Mencari Asal Kata Nusantara di Muara Takus

Situs Candi Muara Takus di XIII Kota Kabupaten Kampar, Riau

Oleh Cendrahati

Benarkah sebutan “Nusantara” berasal dari nama  Nuh-San-Tara, sebagaimana dikisahkan lelaki berperawakan sedang dengan mata yang selalu berbinar itu? Dan benarkah kata “Ibu Pertiwi”, sebutan lain dari tanah Indonesia ini, juga berasal dari kisah yang berkait kelindan dengan Nuh-San-Tara dan menjadi sejarah tak  terkuak dari  Candi Muara Takus? Mendengarkan kisah-kisah yang meluncur dari bibir lelaki paruh baya itu mungkin akan mencengangkan, mengikuti alur fikirnya jadi  mengasyikkan.

“Nusantara itu berasal dari Nuh, San, dan Tara. Nuh itu nabi Nuh Allaihissalam, San itu anaknya nabi Nuh, dan Dewi Tara adalah nenek moyang kita yang hidup pada zaman nabi Nuh dan beriman pada beliau”, ungkap lelaki paruh baya itu sambil duduk bersedekap karena hembusan angin yang cukup dingan. Secangkir kopi hitam yang tinggal setengah gelas ia tutup dengan piring tadah. Beberapa orang yang tadinya tidak begitu memperhatikan, menoleh ke arah beliau dan ikut duduk bersama dibawah rindangnya pohon yang menaungi kedai-kedai kayu di areal Candi Muara Takus.

Tidak hanya tentang asal muasal kata Nusantara, ia kemudian dengan fasih menceritakan runutan kisah yang tersimpan dibalik dinginnya batu stupa yang berdiri sepi di depan kami. Tentang riuhnya kehidupan di tempat ini pada masa lalu, tentang jalur-jaur yang telah menghubungkan negeri kecil ini dengan dunia luar yang jauh, dan tentang sebutan Ibu Pertiwi bagi bangsa ini.

Ongku Imi

“Dewi Tara adalah istri San Radhiayallahu, seorang ratu  yang berasal dari Muara Takus ini. Daerah ini dulunya adalah sebuah kota yang besar. Bisa saya buktikan dengan peninggalan sejarah yang banyak tersebar, dan  tidak hanya sekedar candi yang terlihat ini saja”, begitu lelaki yang akrab dipanggil Ongku Imi itu dengan yakin menyampaikan kisahnya. “Setelah periode pemutihan, bumi ini ditenggelamkan, dengan nabi Nuh Allahissalam, bagian kita waktu itu sudah merupakan kota besar. Ini yang disebut Atlantik yang hilang, Nusantara inilah sebenarnya”.

Seketika beberapa orang yang ikut duduk bersama beliau terkesima. Pernyataan itu tentu memancing banyak tanya. Ongku Imi, sang Juru Pandu dari Sesepuh Soko Minang, sebagaimana pengakuan bealiau, mengeluarkan secarik kertas berupa peta yang rumit yang ditulis tangan. Beberapa orang menggeser duduk untuk memperhatikan peta itu. Ongku Imi dengan lincah menjelaskan alur-alur yang terdapat dalam peta tersebut. Keterangan peta itu tak kalah mencengangkan, di dalamnya seperti bercerita tentang hubungan yang terjadi antara Candi Muara Takus dengan banyak negara lain.

Berkunjung ke Situs Cagar Budaya, Candi Muara Takus, 135 kilometer dari Kota Pekanbaru, akan menghabiskan sekitar dua jam perjalanan. Terletak di suatu perkampungan yang tidak terlalu ramai, Candi Muara Takus seperti berdiri sepi meski cukup terawat. Areal yang melingkupi bangunan kuno tersebut hanya sekitar 75X75 meter, sehingga tak heran kata pertama yang sering muncul saat membawa teman yang  mengunjunginya adalah “Cuma ini ya?”.

Ya, cuma ini, dua buah bangunan yang mencolok terbuat dari susunan batu berwarna merah bata yang dinamakan Candi Tuo dan Mahligai Stupa. Kemudian ada candi berukuran lebih kecil yang dianamakan Candi Bungsu dan Candi Palangka. Situs Cagar Budaya ini terletak di jantung pulau Sumatera, tepatnya di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Selain untuk menikmati sejarah, hampir tidak ada yang lebih menarik bila berkunjung ke Candi Muara Takus. Dengan tiket masuk Rp. 10.000 ketika melalui gerbang situs tersebut, kitapun lalu akan segera disodorkan karcis parkir Rp. 5000 untuk mobil yang harus segera dibayar begitu kaki turun dari kendaraan. Kedai-kedai kayu sederhana yang ada di samping areal situs tersebut hanya menyediakan jajanan biasa seperti teh, kopi, minuman dan mie instan. Ada juga yang menjual pakaian khas wisata namun tidak pernah terlihat ramai sebab pengunjung yang juga tidak banyak.

