Mengintip fakta SMAN Plus, boarding school semi militer unggulan Riau

Siswa pria kelas XI SMA Negeri Plus Pekanbaru. Foto: Outsiders

Pekanbaru (outsiders) – Disiplin dan keramahan sudah tergambar saat memasuki  gerbang Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Plus. Senyuman dari security di pos jaga menyambut kedatangan kami. “Selamat pagi, pak. Ada yang bisak kami bantu?” demikian ia menyapa dengan tetap mempertahankan senyumannya.

Setelah menjelaskan bahwa kedatangan kami untuk bertemu dengan kepala sekolah, Edi Sutono, M.Pd,  ia kemudian membuka portal dan mempersilahkan untuk masuk serta memberi petunjuk dimana harus memarkirkan kendaraaan.

Bacaan Lainnya

Turun dari kendaraan, kami disambut dengan nuansa asiri yang melekat di setiap sudut komplek sekolah seluas lebih kurang 10 hektar tersebut. Sangat terasa perbedaan atmosfirnya, meskipun Pekanbaru dikenal sebagai negeri yang memilik temperatur rata- rata diatas 250C – 350C, namun di sini lebih nyaman karena sebaran pepohonan rindang berumur puluhan tahun tertancap kokoh melambaikan dedaunannya saat ditiup angin untuk menyebarkan oksigen ke seluruh penjuru.

“Pak Edi tengah briefing bersama guru- guru di ruang rapat, beliau meminta bapak untuk menunggu di ruangannya. Mari, pak, saya antar,” demikian protokoler sekolah menyambut kedatangan kami, Ahad (07/07/2024).

Sepuluh menit berselang, Edi Sutono telah bergabung dengan kami dan suasana hening berlahan mencair. “Maaf, bang, tadi saya briefing dengan rekan- rekan guru terkait upacara penyambutan murid baru,” ujarnya membuka percakapan sembari menyalami kami.

Kepala Sekolah SMAN Plus Riau, Edi Sutono, M.Pd. Foto: Outsiders

“SMAN Plus awalnya diinisiasi oleh Saleh Djasit kala beliau menjabat sebagai Gubernur Riau. Dulu  pengelolaan sekolah dibawah Yayasan Bina SDM Riau, Diketuai Letjend (Pur) Syarwan Hamid, namun seiring perjalanan waktu, akhirnya ditetapkan sebagai SMA Negeri dibawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau,” demikian Edi Sutono bercerita sejarah singkat sekolah yang ia pimpin.

Perjuangan hingga menjadi sekolah andalan sejak didirikan 1998 lalu, diwarnai proses panjang dari titik nol. Murid pertama justru menumpang belajar di gedung milik Akademi Koperasi Riau di jalan lintas Pasir Putih sebelum lokasi sekarang dibangun.

Sejumlah perusahaan besar juga turut ambil bagian membangun SMAN Plus, mulai dari PT Caltex Pacific Indonesia, Surya Dumai, Sinar Mas Grup, RAPP dan IKPP memberikan kontribusi terhadap lahan, bangunan serta fasilitas sekolah hingga layak ditempati sebagai sarana dan prasarana belajar modern yang tidak menghilangkan nuansa Melayu Riau.

“Saat ini kami tinggal melanjutkan perjuangan untuk terus membesarkan sekolah ini dengan pengembangan dan inovasi di berbagai aspek untuk menjadikan SMAN Plus tetap terdepan,” ujar Edi Sutono.

Ditanya tentang pengembangan seperti apa yang menjadi resolusi sekolah, Bagi Edi paling mendasar adalah penerapan sistem pendidikan terintegrasi, yaitu pembekalan ilmu pengetahuan, teknologi, pembinaan disiplin diri dan moral serta peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada sang Khalik. Dari konsep dasar tersebut, apapun bentuk pengembangan yang akan dilakukan, tinggal mengikuti.

“Tidak cukup hanya menciptakan manusia pintar saja, namun perlu diisi dengan moral dan kedisiplinan yang wajib diterapkan sejak siswa pertama kali menjejakkan kaki sebagai keluarga besar SMAN Plus,” imbuh Edi.

Selain itu, konsep pembinaan ala asrama yang diadopsi adalah semi militer. Artinya setiap siswa wajib memiliki disiplin tinggi, jiwa korsa, jiwa patriot serta memiliki empati terhadap sesama.

