Semburat Jingga Emmahaven Teluk Bayur

Menikmati Matahari Tenggelam di kawasan Teluk Bayur. Photo: Koleksi Pribadi.

Oleh Winbaktianur

Teluk bayur, mengingatkan saya akan merdunya alunan suara Ernie Djohan yang nyaris setiap hari terdengar dari tape recorder tetangga, saat masih kanak-kanak hingga remaja. Ini tiada lain karena tetangga saya sangat mengidolakan penyanyi legendaris tersebut. Ketika itu, setiap mendengar dendang tersebut, saya selalu bertanya-tanya, apakah keistimewaan Teluk Bayur sehingga dijadikan sebagai lirik lagu? Dimanakah letaknya Teluk Bayur ini? Kenangan tahun 1985 hingga 1996, ketika itu lagu masih dalam bentuk kaset. Tanpa terasa kenangan masa lalu itu melintas kembali, saat saya bertugas di Kota Padang sejak tahun 2010.

Bacaan Lainnya

Sejak menjadi bagian dari kota ini, Pelabuhan Teluk Bayur awalnya merupakan suatu yang sangat istimewa bagi saya. Bagaimana tidak, kenangan merdunya alunan suara Ernie Djohan masih membekas.  Sehingga Teluk Bayur menjadi sesuatu yang spesial bagi saya. Apa sebabnya? Entahlah, saya juga tidak tahu, hanya saja setiap mengunjungi kawasan Teluk Bayur, saya selalu terkesima. Namun, karena urusan melanjutkan studi, saya meninggalkan kota ini pada tahun 2018 dan kembali lagi pada akhir tahun 2021. Sekembalinya ke kota ini, terbersit tanya, apakah Teluk Bayur berubah?

Beberapa waktu setelah sedikit santai dengan urusan pindahan, saya mengajak keluarga menjejakkan kaki ke kawasan pelabuhan ini. Ternyata, pesona Teluk Bayur kembali mengukir indah hati saya. Betapa tidak, sebagai pelabuhan tertua di pulau Sumatera dan nomor dua tertua di Indonesia, senantiasa menawarkan pesona yang sulit untuk dilupakan. Termasuk saya dan keluarga.

Emmahaven, nama yang disematkan Hindia Belanda yang kemudian dikenal dengan Pelabuhan Teluk Bayur. Jika menilik sejarahnya, pada tahun 1880‐an pemerintah Hindia Belanda membangun pelabuhan baru di kota Padang, yang kemudian diberi nama Emmahaven.

Merangkum dari artikel yang ditulis oleh Gusti Asnan, terdapat beberapa sebab sehingga pelabuhan ini dibangun, di antaranya adalah: pertama, dibutuhkannya pelabuhan yang representatif untuk melayani aktivitas ekspor batubara yang ditambang di Ombilin, Sawahlunto, karena mulai akhir abad ke‐19 pemerintah Hindia Belanda sangat serius dalam upaya eksplorasi dan eksploitasi batubara di kawasan ini.

Alasan kedua, reede (reede merupakan nama lain dari pelabuhan yang dikenal dalam dunia pelayaran di zaman Hindia Belanda) yang ada di Pulau Pisang serta pelabuhan Muaro dinilai tidak mampu menampung jumlah batubara yang akan diekspor serta tidak mampu menampung bersandarnya kapal‐kapal yang lebih besar untuk keperluan itu. Pelabuhan ini diresmikan bersamaan waktunya dengan pemakaian jalan kereta api ruas Emmahaven‐Padang, Padang Panjang‐Muaro Kalaban pada tahun 1892.

Sejarah mencatat bahwa pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur) pada masa itu terdapat empat buah dermaga, menyediakan empat gudang besar, ditambah dengan satu gudang dalam ukuran sedang, kantor pemeriksaan barang, kantor havenmeester, kantor bea cukai, serta adanya kantor agen perusahaan perkapalan. Dalam kompleks pelabuhan terdapat stasiun kereta api yang menghubungkan pelabuhan ini dengan kota Padang hingga Padang Panjang dan Muaro Kalaban.

Emmahaven pada awalnya memiliki luas areal sekitar 1 km2, dan masih dalam kompleks pelabuhan dibangun depot penumpukan dan pengisian batu bara. Pada waktu itu, depot pengisian batubara ini adalah yang paling canggih di Asia Tenggara. Selama masa keemasannya pelabuhan ini senantiasa ditingkatkan kondisinya, salah satunya adalah dengan menambah kedalaman kolam pelabuhan, awalnya hanya hanya 7,5 meter diperdalam hingga mencapai 10 meter dengan tiga kali pengerjaan pengerukan yaitu tahun 1901, 1903, dan tahun1905.

Seiring dengan perkembangan zaman, Emmahaven mencapai klimaks sebagai pelabuhan utama di pulau Andalas. Pelabuhan ini tidak lama memegang peran pentingnya di pulau ini, karena kemudian pemerintah Hindia Belanda juga membangun Pelabuhan Sabang, berlokasi di sebuah pulau Weh saat ini masuk dalam wilayah Aceh, dibangun sebagai depot pengisian batubara bagi kapal‐kapal yang akan berlayar di Samudera Hindia.