Namun sebagaimana bangunan kuno lainnya, berada di lingkungan Candi Muara Takus juga menghadirkan nuansa mistis yang sulit dijelaskan. Barangkali ketika kita membayangkan  masa lalu yang terjadi di tempat ini ditambah kisah adanya ritual-ritual purba yang dilakukan seperti pembakaran tulang manusia, pemujaan dan sebagainya sehingga dejavu kita merasa berada di tempat itu dan sesekali membuat tengkuk merinding. Tetapi bila tidak membayangkan hal-hal tersebut mungkin akan biasa-biasa saja seperti anak-anak yang asik berlarian di areal itu. Lalu apalagi selain mengambil foto dan beberapa pose sebagai kenang-kenangan bahwa pernah ke tempat itu? Tidak ada apa-apa, kecuali engkau mau mendengarkan sedikit kisah yang ada di sekitar tempat itu, dan membuktikannya.

“Candi Muara Takus bukan hanya sekedar yang dikelilingi pagar seluas 75X75 meter ini. Ada tanggul kuno yang memagarinya mulai dari tepi sungai sana seluas seratus empat puluh hektar lebih. Ada pecahan-pecahan guci diantara batu-batu yang berserakan, kuburan kuno diserang sungai, tempat pemandian dan sebagainya. Tempat ini dulunya kota besar, sebuah kerajaan tua”, demikian TGK. M. Suhaimi yang akrab dipanggil Ongku Imi itu menegaskan.

Tidak bisa tidak, sebaiknya kita melihat tempat yang disebutkan itu. Bergegas bangkit dari duduk, Ongku Imi pun bersemangat menjadi pemandu ketempat-tempat yang ia sebutkan. Dengan kendaraan, keluar dari areal candi ke arah belakang, lebih kurang lima ratus meter tibalah di tengah-tengah padang sabana yang luas.  Berjalan sedikit lagi kearah pinggir sungai, terlihat gundukan tanah tinggi yang memanjang jauh mengelilingi padang rumput hijau itu. Menurut sejarahnya gundukan ini dulunya adalah benteng setinggi dua meter. “Disitu banyak kuburan, dulunya orang-orang dibakar disitu” Ongku Imi menunjuk ke arah seberang sungai yang airnya berwarna keruh.

Ratusan kerbau di padang rumput tiba- tiba saja muncul dan membuatku terkesima demi melihat pemandangan itu.

“Disini dermaga, dan tempat ini  pasar dulunya”, imbuhnya lagi. Setelah mengambil beberpa foto untuk kepentingan jurnalistik dan kepentingan sendiri, kamipun merasa sudah cukup dan berbalik ke arah tengah padang. Luar biasa, tanpa disadari padang luas yang tadinya kosong dan sepi itu tiba-tiba saja menghitam oleh kawanan kerbau yang merumput. Sungguh eksotis. Entah dari mana datangnya ratusan kerbau itu, tetapi itu telah menjadi pemandangan biasa bagi masyarakat tempatan. Lalu kami mencari jalan meminggir agar tidak menerobos kawanan kerbau tersebut.

Tibalah di sebuah aliran sungai lainnya yang berada di sisi selatan arah candi. Sungai itu cukup jernih dengan airnya yang mengalir disela-sela bebatuan kecil. Ada bentuk-bentuk gundukan yang membatasi areal sungai tersebut yang diceritakan Ongku Imi bahwa itu dulunya  adalah tempat pemandian kaum laki-laki, dan jauh ke bagian hulu merupakan tempat pemandian para puteri. Di pinggir sungai arah ke candi terdapat pagar batu yang telah banyak rusak dan lapuk. Ada juga di bawah pagar tersebut terdapat susunan bata tua seperti berasal dari bata yang sama dengan bangunan candi, juga ada pecahan-pecahan guci dari berbagai jenis bisa ditemukan diantara batu yang berserakan.

Seripihan keramik kuno yang masih banyak didapati di pinggir sungai pemandian putri

Rasanya tidak cukup waktu satu dua jam bila ingin mengeksplorasi tempat itu. Terlalu banyak kisah yang belum dibuktikan, terlalu bias fakta yang ingin didapatkan. Terlalu menarik dibandingkan hanya sekedar candi Muara Takus!

Lalu, benarkah Nusantara sejarahnya berasal dari tempat ini? Siapakah yang disebut Ibu Pertiwi? Berkunjunglah ke Muara Takus. Bila beruntung, engkau tidak  hanya melihat sekedar candi. Ada cinta begitu besar dari anak negerinya yang mungkin akan engkau dengarkan.  Berwisatalah dengan hati dan minda.

Pos terkait