Rumah Sunting Safari Literasi Konservasi jelajah ke NTT

Tim KSB Rumah sunting didampingi Tim Taman Nasional (TN) Kelimutu di Danau Kelimutu saat Bersafari Literasi Konservasi, 6 Mei 2024

NTT (Outsiders) –  Membawa misi kebudayaan di Nusa Tenggara Timur (NTT) didukung Kemendikbudristek melalui Dana Indonesiana, Komunitas Seni Budaya (KSB) Rumah Sunting juga didukung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), khususnya untuk kegiatan Jelajah Alam dan Budaya yang dibungkus dalam Safari Literasi Konservasi,  2 hingga 11 Mei 2024.

Pimpinan sekaligus Pembina KSB Rumah Sunting, Kunni merinci misi kebudayaan kali ini ada tiga kegiatan sekaligus, yakni, pertunjukan seni kolaborasi, diskusi dan jelajah budaya. Seni pertunjukan dilaksanakan di Desa Lamahala, Kecamatan Adonara, Kabupaten Flores Timur. Tapi, untuk Diskusi dan Jelajah Budaya, dilaksanakan mulai dari ketibaan tim Rumah Sunting di Kupang, Lamahala, Larantuka,  hingga ke Labuan Bajo.

Bacaan Lainnya

“Dalam proposal yang kami ajukan ke Kemendikbudristek melalui Dana Indonesia, khususnya Dukungan Perjalanan Kebudayan, memang ada tiga kegiatan sekaligus yang dibungkus dalam judul besar Panggung Budaya oleh panitia PuitikNature di Lamahala. Tiga kegiatan itu yakni, Diskusi, Pertunjukan Seni Kolaborasi dan Jelajah Budaya dari Kupang hingga ujung Pulau Flores. Tapi dukungan Dana Indonesiana yang kami terima tidak mencukupi untuk semua kegiatan, alias hanya untuk transportasi udara, maka kami berkolaborasi dengan KLHK khusus di kegiatan Jelajah Budaya, yang kemudian kami bungkus lagi dengan kegiatan Safari Literasi Konservasi (alam dan budaya), Safari Literasi Konservasi juga diwarnai diskusi bersama milenial,” beber Kunni panjang lebar.

Safari Literasi Konservasi kali ini diberi tema “Menguak Kekayaan Alam dan Budaya Nusa Tenggara Timur”. Kegiatan berjalan lancar sesuai jadwal berkat dukungan penuh KLHK melalui Balai Besar KSDA NTT di bawah pimpinan Ir Mahmud Arief MSi, Kepala TN Kelimutu Budi Mulyanto SPd, MSi dan Kepala TN Komodo Hendrikus Rani Siga SHut, MSi.

Selain menjelajahi alam dan budaya Pulau Flores, juga digelar diskusi antara Rumah Sunting dengan masyarakat adat yang dikunjungi, bahkan petugas BBKSDA dan TN serta anak-anak milenial di sana. Semua berbicara tentang Literasi Konservasi, yakni bagaimana terjadi keseimbangan yang adil dan lestari antara alam, budaya dan masyarakat adatnya.

Setibanya tim KSB Rumah Sunting di Bandara Kupang tanggal 3 Mei pukul 07.00 WITA, tim langsung menuju Kantor BBKSDA NTT di Kupang. Di sini, tim BBKSDA bersama kaum milenial dari GLI asuham KLHK, sudah menunggu. Diskusi dan saling berbagi tentang pentingnya konservasi pun, terjadi.

Dari Kupang, tim Rumah Sunting menuju Larantuka, selanjutnya ke Desa Lamahala, Kecamatan Adonara, Kabupaten Flores Timur, untuk mengikuti kegiatan Panggung Budaya bersama Komunitas PuitikNature di bawah asuhan penyair Bara Pattyradja asal Lamahala, 4 dan 5 Mei. Di Lamahala, kegiatan juga dihadiri Yayasan Sakuranesia dari Jepang yang dihadiri Mis Sakura dan Tovic.

Dari Lamahala, KSB Rumah Sunting menuju Kabupaten Meumere, lanjut ke Kabupaten Ende untuk kegiatan Safari Literasi di Kecamatan Moni, tepatnya untuk jelajah alam Gunung Kelimutu dan budaya masyarakat Suku Lio dan Ende, 6 Mei. Perjalanan menuju Kelimutu cukup terkendala karena hujan dan banyaknya longsor di beberapa ruas jalan.