“Paling tepat untuk mendidik kedisiplinan tentu saja model pendidikan militer karena ada penerapan langsung pada kehidupan siswa selama mereka berada di asrama. Sementara untuk pembina, saat ini ada dua orang yang memiliki latar belakang militer dari TNI AD. Nantinya, setelah mereka tamat, doktrin disiplin tersebut akan terus terpakai ketika mereka berbaur dengan masyarakat. Harapan kita, mereka juga mampu menyebarkan konsep disiplin ini dimanapun mereka berada,” papar pria yang akrab dipanggil Mister Edi oleh kolega dan siswanya tersebut.

Foto: Outsiders

Pengembangan dan inovasi sistem pembelajaran juga menjadi perhatian utama, karena menyangkut capaian mutu pendidikan yang sangat berpengaruh kepada potensi penyerapan ilmu pengetahuan.

“Mengikuti sistem pendidikan asrama tentu saja memiliki pola khusus agar prestasi warga belajar terus meningkat. Pengembangan dan inovasi terus kami lakukan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman, terutama yang bersentuhan dengan teknologi,” kata Edi.

Berkaitan dengan pembinaan moral, disamping sudah terbina dengan penerapan metode semi militer, diakui Edi pihaknya menambahkan pola pembinaan keagamaan melalui kegiatan- kegiatan rutin.

“Perkara penerapan disiplin tadi, akhirnya mengarah kepada kedisiplinan anak dalam menjalani kewajiban sebagai pemuluk agama. Khusus siswa beragama Islam, kegiatan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Azza Wa Jalla, dipusatkan di Masjid Darul Ihsan yang berada di komplek sekolah. Selain kewajiban melaksanakan sholat fardhu berjemaah, siswa juga diberikan tuntunan penerapan aqidah seperti sholat sunnah, tahfidz serta tadabur Al Quran. Disamping itu juga ada kajian rutin berupa ceramah agama serta  kajian hadist hingga menjalankan puasa Senin – Kamis,” ungkap Edi.

Terkait sistem penerimaan siswa baru, SMAN Plus memiliki cara sendiri, bahkan pihak sekolah lebih dahulu melakukan penjaringan jauh- jauh hari sebelum calon siswa melaksanakan ujian akhir tingkat SMP. Mulai dari range nilai kumulatif semester hingga tinggi badan menjadi acuan seleksi bagi siswa reguler, demikian juga calon siswa jalur Tahfidz Al Quran dan jalur prestasi.

“Kami akui, pola penerimaan peserta didik baru yang dilakukan selama ini cukup efektif untuk menyeleksi calon siswa unggulan. Selain pintar dan berprestasi, juga dilakukan penilaian terhadap ketangguhan fisik dan mental. Untuk mempermudah pendaftaran, kita laksanakan secara online melalui situs resmi sekolah. Tahap awal adalah seleksi administrasi berdasarkan data yang telah diunggah calon siswa,” ujar Edi menjelaskan.

Sikap Siaga, hasil pembentukan karakter semi militer.- Foto: Outsiders

Selanjutnya, setelah lulus seleksi administrasi, siswa akan mengikuti Computer-Based Test untuk bidang akademik, dilanjutkan psikotes, tes kesehatan serta fisik yang langsung dinilai oleh profesional dari tenaga medis serta unsur TNI/ Polri. “Tahap akhir adalah penilaian kemampuan komunikasi berbahasa Inggris serta wawancara untuk menggali minat dan bakat calon siswa,” imbuh Edi.

Disamping calon siswa dari lokal Kota Pekanbaru, dikatakan Edi pihaknya juga memberikan kesempatan dari kabupaten/ kota yang ada di Provinsi Riau. “Untuk keterwakilan, tentu saja kami menjaring bibit unggul dari kabupaten/ kota. Asalkan mampu bersaing dan lulus tes, dipastikan dapat bersekolah di SMAN Plus,” ucapnya.

Diungkit biaya sekolah, dijelaskan Edi secara umum ditalangi oleh Pemerintah Provinsi Riau yang dianggarkan melalui APBD. “Selain itu, kami juga menerima bantuan dana BOSDA dan BOSP. Dana tersebut kami gunakan semaksimal mungkin untuk operasional sekolah. Artinya siswa tidak dibebani lagi dengan uang sekolah, biaya asrama, makan dan minum serta  beberara item lainnya. Namun demikian, untuk keperluan pribadi, tetap disediakan oleh siswa bersangkutan,” imbuhnya.

