Lok Baintan, Pasar Terapung nan Legendaris

Pasar Terapung Lok Baintan berada di Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Foto: Winbaktianur/Outsiders

Begitu pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, mata saya tidak bisa diajak kompromi untuk dipejamkan. Padahal, rasa kantuk itu terasa begitu berat. Pikiran melayang jauh ke kota yang sebentar lagi akan saya kunjungi.

Ini adalah kunjungan pertama saya di kota dengan julukan seribu sungai, Banjarmasin dan merupakan keempat kalinya ke pulau Kalimantan. Kunjungan kali ini sebenarnya dalam rangka mengikuti konferensi internasional di UIN Antasari. Begitu pesawat mendarat, saya sudah tidak sabaran untuk segera berlari meninggalkan bandara Syamsoedin Noor.

Bacaan Lainnya

Selesai kegiatan selama dua hari, hari ketiga saya gunakan untuk eksplorasi kota yang dialiri banyak sungai, membuat kota ini terasa begitu istimewa. Menurut saya, kota ini bersih, tidak ada ditemukan tumpukan sampah di pinggir jalan utama atau kantong plastik maupun bungkus sisa makanan yang menggeletak begitu saja menunggu ratusan tahun untuk terurai.

Propinsi Kalimantan Selatan dianugerahi dengan sungai-sungai nan elok yang menjadi daya tarik wisatawan. Sungai-sungai ini kemudian memberikan pengaruh besar pada  aktivitas penduduknya. Salah satu yang paling populer adalah pasar tradisional di atas sungai yang lebih dikenal dengan sebutan pasar terapung. Pasar Terapung Lok Baintan di Martapura yang paling terkenal.

Pagi-pagi sekali kami sudah menuju dermaga yang berdampingan dengan titik nol kilometer Banjarmasin, terletak di pinggir sungai Martapura. Dengan menumpang klotok (perahu motor), saya bersama dengan beberapa rekan menyusuri sungai Martapura menuju pasar terapung Lok Baintan.

Pasar Terapung di Kalimantan Selatan dari mulut kemulut menceritakan bagaimana erat kaitannya dengan Kerajaan Banjar, barangkali sudah ada jauh sebelumnya. Sultan Suriansyah pada pertengahan abad ke-16, mendirikan kerajaan di tepi sungai Kuin dan Barito yang menjadi cikal-bakal Kota Banjarmasin. Posisinya yang berada di pertemuan beberapa anak sungai, membuat pasar itu berkembang secara alamiah dengan pesat. Selain warga Kuin, para pedagang juga berdatangan dari daerah Tamban, Anjir, Alalak, dan Berangas.

Sejarah mencatat bahwa kehidupan ekonomi politik Kerajaan Banjar memegang peranan besar dalam perkembangan pasar terapung. Aktivitas perdagangan semakin meningkat dan mulai berdatangan pedagang-pedagang dari tanah Jawa, Gujarat, hingga China.

Beberapa waktu kemudian, ibukota Kerajaan Banjar pindah ke Martapura, otomatis aktivitas perdagangan masyarakat juga ikut berkembang pesat di Sungai Martapura. Lokasinya berada di salah satu anakan Sungai Martapura yang bernama Lok Baintan, pasar terapung ini lebih dikenal dengan sebutan Pasar Terapung Lok Baintan.

Keterkaitan pusat kerajaan dengan aktivitas perdagangan sungai bagi daerah yang berada di aliran sungai merupakan suatu hal yang lumrah. Kota-kota lama dan baru tempat konsentrasi pemukiman penduduk selalu terdapat di pinggir, persimpangan atau muara sungai.

Bukti keterkaitan itu bisa dilihat dari toponim Murung Keraton (murung artinya sungai), yang kini sebuah kelurahan di Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar. Murung Keraton menjadi petunjuk bahwa dulunya wilayah keraton berada di sekitar Kampung Keraton Batuah sampai ke wilayah sungai yang saat ini berada di samping pasar terapung ini.

