Perawan Pingitan Wisata Baru Indonesia

  • Whatsapp
Ilustrasi : Google Map

JAKARTA – Pejantan yang menarik justru karena terisolasi oleh lautan luas. Ada perbedaan mendasar cara manusia menikmati privasi kehidupan yang mendasar pada masyarakat modern di perkotaan dan di pedesaan. Bagi masyarakat urban dan pedesaan, maka mengunjungi pusat pusat hiburan, mengunjungi tontonan konser, melihat pameran mobil, belanja di pusat perbelanjaan modern, menaiki gedung gedung pencakar langit, makanan makanan santai cepat saji ala junkfood merupakan pengalaman tersendiri yang akan menjadi oleh-oleh cerita di kampung halaman.  

Tapi sebaliknya sungguh jauh berbeda bagi masyarakat kota yang metropolis. Hiruk pikuk kehidupan yang sesak, tata kelola ekonomi yang menyibukan, orang yang secara mandiri disibukan dengan komputer dan tumpukan kertas, transportasi pulang kantor dan sekolah yang sesak adalah sesuatu yang menjenuhkan, membosankan dan menyebalkan. 

Mereka yang metropolis justru ingin juga sesekali, bila ada kesempatan untuk menikmati kehidupan alam natural seperti berada di hutan, di laut, dan di desa dengan kehidupan tradisional yang dikelola secara  konvensional. Tentu dengan adat budaya dan tradisi lokal yang terpelihara baik. 

Dan bagi negara tetangga Indonesia yakni Singapura yang sangat metropolis. Hutan, laut, dan pulau di kepulauan luar Indonesia adalah tempat yang tepat untuk pemenuhan rekreasi batin. Mereka mencoba menikmati kehidupan tradisional dan kontroversial dengan hiruk pikuk kehidupan keseharian mereka.

Diluar konteks kemajuan pembangunan bangsa dalam sebuah negara kecil, negara kota, masyarakat yang menghuni pulau kecil metropolis memang sejatinya banyak kesamaan tipikal daratan Indonesia dan Singapura.  Seperti teori klasik tentang bersatunya pulau-pulau di Asia sebelum jaman es mencair dimuka bumi dapat dijadikan logika sederhana nir akademis untuk komparasi menikmati seni keindahan alam metrpolis dan tradisional itu.  

Bisa dibayangkan oleh masyarakat Singapura, mungkin Singapura yang jaman dulu disebut Temasek itu mungkin pulaunya persis sama dengan Pejantan. Namun kemajuan pembangunan dan ekonomilah yang membuat mereka sekarang menjadi hutan gedung. 

Nah, seperti yang penulis sampaikan terdahulu bahwa perbedaan suasana alam natural itu salah satunya adalah yang ada di pulau Pejantan. Sebuah pulau kecil yang luasnya hanya 927, 34 ha yang dihuni tidak lebih dari 12 Kepala Keluarga bersuku Melayu dan berprofesi sebagai nelayan tradisional. 

Sebuah pulau kecil yang terisolasi oleh lautan dan pulau-pulau besar Kepulauan Riau. Apakah pulau ini dapat dikategorikan sebagai pulau terindah yang dimiliki Indonesia? Penulis kira jawabannya “Iya” atau “Bisa”. Bagaimana iya dan bisa? Ya tentu karena selama ini publik tidak banyak tahu bahwa pada tanggal 23 Januari tahun 2017 beberapa tahun lalu, ada arahan khusus Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya memerintahkan tim khusus Balitbang LKH untuk melakukan explorasi pulau pejantan untuk membuat Kajian Keanekaragaman Hayati Pulau Pejantan yang dituangkan dalam Surat Keputusan Kepala BLI no.Sk.5/Litbang/P3H/REN.2/1/2017. 

Kegiatan tersebut dilakukan oleh Menteri bukanlah kegiatan dadakan, ini lebih sebagai bentuk respon terhadap publikasi Infitute of Critical Zoologist – ICZ pada laman www.criticalzool gist.org yang merupakan paper report penelitian Dr. Darrel Covman yang mengekspos 350 spieces keanekaragaman hayati baru di Pulau Pejantan yang telah mereka lakukan terlebih dahulu.   

Akhirnya BLI mengeluarkan catatan bahwa di Pulau Pejantan ada ekosistem unik tentang mangrove (Bruguiera dan Rhizophora) serta nipah yang masih terpelihara secara alami. Begitu pula ekosistem hutan pantai, disitu ditemukan pohon bintaro, nyamplong, pongamia ketapang, bungun, pandan laut, bakung dan waru laut serta hamparan pohon kelapa yang ditanam oleh penduduk setempat. Ada juga pohon hutan daratan jenis Diterocarpaceaea yang sama dengan Kalimanian. Di Pulau Pejantan juga ditemukan aliran air tawar yang sangat baik.

Masih dalam catatan BLI bahwa Pulau Pejantan juga memiliki tipikal ekosistem-ekosistem lain yang tidak kalah unik, yaitu adanya batu granit.  Ada apa granit? Karena pada umumnya diatas batu kapur biasanya terdapat ekosistem karst, nah ini agak aneh, batu Granit. Juga biasanya pohon bersimbiosis dengan mikoriza, lalu apa yang tahan tumbuh di batu atas granit?