Keperluan pribadi dimaksud adalah yang berkaitan dengan perlengkapan siswa seperti tambahan baju seragam, baju harian, keperluan mandi dan lain sebagainya. Pengadaan keperluan pribadi juga telah disepakati terlebih dahulu dengan orang tua siswa melalui rapat.

“Kita tidak ingin timbul masalah di kemudian hari, makanya orang tua siswa kami ajak bermusyawarah untuk memutuskan biaya tambahan yang harus dikeluarkan secara pribadi sebelum siswa masuk asrama. Bahkan beberapa orang tua ada yang  menyediakan perlengkapan siswa sendiri, dan sebagian lainnya menyerahkan kepada sekolah untuk dibeli secara kolektif, jadi tidak ada paksaan,” ungkap Edi.

Edi mengaku bila seluruh biaya harus ditanggung oleh sekolah, pihaknya merasa belum memiliki kekuatan. “Dengan anggaran yang tersedia, terus terang kami belum sanggup untuk menanggung secara keseluruhan. Kami hanya mampu memaksimalkan anggaran sehingga tercukupi keseluruhannya. Bila dikatakan kurang, ya, sangat kurang, namun harus tetap dijalankan sebagaimana tujuan sekolah, yaitu menciptakan generasi muda unggulan,” tambahnya lagi.

Upacara penyambutan siswa baru TP 2024/ 2025, Ahad (07/007/2024) / Foto: Outiders

Untuk terus melengkapi sarana dan prasarana, pihak sekolah tetap berkoordinasi dengan stakeholder dan secara bertahap permintaan yang diajukan pihak sekolah dapat direalisasikan. “Disamping renovasi gedung dan bangunan, yang telah berdiri sejak 2004, kami juga mengajukan tambahan gedung baru. Begitu juga transportasi operasional berupa bus sekolah. Harapannya, dalam waktu dekat pengajuan kami dapat dikabulkan,” katanya.

Dari pantauan di lapangan, meski tertata rapi dan bersih, memang terlihat sejumlah fasilitas gedung SMAN Plus perlu direnovasi karena termakan usia. Satu gedung asrama baru juga terlihat sudah berdiri, namun belum dioperasikan karena harus menunggu kelengkapan mebeler serta fasilitas lainnya.

Keceriaan siswa ditengah kedisiplinan. Foto: Outsiders

Mutu Lulusan

Dengan fasilitas saat ini, Edi Sutono beserta koleganya tidak menyerah untuk terus menggaungkan nama SMAN Plus sebagai salah satu sekolah terbaik di Provinsi Riau terutama dari sisi mutu lulusan. Terbukti, dari 148 lulusan 2024, sebanyak 83 orang diterima pada sejumlah perguruan tinggi favorit. “Delapan puluh tiga lulusan tersebut mengikuti jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) dan jalur Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT),” ungkapnya.

Tahun sebelumnya, SMAN Plus belum dapat menggunakan 40 persen seleksi SNBP karena terkendala akreditasi sekolah yang telah kadaluarsa. “Alhamdulillah, setelah kita urus dan mendapatkan akreditas A seperti semula, SMAN Plus kembali memperoleh 40 persen dari seleksi SNBP,” ucapnya.

Nama- nama lulusan yang berhasil masuk perguruan tinggi favorit tersebut diantaranya adalah Hibrizi Ghizan Afiqi dan Naufal Mahdi Tafiqurrahman di Universitas Gajah Mada, Adhitya Dwi Febrian, Elga Yana Putra, Hijriyan Febriyani, Nesya Syifa Anjani dan  Sinti Ayu Maharani di Universitas Brawijaya, Andhika Yoga Pratama, M Hanif dan Mhd Rasyid Rajih di Institut Teknologi Bandung serta beberapa nama lainnya yang diterima di Universitas Pajajaran, Universitas Sepuluh November, Institut Pertanian Bogor dan lain- lain.

“Belum lagi yang diterima dari jalur SNBT. Mulai dari Universitas Pertahanan, Universitas Diponegoro, Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang hingga Universitas Riau. Sementara yang mengisi sejumlah sekolah kedinasan juga ada. Keberhasilan peserta didik SMAN Plus tentu saja tidak terlepas dari penerapan konsep pendidikan boarding school serta peran serta seluruh guru- guru pembimbing dengan metode pembalajaran yang kita susun sedemikian rupa untuk memperoleh lulusan unggulan,” pungkas Edi mengakhiri pembicaraan.

Pos terkait