Aktivitas perdagangan di pasar terapung Lok Baintan ramai sejak pagi buta dan mencapai puncaknya pada pukul 6-7 pagi. Jenis dagangan yang diperjualbelikan umumnya hasil pertanian dan perkebunan masyarakat setempat. Jika musim panen tiba, pedagang di pasar terapung akan melebihi jumlah hari-hari biasanya. Selain masa panen, aktivitas di pasar terapung ramai pada hari pasar, yakni setiap hari Jumat.

Selain buah-buahan dan sayur-sayuran, kue khas daerah setempat kerap diperjualbelikan para pedagang. Ada juga sarapan berat dengan menu andalan nasi kuning ikan haruan dan ketupat kandangan, buah-buahan, aneka dompet kerajinan tangan khas Martapura dan Banjarmasin, baju kaos, peci rotan, hingga ikan sepat kering dengan harga yang terjangkau. Jangan lupa, gunakan keahlian tawar menawar ketika tertarik dengan suatu barang yang dijajakan.

Guna mempermudah merapat ke kelotok pengunjung, masing-masing kelotok atau jukung biasanya menyediakan tongkat dengan pengait kawat agar perahu mereka bisa saling mendekat. Setiap harinya ratusan jukung atau kelotok berkumpul di Lok Baintan untuk menjajakan aneka kebutuhan sehari-hari.

Selain dari Lok Baintan, para pedagang datang dari beberapa kampung yang tersebar tak jauh dari anak Sungai Martapura seperti Sungai Paku Alam, Sungai Lenge, Sunga Saka Bunut, Sungai Tanifah, Sungai Madang, dan Sungai Lenge.

Di depan mata tersaji pemandangan yang sangat istimewa, pedagang menggunakan jukung (perahu) yang unik dan khas. Perahu berdesak-desakan satu sama lain, berseliweran menawarkan dagangan kepada pengunjung. Pedagang didominasi oleh perempuan. Ketika matahari mulai meninggi, biasanya mereka mengenakan tanggui atau topi caping lebar dari daun rumbia.

Menariknya lagi, di pasar  terapung ini masih berlaku sistem barter atau dalam bahasa Banjarnya bapanduk. Setelah menerima uang dari pembeli, pedagang akan mengucapkan ‘jual’ dan pembeli akan membalas ‘beli’. Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 10.30 WITA dan waktunya untuk kembali ke dermaga. Bagi saya, keseruan aktivitas di pasar terapung ini sangat berkesan dan unik.

Pasar Terapung Lok Baintan berada di Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Tak hanya wisatawan lokal, wisatawan mancanegara pun mendatangi Lok Baintan. Pengunjung yang hendak melihat aktivitas perdagangan atau berbelanja secara langsung dari dekat bisa menyewa jukung atau kelotok (perahu motor) di sekitar Sungai Martapura. Dalam perjalanan kembali ke dermaga, saya menikmati hasil berburu, ada nasi kuning ikan haruan (ikan gabus), teh manis hangat, jeruk, pisang, dan menghitung berapa banyak oleh-oleh yang saya beli.

Pastinya akan menjadi pengalaman seru tak terlupakan, karena Anda akan menyusuri sungai Martapura sambil berbelanja di pasar terapung. Harga Tiket: Gratis, Jam Operasional: 05.00-12.00 WITA, Alamat: Jl. Sungai Tandipah, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Menuju pasar terapung Lok Baintan tidak dipungut bayaran, cukup siapkan sejumlah uang untuk berbelanja dengan jam operasional mulai pukul 05.00-10.00 WITA. Waktu tempuh dari dermaga klotok di Banjarmasin sekitar 1 jam, jika menyewa klotok biayanya Rp. 400.000 atau secara perorangan dalam kisaran Rp. 50.000 saja. Suatu saat saya akan kembali ke kota nan elok ini.

 

Oleh: Winbaktianur

Akademisi UIN Imam Bonjol, Penikmat Wisata & Budaya

E-mail: winbaktianur1978@gmail.com

Pos terkait