkah

  • Whatsapp
Hazriani, S.Pi. (foto: istimewa)

Ditulis dalam rangka 2 tahun Komunitas Kehati dan Lingkungan

Oleh : Hazriani, S.Pi *)

Keseharian sebagai ibu rumah tangga tidak akan lepas dari sisa pakai atau sisa konsumsi. Adalah hal penting untuk merubah pola pikir dan menanamkan di lubuk hati  bahwa sisa konsumsi itu bukanlah sampah, melainkan sesuatu yang harus dikelola agar memeliki nilai manfaat bagi manusia dan lingkungan hidup, karena sebenarnya “sampah bukanlah masalah,  melainkan berkah.”

Bicara soal sampah, selalu terpatri dalam benak bahwa material tersebut akan menjadi masalah bila tetap berada di dalam rumah dalam waktu lama, sehingga perlu disiasati agar segera dikeluarkan atau dibuang sejauh mungkin. Namun,  tidakkah terpikirkan setelah keluar dari rumah justru akan menimbulkan masalah bagi orang lain dan lingkungan hidup? Apalagi dalam kondisi bercampur antara sisa konsumsi basah dan kering. Seluruhnya akan bertumpuk menjadi satu di tempat pembuangan sampah (TPS) hingga akhrinya menggunung.

Tidak dapat dipungkiri kondisi tersebut akan memunculkan problematika lingkungan yang sangat berpengaruh kepada kesehatan masyarakat dan hayati disekitarnya. Agar tidak bekelanjutan, sangat penting untuk mengubah pola fikir bahwa sampah sebenarnya bukan masalah, dan setiap orang harus berhenti menjadi kontributor penumpuk sampah di TPS.

Langkah awal untuk mengubah kebiasaan tersebut yang pertama sekali dilakukan adalah menanamkan keikhlasan hati agar bisa berbuat baik bagi bumi dan mahkluk hidup lainnya. Kedua, katakan bahwa mengelola sampah itu mudah dan ketiga, sampah adalah berkah di masa mendatang.

Bila telah menanamkan keikhlasan untuk berbuat baik kepada bumi dan seluruh mahkluk hidup, insha Allah akan berbuah kebaikan meski tidak langsung di terima di dunia ini. Begitu juga bila otak telah didoktrin bahwa mengelola sampah sebenarnya adalah hal mudah, maka secara langsung akan menstimulan seluruh anggota tubuh untuk bergerak melaksanakan pekerjaan sesulit apapun, terutama dalam mengelola sisa konsumsi untuk dijadikan sesuatu yang bermanfaat.

Mulailah mendaur ulang sisa konsumsi dengan melakukan hal sederhana, misalnya memisahkan material organik atau sampah basah dan non organik atau sampah kering. Jangan tunda lama-lama. Segera lakukan langkah- langkah ringan berikut ini:

A. Mengelola sisa konsumsi organik

  1. Siapkan tempat atau wadah untuk sisa organik/ sisa konsumsi yang basah   seperti ember, bekas tong cat, dan walah lain yang ada tutupnya serta botol bekas air mineral.
  2. Wadah bisa di lubangi bagian bawahnya bisa juga tidak. Untuk wadah yang di lubangi kita akan panen kompos cair setiap saat dengan cara menampung air lindi (cairan yang keluar dari sisa organik). Bila wadah tidak di lubangi, kita akan mendapatkan kompos cair dalam waktu tertentu, di kenal dengan Pupuk Organik Cair (POC) dan Ecoenzym.
  3. Siapkan botol bekas air mineral 600 ml .  
  4. Siapkan gula merah,   air cucian beras untuk mengaktifkan EM4.
  5. EM4 (bisa dibeli di toko pertanian) atau Efektif Microorganisme 4 adalah bio activator yang membantu mempercepat proses pengomposan dan mengurangi bau pada material sisa. Aktifkan EM4  dengan cara :  masukkan  tiga perempat air cucian beras ke dalam botol mineral lalu tambahkan EM4 2 tutup botol dan gula merah yang encer 3 tutup botol, lalu aduk dan simpan di tempat teduh. Setiap hari tutup botolnya di buka dan bisa di gunakan setelah 4 jam di aktifkan.
  6. Sisa konsumsi organic seperti sisa buah, sisa sayur, sisa makan yg tidak berprotein kita masukkan ke dalam ember. Setiap memasukkan sisa organic ke ember tambahkan EM4 yang aktif. Lakukan setiap hari.
  7. Sementara sisa konsumsi yang mengandung protein akan di kompos dengan cara masukkan ke lubang biopori. Buat lubang di pekarangan rumah atau di bawah pohon/ bagian pekarangan yang selalu menggenang sedalam kurang lebih 50 cm. Masukkan material organic protein kedalam lubang tersebut, tutup kembali dengan tanah atau penutup besi yang diperkirakan tidak akan di ganggu oleh binatang piaraan, spt ayam, anjing dan kucing. Sisa organic akan menjadi kompos secara alami dalam waktu 1 bulan atau lebih tergantung besar kecilnya material.

B. Mengelola Sisa Non Organik

  1. Siapkan tempat/ wadah kering sesuai dengan jenisnya untuk mengumpulkan kemasan seperti bungkus deterjen, pewangi, mi instan, kopi, permen, kresek dan lain sebagainya.   Jenis kemasan ini sekarang belum laku di jual, tapi kita bisa mengelolanya menjadi kerajinan seperti bunga dari kantong kresek, tas belanja, ecobrick yang bisa dikelola bersama di Bank Sampah.   Kardus, kaleng, besi bisa dijual atau disedekahkan kepada Bank Sampah (Pengelolaan Sampah di Bank Sampah).
  2. Sisa anorganik yang terkelola dengan baik akan menghasilkan karya seni ,     bernilai ekonomis dan ekologis.

Apa yang dikampanyekan pemerintah untuk menjaga lingkungan dengan mengambil manfaat dari sampah sudah tepat, namun perlu digerakkan peran serta masyarakat sebagai pendukung utama kegiatan tersebut.

Seperti dilakukan Komunitas Kehati dan Lingkungan (KKL)  Kabupaten Natuna, saat ini fokus kepada kegiatan sosial lingkungan, terutama mengajak masyarakat berperan aktif untuk mengelola sampah melalui edukasi serta bimbingan teknis secara berkesinambungan, sehingga masyarakat tidak merasa bahwa pengelolaan sampah itu bukan sekedar serimonial dan teori saja, namun kedepan dapat menjadi sumber penambah  pundi- pundi rupiah. Dengan kata lain, lingkungan bersih, pekarangan subur dan pengeluaran belanja dapur terukur.

Melalui tulisan singkat ini, diharapkan setiap masyarakat tidak menunda lagi untuk mengatasi permasalahan lingkungan hidup, khususnya terkait sampah. Secara sederhana telah digambarkan proses dari hulu ke hilir, yaitu bagaimana mengelola sampah rumah tangga sebagai bagian hulu, selanjutnya setelah menjalani proses, Insha Allah akan memetik manfaatnya di hilir. Semoga bermanfaat.

*) Hazriani, S. Pi adalah  Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Natuna serta Ketua Komunitas Kehati dan Lingkungan (KKL) Kabupaten Natuna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *