Kenari, kekayaan eksotis kota Mataram

Buah Kenari. Foto : Win

Oleh: Winbaktianur

 

Bacaan Lainnya

Pagi itu, saya bertemu dengan Muniah, pengumpul buah kenari. Tangan kirinya memegang lampu baterai sebagai alat bantu penerangan serta keranjang plastik. Menurutnya, setiap pagi jika tidak hujan ia akan mengumpulkan buah kenari yang jatuh sepanjang jalan Pejanggik, jalan Langko, jalan Sriwijaya, dan jalan Amir Hamzah. Setelah dilepas dari kulitnya dan dikeringkan ia akan menjual ke langganannya dengan harga Rp 60.000-65.000 perkilogram.

Ternyata jalan Pejanggik ini pertama kali dibangun bukan oleh Kolonial Belanda melainkan oleh Kerajaan Mataram berpuluh-puluh tahun sebelum Belanda menguasai kota ini. Foto: Win

Kabut pagi masih menyelimuti kota, saat saya memutuskan untuk menyusuri kota dengan berjalan kaki. Tujuan saya kali ini untuk menjawab rasa penasaran akan Kenari, selama ini saya hanya lihat di layar televisi atau dari bacaan. Pohon kenari, yang dari awal kedatangan telah mencuri perhatian saya, ditambah lagi dengan lokasi hotel tempat saya menginap persis di salah satu jalan utama kota Mataram, jalan Pejanggik yang berjejer rapi pohon kenari.

Saya menginap di hotel jalan Pejanggik yang berhadapan langsung dengan taman Sangkareang dan merupakan salah satu yang banyak pusat perkantoran pemerintah. Berbaris rapi Kantor Polres Mataram, Kantor Pengadilan Negeri Mataram, beberapa kantor pemerintah dan bank Nusata Tenggara Barat, sekolah serta yang paling utama adalah Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat yang bersebelahan dengan Kantor Walikota Mataram, dan juga restoran cepat sajai.

Menyusuri jalan Pejanggik, saya menikmati rimbunnya daun pohon-pohon kenari tua yang berbaris rapi di kanan kiri jalan. Keteduhan yang menyegarkan pandangan sekaligus menyenangkan. Siang hari pun melintas di jalan ini, garangnya sinar matahari menjadi berkurang karena rimbunnya daun-daun pohon kenari.

Tidak banyak warga masyarakat yang mengetahui, bahwa pohon-pohon kenari tua berukuran besar ini menyimpan jejak sejarah panjang sejak seratusan tahun silam. Tepatnya pada masa awal bercokolnya pemerintahan kolonial Hindia Belanda di Lombok setelah penguasa Kerajaan Mataram saat itu berhasil ditaklukkan pada sekitar tahun 1894.

Sejarah mencatat bahwa pada peperangan lima bulan di tahun 1894 itu tentara kolonial Hindia Belanda berhasil mengakhiri kekuasaan raja Anak Agung Gde Ngurah Karangasem setelah menyerbu dan menghujani Kota Mataram dan Cakranegara termasuk puri raja dengan puluhan butir peluru meriam yang ditembakkan dari Ampenan.

Hal pertama yang dilakukan oleh penguasa kolonial setelah kemenangannya adalah dengan menata kembali Kota Mataram yang baru saja luluh lantak akibat peperangan. Pohon-pohon kenari yang hingga sekarang masih kokoh berdiri dengan ukuran yang cukup besar ini adalah bagian dari peninggalan penataan kota tersebut. Namun, ternyata jalan ini pertama kali dibangun bukan oleh Kolonial Belanda melainkan oleh Kerajaan Mataram berpuluh-puluh tahun sebelum Belanda menguasai kota ini.

Bahkan, Heinrich Zollinger dalam penelitiannya yang dipublikasi tahun 1851 menggambarkan dengan detail Kota Mataram kala itu. Menurutnya, Mataram adalah ibukota kerajaan yang terletak tiga mil dari Pelabuhan Ampenan. Jalanan tersebut sangat indah dengan lebar sekitar dua puluh meter, dan di tepi kanan kirinya dinaungi Pohon Ara yang berjajar di sepanjang jalan. Bahkan Zollinger menyebut dirinya belum pernah melihat avenues atau jalan-jalan seindah itu di manapun sebelumnya.

Tak heran jika kemudian Alfred Russel Walace, ilmuwan yang menciptakan batas imajiner Indonesia Barat dan Indonesia Timur yang disebut garis Wallace. Buku The Malay Archipelago yang ia tulis tahun 1869, menggambarkan keindahan Kota Mataram dengan jalan yang lurus membentang, dinaungi pohon-pohon rindang di kanan kirinya, bertautan di tengah seolah payung yang menaungi jalanan kota.

Bahkan Dokter Julius Karel Jacobs yang berkunjung ke Mataram pada tahun 1883 melukiskannya dalam tulisan yang memuji jalanan di Kota Mataram dalam kondisi yang bagus ketika ia berkunjung.

Salah satu pohon Kenari tua yang berumur seratus tahun lebih terdapat di Jalan Pejanggik ini depan Kantor Polisi Militer (POM) TNI Angkatan Darat. Sementara di belakang pepohonan tersebut terdapat tembok tanah yang memagari rumah-rumah penduduknya.