Selama di Ende, Rumah Sunting didampingi oleh Tim TN Kelimutu. Di sini, Rumah Sunting juga membagikan buku yang diterbitkan Rumah Sunting sendiri sebelum menuju ke Kota Ende.

Lanjut ke Kota Ende, 7 Mei, Rumah Sunting menyempatkan singgah ke Rumah pengasingan serta tempat perenungan Bung Karno sebelum akhirnya lanjut menuju Bajawa, Kabupaten Ngada untuk berkunjung ke Desa Adat Bena.

Di Bajawa, tim Rumah Sunting dibagi dua. Satu tim menjelajahi alam Bajawa dengan melakukan pendakian Gunung Inerie 2.245 mdpl, dan sebagian tim menjelajahi budaya masyarakat adat Desa Bena serta bertemu dengan koperasi dan petani kopi Bajawa. Selama di Ngada, Rumah Sunting didampingi tim BBKSDA NTT yang dipimpin Kepala Seksi Wilayah III, Yance.

Setelah semalam menginap di Ruteng, Jelajah Budaya dan Safari Konservasi lanjut ke Desa Adat Waerebo, Kabupaten.Manggarai, 8 Mei. Karena tiba di desa terakhir sebelum Waerebo terlalu sore, maka tim memutuskan untuk menginap di desa tersebut.

Paginya, 9 Mei, tim menuju Waerebo dengan menggunakan ojek motor lanjut berjalan kaki selama tiga jam. Selama di Desa Adat Waerebo, Rumah Sunting tetap didampingi tim BBKSDA NTT.

Dari Waerebo  tim lanjut ke Kota Labuan Bajo. Di Labuan Bajo, tim Rumah Sunting sudah ditunggu tim TN Komodo yang dipimpin Kepala Seksi Wilayah II TN Komodo Pulau Komodo, Lukman Hidayat dan rekan-rekan, ditambah tim BBKSDA NTT.

Tanggal 10 Mei pagi, tim KSB Rumah Sunting menjelajahi kemegahan alam TN Komodo, melihat dengan dekat konservasi komodo di Pulau Rinca dan bertemu ramah dengan petugas TN Komodo serta masyarakat adat Bajo di Pulau Rinca tersebut.

Mustamin adalah tokoh adat masyarakat adat Bajo di Desa Pasir Panjang, Pulau Rinca yang ditemui tim Rumah Sunting. Di sini Rumah Sunting yang juga didamlingi Kepala Resort BBKSDA Pasir Panjang, Fakhri, berdiskusi, menggali dan mencatat sejarah, adat, budaya dan keharmonisasian antara masyarakat Bajo dengan alam sekitar yang sudah menjafi kawasan konservasi.

Dari Desa Pasir Panjang, tim Rumah Sunting dibawa ke Pulau Kelor untuk menjelajahi keindahan alam dan laut di sana.

“Perjalanan panjang Jelajah Alam dan Budaya melalui Safari Literasi Konservasi dari satu kabupaten ke kabupaten lain di sepanjang Pulau Flores ini, tidak akan bisa kami selesaikan tanpa dukungan penuh dr KLHK melalui BBKSDA NTT, TN Kelimutu dan TN Komodo. Apa yang kami dapat dalam perjalanan ini akan menjadi maha inspirasi dalam karya-karya kami berikutnya. Terimakasih,” kata kunni.

Kepala TN Komodo Hendrikus Rani Siga SHut, MSc yang bertemu dengan tim Rumah Sunting, 10 Mei di rumahnya malam itu, juga mengucapkan terimakasih atas kunjungan dan perjalanan Safari Literasi Konservasi yang dilakukan Rumah Sunting.

“Anak-anak muda yang gigih berliterasi konservasi seperti Rumah Sunting ini, susah ditemukan. Jauh-jauh lagi dari Riau. Apalagi Konservasi itu jarang yang mau menerjuni. Terimakasih sudah datang ke NTT, ke TN Komodo dan bersama-sama untuk konservasi. Semoga semua yang kita perbuat ini bermanfaat bagi alam dan masyarakat kita,” kata Hendrikus malam itu.(*)

Pos terkait