Eksotisme Candi Cangkuang di Kampung Pulo Jawa Barat

  • Whatsapp
Candi Cangkuang, Kampung Pulo, Garut, Jawa Barat (Dok. Pribadi)

Candi Hindu di Garut? Sebuah pertanyaan besar seketika muncul dikepala. Bisa jadi pertanyaan itu mendadak hadir di benakku karena selama ini aku hanya mendengar kemegahan candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Wow, ini menarik,” demikian kata hatiku. Harus ke sana sesegera mungkin.

Singkat cerita bersama istri dan kedua anak balitaku,  kami meluncur dengan kendaraan roda dua menuju lokasi dengan jarak tempuh sekitar 40 kilometer dari kediaman kami, namun sebelum mencapai gerbang situs bersejarah tersebut yang terletak di seputaran wilayah Kecamatan Leles, Garut, aku sempat berhenti untuk membeli bekal Nasi Padang dari sebuah warung sebagai bekal penambah energi.

Profil Candi Cangkuang     

Candi Cangkuang namanya, merupakan sebuah candi hindu yang diperkirakan dibangun pada abad ke-8, ditemukan oleh tim peneliti Prof. Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita serta mahasiswa IKIP Bandung (sekarang UPI bandung) pada tahun 1966, berdasarkan catatan Vorderman, seorang warga Belanda yang pernah menetap di Garut dan mencatatkannya dalam buku Notulen Bataviaasch Genotschap terbitan tahun 1893. Catatannya menyebutkan bahwa di Desa Cangkuang Garut terdapat benda kuno berupa patung Dewa Siwa disertai dengan reruntuhan bangunan dan makam Embah Dalem Arif Muhammad, seorang tokoh penyebaran agama Islam di daerah ini. Namun sangat diakungkan, belum ditemukan adanya keterangan jelas siapa atau kerajaan apa yang membangun candi karena tidak ditemukan prasasti yang mencatatnya, namun ahli purbakala memperkirakan dibangun pada abad ke-8.

makam Mbah Arif Muhammad, yang terletak di situs Candi Cakuang (Dok. Pribadi)

Penelitian awalnya menemukan adanya batu yang merupakan fragmen dari sebuah bangunan candi dan di sampingnya ditemukan pula sebuah makam kuno serta sebuah arca Siwa yang terletak didalam candi tersebut dengan kondisi yang sudah rusak dan tanpa lengan. Lokasi temuan ini di bukit Kampung Pulo Desa Cangkuang Kecamatan Leles Kabupaten Garut.

Candi Cangkuang bagi Propinsi Jawa Barat merupakan aset dan temuan penting dalam bidang kebudayaan maupun sejarah, dan tercatat sebagai candi pertama yang dipugar. Setelah selesai pemugarannya candi ini memiliki ukuran tinggi 8,50 meter dan kaki dasar bangunannya 4,50 meter X 4,50 meter. Di dalam candi tersebut terdapat ruang dengan ukuran 2,20 meter X 2,20 meter X 3,38 meter dan patung Dewa Siwa dengan tinggi 62 cm, di bawah patung konon terdapat lubang yang tertutup sedalam 7 meter, namun akung pengunjung tidak dibenarkan memasuki ruangan dalam candi dan melihat keberadaan lubang tersebut.

Asal mula nama Candi Cangkuang diambil dari nama sebuah desa yaitu Desa Cangkuang di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Wisata cagar budaya candi ini terdapat di suatu pulau kecil di tengah danau yang juga disebut sebagai situ (danau) Cangkuang. Kata ‘cangkuang’ merupakan nama tanaman sejenis pandan (pandanus furcatus) yang banyak terdapat di sekitar candi. Manfaat sekitar biasa memanfaatkan daun cangkuang untuk membuat tudung, tikar atau pembungkus gula aren. Sejatinya pulau kecil tempat lokasi candi ini bukanlah pulau yang sebenarnya, tapi berupa daratan yang terpisah oleh situ (danau) sehingga menyerupai sebuah pulau.

Situ cangkuang sendiri merupakan bendungan yang diinisiasi oleh Embah Dalem Arif Muhammad dan pengikutnya yang telah membendung daerah ini, sehingga terbentuk sebuah danau dengan nama Situ Cangkuang. Setelah bendungan selesai dibangun, maka dataran yang rendah menjadi danau, dan bukit-bukit menjadi pulau-pulau. Pulau tersebut antara lain Pulau Panjang (dimana Kampung Pulo berada), Pulau Gede, Pulau Leutik (kecil), Pulau Wedus, Pulau Katanda, dan Pulau Masigit.

Kampung Pulo dan Mbah Dalem Arif Muhammad

Kampung Pulo merupakan perkampungan kecil yang mana pada mulanya masyarakat Kampung Pulo memeluk agama Hindu, namun penduduk kampung ini kemudian memeluk agama Islam karena atas usaha Mbah Dalem Arif Muhammad yang menyebarkan agama Islam pada abad ke-17. Walaupun demikian masyarakat Kampung Pulo hingga saat ini masih melakukan beberapa kegiatan yang mengandung unsur agama Hindu. Misalnya adalah ketika berziarah ke makam Mbah Dalem Arif Muhammad yang berada persis di samping candi Cangkuang.