Menyusuri jalan Pejanggik, saya menikmati rimbunnya daun pohon-pohon kenari tua yang berbaris rapi di kanan kiri jalan. Di sela-sela pohonnya muncul tangkai lebat buah kenari berwarna hijau untuk yang masih belum matang dan berwarna coklat kehitaman untuk buah yang sudah matang. Keteduhan itu tentu menyegarkan pandangan sekaligus menyenangkan. Bahkan pada siang hari pun melintas di jalan ini panasnya sinar matahari menjadi berkurang karena rimbunnya daun-daun pohon kenari itu.

Pohon-pohon kenari tua yang berbaris sepanjang kurang lebih 3 kilometer dari depan Lapangan Malomba di bagian barat kota hingga ke titik 0 kilometer di depan Kodim ini menjadi penanda sekaligus menjadi kekayaan sejarah yang sangat berharga bagi Kota Mataram, karena tidak semua kota memilikinya. Pohon-pohon kenari ini ditanam pada masa awal pemerintahan kolonial Belanda di Lombok setelah penguasa Kerajaan Mataram saat itu berhasil ditaklukkan pada tahun 1894.

Pagi itu, saya bertemu dengan Muniah, pengumpul buah kenari. Tangan kirinya memegang lampu baterai sebagai alat bantu penerangan serta keranjang plastik. Menurutnya, setiap pagi jika tidak hujan ia akan mengumpulkan buah kenari yang jatuh sepanjang jalan Pejanggik, jalan Langko, jalan Sriwijaya, dan jalan Amir Hamzah. Setelah dilepas dari kulitnya dan dikeringkan ia akan menjual ke langganannya dengan harga Rp 60.000-65.000 perkilogram.

Untuk mendapatkan satu kilogram, Muniah membutuhkan dua-tiga keranjang buah kenari. Bagi Muniah, bentuknya seperti kacang mete yang biasanya digunakan sebagai campuran bahan kue dan juga dapat dijadikan sebagai salah satu bahan dasar obat-obatan. Proses yang tidak mudah dan cukup panjang harus dilalui oleh Muniah sebelum menjualnya. Isinya harus dicongkel dari kulitnya yang keras terlebih dulu. Kemudian dikeringkan dengan cara di jemur selama sekitar tiga hari.

Kenari (Canarium Indicum L), termasuk tanaman hutan yang belum banyak dibudidayakan. Sebagai tanaman asli Indonesia yang banyak tumbuh di daerah Indonesia bagian Timur, seperti Sulawesi Utara, Maluku dan Pulau Seram. Juga dapat dijumpai di kota ini serta Bogor dan Bandung. Kenari mempunyai potensi ekonomi, di samping dapat berbuah sepanjang tahun dan biji kenari yang sudah di keringkan mempunyai umur yang relatif lama.

Kacang kenari atau walnut merupakan salah satu jenis kacang-kacangan yang berbentuk unik karena bentuknya tidak teratur. Kacang kenari dapat dimanfaatkan sebagai obat alami karena tinggi akan lemak, serat, vitamin, dan mineral yang sehat, serta dikonsumsi dengan tekstur seperti kacang almond.

Buah kenari memiliki bentuk lonjong dengan ukuran kurang lebih seebsar jempol kaki. Di dalam buah kenari terdapat daging buah yang tipis dengan bagian biji yang lebih besar. Buah kenari berbentuk cenderung bulat, berbeda dengan buah almond yang berbentuk lonjong dengan ujung yang lancip. Lapisan daging pada buah kenari biasanya lebih tebal daripada buah almond. Jadi, jika Anda pernah melihat buah kenari, bayangkan bola golf yang sedikit lonjong dengan daging kulit tipis dan biji besar di dalamnya.

Kenari tercatat sebagai salah satu jenis pohon yang banyak ditanam sebagai peneduh di pinggir jalan di kota-kota di Indonesia semenjak seabad silam. Pohon-pohon Kenari tua peninggalan Belanda berukuran besar, dapat tumbuh hingga mencapai 45 meter. Pertumbuhan pohon ini tergolong cepat. Daun rimbun dengan tajuk berbentuk bulat yang dapat memberikan naungan cukup luas.

Batang Kenari berwarna putih coklat keabu-abuan dengan garis tengah hingga 70-100 cm. Batangnya mengeluarkan resin yang diperdagangkan untuk campuran vernis dan melicinkan perahu. Resin ini juga dapat digunakan sebagai balsem. Oleh sebagian penduduk di masa lalu,minyak Kenari digunakan untuk menyalakan pelita.

Saya melanjutkan jalan kaki sepanjang jalan Pejanggik dan ini sungguh yang menyenangkan. Membayangkan bagaimana kota yang cantik ini pernah hancur di serang kolonial Belanda. Sesekali saya berhenti mengutip buah kenari yang jatuh. Pohon kenari, saksi perjalanan panjang kota yang terus bersolek memanggil wisawatan datang berkunjung.**

 

Winbaktianur

Email: winbaktianur1978@gmail.com

Akademisi UIN Imam Bonjol, penikmat wisata dan budaya

 

 

 

Pos terkait