Ditambah lagi dengan dibangunnya pelabuhan di Belawan (Sumatera Utara) untuk mendistribusikan komoditas pertanian dan perkebunan yang bisa dimuat dan dibongkar pelabuhan ini, serta munculnya Medan sebagai kota perdagangan yang terkemuka. Dampaknya adalah kapal‐kapal Eropa yang semula berlabuh di Emmahaven mengalihkan rutenya ke Belawan. Akhirnya Emmahaven semakin berkurang denyut nadinya.

Pada masa jayanya, selain sebagai jalur distribusi barang, Emmahaven yang kemudian dikenal dengan Teluk Bayur, juga disinggahi kapal penumpang. Bahkan, menjadi salah satu bagian dari kisah novel terkenal, Sengsara Membawa Nikmat, karya sastrawan Tulis ST Sati yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1929.

Dikisahkan Midun dan Halimah menumpang kapal dari Teluk Bayur menuju Jawa (Tanjung Priok). Hingga tak lupa menjadi bagian penting dalam novel karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dengan judul “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, novel ini awalnya adalah cerita bersambung pada majalah, Pedoman Masjarakat, pada tahun 1938, dan dirilis sebagai novel pada tahun 1939.

Salah satu bagian novel mengisahkan, Hayati pulang ke Padang dengan kapal laut yang sudah disiapkan oleh Zainuddin. Kapal Van Der Wijck, dari Surabaya menuju Tanjung Priok untuk transit dan kemudian pindah kapal menuju pelabuhan Teluk Bayur. Malang, kapal tenggelam di daerah Brondong Lamongan Jawa Timur.

Surat kabar memberitakan kapal Van der Wijck yang ditumpangi Hayati tenggelam, Hayati yang tidak dapat diselamatkan karena luka-luka di kepala dan di kakinya akhirnya menghembuskan nafas terakhir dalam genggaman Zainuddin. Hayati dikuburkan di Surabaya, pada  pusaranya tertulis “Hayati meninggal lantaran kecelakaan kapal Van der Wijck pada 20 Oktober 1936. Zainuddin sepeninggalan Hayati jatuh sakit, akhirnya Zainuddin meninggal dan dimakamkan berdekatan dengan Hayati. Kisah yang menyayat hati dan menguras air mata.

Sisa-sisa kejayaan Emmahaven sebagai pelabuhan utama pada zamannya masih dapat disaksikan saat ini. Cukup dengan menempuh perjalanan 6 kilometer dari pusat Kota Padang, siapapun dapat menikmatinya. Apakah hanya melihat sisa-sisa kejayaan pelabuhan saja? Jawabannya adalah TIDAK. Wisatawan atau pengunjung dapat menikmati matahari tenggelam setiap sore di sini. Dengan catatan, cuaca cerah, serta dapat napak tilas kejayaan Silo Gunung, bekas gudang penampungan batu bara di Pelabuhan Teluk Bayur, merupakan warisan budaya dunia dari United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Datanglah setelah pukul 16.00 WIB ke kawasan Teluk Bayur, maka anda akan dihibur oleh kawanan monyet yang ada disepanjang bibir pantai areal Teluk Bayur. Carilah lokasi terbaik untuk menyaksikan matahari yang seolah-olah tenggelam di tengah laut.

Jika anda penikmat kopi atau cemilan khas Minangkabau, silahkan mampir di warung atau kedai kopi (kafe) yang ada disepanjang pantai mulai dari sisi utara gerbang pelabuhan hingga kawasan Bungus. Jangan khawatir dengan kantong yang pas-pasan, karena harga makanan dan minumannya cukup terjangkau. Segelas jus buah berkisar Rp. 8000-Rp15.000 saja. Terasa sangat istimewa jika menikmatinya dengan orang terdekat atau keluarga tersayang.

Hari itu, sekembalinya dari Teluk bayur, saya bergegas buka laptop, mencari lagu “Teluk Bayur”. Membayangkan lambaian sanak keluarga melepas kepergian di Pelabuhan kebanggan urang awak.  Merdunya nyanyian Ernie Djohan membuncah perasaan.

selamat tinggal teluk bayur permai
daku pergi jauh ke negeri seberang
ku kan mencari ilmu di negeri orang
bekal hidup kelak dihari tua
selamat tinggal kasihku yang tercinta
do’akan agarku cepat kembali
ku harapkan suratmu…setiap minggu
kan ku jadikan pembuluh rindu…
reff

lambaian tanganmu kurasakan pilu didada
kasih sayangku bertambah padamu
air mata berlinang…
tak terasakan olehku
nantikanlah aku di teluk bayur

 

Oleh: Winbaktianur

Winbaktianur1978@gmail.com

Penulis adalah akademisi di UIN Imam Bonjol, penikmat wisata dan budaya

Pos terkait