Gerbang komplek rumah adat Kampung Pulo (Dok. Pribadi)

Kampung Pulo memiliki beberapa keunikan, di antaranya yaitu tidak dibenarkan menambah bangunan lain selain 7  bangunan yang sudah berdiri sejak abad ke-17. Kemudian tidak diperbolehkan menabuh gong besar, memelihara hewan besar berkaki empat tidak diperbolehkan, serta tidak boleh ziarah pada malam Rabu dan hari Rabu. Seluruh penduduk Kampung Pulo merupakan generasi ke-8, ke-9, dan ke-10 dan keturunan asli dari Eyang Embah Dalem Arief Muhammad.

Menurut cerita pemandu, Mbah Dalem Arief Muhammad memiliki 7 anak, enam di antaranya adalah perempuan dan satu laki-laki. Jumlah bangunan rumah kampung Pulo menggambarkan jumlah anak yang dimilikinya ditambah dengan 1 bangunan Masjid adat Kampung Pulo yang berukuran tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan masjid pada umumnya. Keenam rumah saling berhadapan, 3 rumah di sebelah kiri dan 3 rumah dibagian kanan dengan bentuk bangunan serta atap yang sama memanjang dan lonjong. Enam anak perempuan menempati masing-masing 1 rumah sedangkan anak laki-laki menempati masjid.

Siapakah sebenarnya Mbah Dalem Arif Muhammad? Menurut catatan, beliau bernama Arif Muhammad atau Maulana Ifdil Hanafi yang berasal dari kerajaan Mataram. Arief Muhammad sendiri merupakan senopati yang ditugaskan oleh untuk menyerang Belanda di Batavia. Namun upaya penyerangan tersebut gagal dan justru mengalami kekalahan. Karena itulah Arif Muhammad memutuskan untuk tidak kembali ke Mataram. Bersama pasukannya Arief Muhammad menyingkir ke daerah Leles yaitu Cangkuang ini.  Di sini beliau menyebarkan agama Islam kepada masyarakat yang ketika itu masih ada yang animism dan juga memeluk agama Hindu. Beliau bersama dengan pengikutnya juga menginisiasi membuat bendungan yang saat ini dikenal dengan nama situ Cangkuang.

Bukti dari penyebaran agama Islam di daerah ini oleh Arief Muhammad tersebar di wilayah Garut dan sebagiannya tersimpan di museum kecil juga berfungsi sebagai pusat informasi yang berada di samping candi Cangkuang. Pengunjung dapat menyaksikan kulit kayu dan kulit domba yang bertuliskan aksara arab. Juga terdapat Al-Quran, Fiqh, Tauhid, dan naskah khutbah Shalat Jumat peninggalan Arif Muhammad serta foto-foto proses penggalian candi Cangkuang. Penasaran dengan tanaman cangkuangnya? Jangan khawatir, di halaman museum ini terdapat pohon cangkuang tersebut.

Menuju Lokasi

Desa Cangkuang dikelilingi oleh empat gunung besar di Jawa Barat, yang antara lain Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi dan Gunung Guntur. Untuk mencapai lokasi Candi Cangkuang dapat menggunakan rakit. Selain candi, di pulau itu juga terdapat pemukiman adat Kampung Pulo, yang juga menjadi bagian dari kawasan cagar budaya. Objek yang bagus dan layak diabadikan bagi siapa saja yang menyukai wisata sejarah dan budaya serta mengabadikan perjalanan dalam bentuk foto bersama keluarga dan orang-orang terdekat.

Sisi lain kawasan Kampung Pulo yang tak kalah menarik (Dok. Pribadi)

Mencapai lokasi candi Cangkuang cukup mudah, dari Alun-alun Leles hanya dibutuhkan waktu sekitar 5 menit berkendara. Bagi pengunjung yang tidak membawa kendaraan tidak perlu khawatir disekitaran Alun-alun banyak terdapat ojek atau andong dengan tarif Rp.5000-10.000 saja. Harga tiket masuk Candi Cangkuang sangat terjangkau, hanya Rp.5.000/orang. Untuk parker kendaaraan hanya Rp.2.000/sepeda motor dan Rp.5.000/mobil. Sedangkan untuk menggunakan jasa rakit cuma Rp.5.000/orang pergi-pulangnya. Wisata Candi Cangkuang dan Kampung Pulo sendiri buka setiap hari mulai pukul 08.00 – 16.00 WIB. Waktu terbaiknya datanglah pada pagi hari sehingga punya waktu untuk merasakan pesona situ Cangkuang, kampong Pulo, candi Cangkuang dan makam Embah Dalem Arif Muhammad. Untuk oleh-oleh tidak perlu khawatir, disekitar pintu masuk terdapat banyak penjual oleh-oleh khas Garut sebagai cenderamata berbentuk barang-barang seni dan makanan tradisional Garut seperti dodol dan burayot.

Menikmati eksotisme situ dengan beragam aktivitas masyarakat setempat sekitar akan semakin terasa indah sembari ditemani makanan khas Garut, yaitu dodol garut ataupun burayot yang sudah terkenal akan kelezatan dan aromanya. Duduk santai dipinggir situ dengan cemilan yang menggugah selera dan secangkir kopi akan terasa semakin nikmat dengan pemandangan rakit bambu yang membawa pengunjung menuju pulau Panjang dimana kampong Pulo dan candi Cangkuang berada serta dikelilingi panorama gunung, dan rasakan keramahan masyarakat sekitar. Mau? Ayo ke Garut dan mampir ke situ Cangkuang.

Oleh Winbaktianur
Penikmat wisata dan budaya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *