“Jalur Sutra” perlintasan narkoba di Perbatasan RI- Malaysia

BNPP bersama personel Paspamtas Batalyon Armed 16 Tumbak Kaputing menyusuri salah satu jalan setapak jalur ilegal, atau dikenal dengan sebutan "jalan tikus" dalam daerah pengamanan Pos Bantan, Paspamtas Batalyon Armed 16 Tumbak Kaputing, Jumat (18/8/2023)

Jakarta (Outsiders) – Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat (Kalbar) merupakan cerminan komitmen pemerintah untuk meningkatkan keamanan di wilayah perbatasan.

Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) yang mengelola PLBN Entikong, selalu bersinergi dan membangun komunikasi termasuk dengan Pasukan Pengamanan Perbatasan (Paspamtas) Batalyon Armed 16 Tumbak Kaputing (TK) yang menjaga 360 kilometer wilayah di perbatasan RI-Malaysia pada sektor barat, Kalbar.

Bacaan Lainnya

Bersama personel Paspamtas Batalyon Armed 16 Tumbak Kaputing menyusuri salah satu jalan setapak jalur ilegal, atau dikenal dengan sebutan “jalan tikus” dalam daerah pengamanan Pos Bantan, Paspamtas Batalyon Armed 16 Tumbak Kaputing.

Dalam wilayah perbatasan yang berada di bawah pengamanan Pos Bantan terdapat puluhan jalur tikus di Desa Bungkang, Kecamatan Sekayam menuju arah Lubuk Tengah, hingga Lubuk Sebu yang berbatasan dengan Kampung Mapuk, Malaysia.

Di kawasan ini, kami beserta personel Satgas Pamtas menyusuri punggungan bukit dalam lebatnya hutan, melintasi beberapa sungai mengarah terus ke puncak Gunung Roan.

Perjalanan menuju jalur tikus di Desa Bungkang, dimulai dari Pasar Balai Karangan. Perjalanan lalu berlanjut ke Pos Bantan, yang jaraknya sekitar 20 kilometer juga dari pasar.

Butuh waktu setengah jam dari pasar, mampir ke Pos Bantan, dan akhirnya bertemu dengan jalan tikus pertama, menyeberangi anak Sungai Sekayam.

Setelah perjalanan setengah jam menggunakan sepeda motor hingga lokasi terakhir yang bisa dijamah menggunakannya, tiba juga kami di jalur ilegal perlintasan warga Indonesia ke Malaysia dan sebaliknya.

 

Jalur Sutra narkoba dan 2 atok perbatasan negara rusak

Komandan Pos Bantan, Letda Sugeng turut mendamping dalam melintasi hutan lebat melintasi salah satu jalur tikus tersebut.

Menurut ia, jalur dalam kawasan yang dipantau dan dijaganya tersebut termasuk ke dalam jalur-jalur sutra penyelundupan dan perdagangan narkoba dari Malaysia. Kontur hutan dan banyak jalur- jalur yang bercabang banyak dimanfaatkan oleh para penyelundup.

“Jalur di sini masuk dalam kategori rawan penyelundupan narkoba, barang-barang ilegal sembako susah. Juga termasuk dalam jalur sutra perlintasan narkoba yang terus kami pantau!,”jelas Letda Sugeng, Jumat (18/8/2023).

Sugeng juga menjelaskan, selain terus memantau perlintasan Narkoba, pasukannya juga rutin dalam mengecek pata-patok perbatasan yang menjadi pemisah antara teritorial RI – Malaysia.

Menurut hasil pengecekan, saat ini terdapat 2 patok yang tertimbun oleh lonsoran bukit yang rusak akibat tergerus longsoran bukit. Totalnya dalam koridor wilayah pengamatannya ada 74 patok yang harus diawasi secara berkala.

“Dari 74 patok tersebut ada 2 patok yang tertimbun, tetapi masih ada titik koordinatnya,” ungkapnya. Meski demikian, Letda Sugeng menjelaskan telah melaporkan ke Komando di atas satuannya perihal 2 patok perbatasan negara yang rusak tersebut.

 

PLBN Jagoi Babang diharapkan persempit penyelundupan narkoba

Sementara itu, di tempat terpisah, Komandan Satgas Pamtas Indonesia-Malaysia Batalyon Armed 16 Tumbak Kaputing, Mayor Arm Andreas Prabowo Putro, mengapresiasi atas beroperasinya PLBN Jagoi Babang, di Kabupaten Bengkayang.

Menurutnya kehadiran PLBN Jagoi Babang bisa mempersempit pencegahan masuknya narkoba dari perbatasan terutama dalam wilayahnya di Kalimantan Barat. Ia menuturkan mengendalikan masuknya narkoba di perbatasan Kalbar merupakan salah satu prioritas utama dari patroli mereka.

Andreas juga menerangkan, Batalyon Armed 16 Tumbak Kaputing baru bertugas menjadi pasukan pengaman perbatasan selama hampir tiga bulan. Dalam rentang waktu itu, telah dilakukan patroli rutin serta pengintaian atau ambush terhadap segala macam pelanggaran batas negara.

“Terakhir kami menggagalkan penyelundupan 10 kilogram sabu,” ucap Andreas. Ia juga menjelaskan, penyelundupan narkoba paling rawan terjadi di rute Jagoi Babang, Bengkayang.

Menurut dia, wilayah perbatasan di area ini masih relatif terbuka alias minim penjagaan dan aktivitas masyarakat. Kami tetap melakukan patroli secara rutin untuk mengecek kegiatan ilegal seperti keluar masuk pekerja migran ilegal dan perlintasan narkoba,” tutupnya. (HH/**)

 

(Humas BNPP)

Pos terkait