Ciptakan sabun dari minyak jelantah, target Bank Jatah binaan PHR di 2024

Sejumlah warga yang menjadi nasabah saat menyetorkan minyak jelantah kepada Bank Jatah Karang Taruna Umban Sari binaan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di, Rumbai, Pekanbaru. Foto: Humas PHR

Pekanbaru (Outsiders) – Bank Minyak Jelantah atau Bank Jatah Karang Taruna Umban Sari binaan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus melakukan inovasi dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan di Rumbai, Pekanbaru. Hasilnya, Bank Jatah binaan PHR ini akan meluncurkan aplikasi berbasis digital untuk data pengumpulan minyak jelantah, dan membuat produk turunannya berupa sabun.

Jumlah partisipasi warga dalam mengelola minyak jelantah terus meningkat hingga terciptanya sirkular ekonomi di tengah masyarakat. Keberhasilannya mengelola Bank Minyak Jelantah membuat Karang Taruna Umban Sari meraih juara satu lomba karang taruna berprestasi tingkat Provinsi Riau.

Bacaan Lainnya

Penghargaan diserahkan Dinas Sosial Riau saat acara Bulan Bakti Karang Taruna pada Desember 2023. “Sejak tiga tahun berjalan, jumlah masyarakat menjadi nasabah terus meningkat. Saat ini setidaknya kurang lebih lima ratus warga sudah menjadi nasabah Bank Minyak Jelantah,” kata Direktur Bank Jatah Mohammad Adriyo Habibi, Senin (16/1/2024).

Bank Jatah memiliki tiga sistem partisipasi masyarakat yakni dengan cara menabung, jual beli dan sedekah jelantah. Nasabah Bank Jatah banyak berasal dari kalangan rumah tangga, pelajar maupun pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Dalam sebulan, Bank Jatah mampu menampung 5 hingga 6 ton minyak jelantah dari nasabah. Nasabah dapat mencairkan uang tabungan setiap bulannya dari minyak jelantah tergantung banyaknya jumlah minyak jelantah yang disetorkan.

“Alhamdulillah jumlah tabungan juga mengalami peningkatan, total saldo tabungan nasabah saat ini mencapai Rp 15 juta,” ujar Habibi.

Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, Bank Jatah terus melakukan sosialisasi pengelolaan minyak jelantah baik itu kalangan ibu rumah tangga hingga menyasar murid sekolah dasar. Bank Jatah mengajak murid sekolah dasar mengumpulkan minyak jelantah sisa rumah tangga. Minyak jelantah yang sudah dikumpulkan kemudian akan dibeli dengan harga tertentu.

“Saat ini sudah ada lima sekolah negeri maupun swasta yang menjadi mitra. Tabungan minyak jelantah dari murid kemudian dapat dikonversi untuk pembayaran uang sekolah. Selain menjadi tabungan, mengumpulkan minyak jelantah sekaligus mengajarkan murid untuk menjaga lingkungan sejak dini terutama dari ancaman bahaya minyak jelantah,” ucap Habibi.

Bank Jatah terus berinovasi dalam meningkatkan partisipasi masyarakat mengelola minyak jelantah. Dalam waktu dekat, Bank Jatah bakal meluncurkan sebuah aplikasi digital untuk menjangkau partisipasi masyarakat yang lebih luas.

“Kami bercita-cita Bank Jatah ini bisa menjadi program nasional. Lewat aplikasi berbasis digital, pengumpulan minyak jelantah diharapkan tidak hanya berasal dari Riau tapi juga dari masyarakat di luar Riau,” katanya.

Saat ini, Bank Jatah telah memiliki 35 unit bisnis untuk menampung minyak jelantah dari masyarakat. Minyak jelantah yang sudah terkumpul disalurkan kepada distributor untuk diolah menjadi produk turunan bernilai tinggi seperti lilin, sabun hingga bahan baku energi alternatif biodiesel.

Namun di tahun 2024 ini, Bank Jatah menargetkan akan memproduksi produk turunan sendiri berupa sabun. Seluruh anggota yang berada di unit bisnis bakal mendapat pelatihan pembuatan produk sabun yang akan difasilitasi PHR dan mitra pelaksana LPPM Universitas Muhammadiyah Riau.

Program Bank Jatah disambut antusias masyarakat. Setiap kali melakukan sosialisasi, UB Bank Jatah Agrowisata memaparkan tentang bahaya minyak jelantah yang tidak terkelola. Minyak jelantah yang dibuang sembarangan memberikan risiko meningkatkan kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BPD) di perairan.

Sementara minyak jelantah yang dibuang ke tanah menyebabkan tersumbatnya saluran air sehingga akan menghambat proses resapan air ke dalam tanah. Efek jangka panjangnya akan menyebabkan genangan. Terlebih minyak jelantah diketahui mengandung bakteri Clostridium Botulinum dan dapat menimbulkan penyakit.

PHR mengapresiasi pencapaian Bank Minyak Jelantah Karang Taruna Umban Sari hingga mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. PHR mendukung upaya Bank Jatah memproduksi produk turunan sendiri berupa sabun sehingga akan memberikan peluang baru dalam peningkatan ekonomi dari produk turunan.

“Kami berharap kelompok penerima manfaat ini tetap solid, maju dan berkembang. Selain mendorong penyelamatan lingkungan, rencana pembuatan produk turunan berupa sabun sangat bagus karena dapat membuka peluang untuk peningkatan ekonomi bagi masyarakat,” kata Manager CSR Pertamina Hulu Rokan Pinto Budi Bowo Laksono. (Oca/**)

Pos terkait