Dalam sebuah tulisan penulis juga menemukan catatan bahwa diperlukan penelitian khusus, khususnya di dataran rendah karena di dataran rendah Pejantan ditemukan juga jenis kayu hitam, dengan sedikit perbedaan, yang sejatinya pohon ini merupakan pohon endemik Sulawesi. Peneliti menganggap bisa jadi ini adalah jenis Dipterocarpaceae spesies baru yang belum pernah ditiemukan.

Bagaimana dengan keunikan pulau lain seperti Tambelan dan Badas?

Bagi warga negara Indonesia khususnya masyarakat Kepulauan Riau yang sedang berada di Singapura, mungkin pernah melihat brosur travel Indonesia, misalnya tour Tambelan dan Badas Islands yang digagas oleh Agency Parawisata Singapura.  

Pulau-pulau yang dimata publik Indonesia tidak popular, bahkan hampir tidak terlihat di peta tanpa pembesaran di carvak map ternyata bagi masyarakat Singapura pulau-pulau ibarat cerita hikayat putri cantik perawan pingitan pada “Ancient Stories” atau cerita saur sepuh. Begitu menarik dan menggoda masyarakat metropolis tetangga.

Gugus kepulauan Tambelan memiliki plot-plot pulau besar dan kecil, yang terbesar adalah pulau Tambelan besar yang jalanannya sudah Fully Hotmix yang bagus dan mulus menuju kesetiap penjuru pulau sampai keatas bukit dimana dari situ pengunjung dapat melihat panorama alam dari ketinggian. Bagi yang mempunyai hobby motor touring atau gowes tempat ini cocok untuk menjadi tujuan. Apalagi sambil menikmati kuliner laut yang tersebar di setiap restoran yang tersebar di pulau ini.

Bagaimana dengan kehidupan bawah dan atas permukaan lautnya?

Tentu ini akan sangat menarik. Pertama, sangat sedikit terlihat nelayan tradisional melaut disana. Kedua, ada batas tegas biru tua dan biru muda keputihan membentuk rangkaian seperti renda-renda kain sulaman yang menandakan bahwa ada kehidupan hayati bahwa laut yang masih sangat alam. Disana terbentang dinding karang wall dan slove yang pasti menyajikan aquarium raksasa, karang-karang, ikan-ikan plagis sampai ke pigmy dan nemo. Tentu tempat ini cocok untuk kegiatan free diving, diving dan snorkling.   

Ketiga, selain bawah laut pengunjung juga akan dikejutkan dengan tampilan satwa permukaan, ribuan camar yang mencicit, menjerit, menyambar-nyambar permukaan laut. Burung paruh panjang yang menukik menghujam tajam ke bawah permukaan laut sebagai indikator betapa banyaknya ikan di laut sana.
Sehingga wajar kalau negara tetangga Singapura menjadikan pulau-pulau ini sebagai obyek bisnis yang sangat menghibur dan menggiurkan guna menghilangkan kepenatan warga negara kota yang sangat metropolis. 

Seperti saat penulis terima dari seorang sahabat sebuah copyan jadwal tour. Penulis mencoba membayangkan keindahan panorama Kepulauan Tambelan dengan membaca sekilas rencana perjalanan Tour dari negara Singapura tersebut, misalnya hari pertama jam 08.00 berangkat dari ONE 15 Marina Club, Singapura ke Nongsa Point Marina, Batam, Indonesia (3 jam) kemudian dilanjutkan makan siang di pelabuhan, urusan Imigrasi dan Bea Cukai di Nongsa Point Marina. Selanjutnya berangkat dari Nongsa Point Marina ke Tambelan Islands dengan perjalanan 40 jam.  Hari ke-2 berlayar ke Kepulauan Tambelan, makan, tidur, ikan, berlayar. Hari ke-3 pukul 07.00 am tiba di Pulau Uwi berenang, snorkeling dan kayak di Pulau Uwi 12.00 am berangkat dari Pulau Uwi ke Pulau Ibul dengan estimasi perjalanan satu jam untuk berenang, snorkeling, diving di Pulau Ibul.

Adapula penulis menemukan catatan agenda tour Ximula sailing  Charter Highlights yang isinya ;

40 hours of sailing without any stopovers (sailing overnight)
Possible sightings of dolphins and schools of tuna
Exploring Pulau Tambelan Besar’s bustling fishing town and a secret beach by foot / motorbike 
Visit to the local fishing villages at Badas Islands
Plenty of snorkeling and diving spots with unblemished corals and abundant marine life

Apa artinya semua ini? 

Pejantan, Tambelan dan Badas adalah destinasi parawisata dunia alam yang memiliki ekonomi tinggi. Memang di dalam negeri dia belum dikenal secara meluas. Tapi bagi negara tetangga Singapura dia adalah syurga kecil di laut yang terpisah dan layak mereka jual. Ingatlah Pejantan, Tambelan dan Badas adalah Perawan Pingitan. Dia adalah Gerbang Parawisata Baru Indonesia.

Ditulis oleh Koordinator Kelompok Ahli Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Hamidin Aji Amin

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *