Dari Meksiko ke Indonesia, Perjalanan Padel hingga Menjadi Tren Olahraga Urban

Ilustrasi: Rekayasa AI, credit Gemini-Google

Pekanbaru (Outsiders) – Padel, olahraga raket yang memadukan unsur tenis dan squash, berkembang dari permainan yang diciptakan di Meksiko pada 1969 menjadi olahraga global dengan sekitar 35 juta pemain amatir pada 2026. Di Indonesia, popularitasnya meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, ditandai pertumbuhan klub dan pembangunan lapangan di berbagai daerah.

Sejarah padel bermula di Acapulco, Meksiko. International Padel Federation (FIP) mencatat olahraga tersebut diciptakan pengusaha sekaligus penggemar tenis, Enrique Corcuera, pada 1969. Ia ingin membangun lapangan tenis di rumahnya, tetapi keterbatasan lahan membuatnya merancang lapangan berukuran lebih kecil, yakni 20 x 10 meter, dengan dinding di sekelilingnya dan net di tengah.

Dinding menjadi bagian penting dalam permainan tersebut. Bola yang memantul di lantai dapat mengenai dinding sebelum dikembalikan pemain, sehingga pertandingan menghasilkan pola permainan berbeda dari tenis konvensional. Istri Corcuera, Viviana, turut menyusun aturan awal permainan itu sebagai hadiah ulang tahun untuk suaminya.

Padel mulai keluar dari Meksiko pada awal 1970-an. Pangeran Alfonso de Hohenlohe memperkenalkan olahraga tersebut ke Spanyol setelah mengunjungi kediaman Corcuera di Acapulco. Ia kemudian membangun lapangan padel di Marbella Club Hotel, Andalusia.

Pada periode yang hampir bersamaan, Julio Menditeguy membawa permainan itu ke Argentina. Dari kedua negara tersebut, padel berkembang menjadi olahraga yang memiliki komunitas pemain, klub, dan kompetisi tersendiri.

Memasuki 1980-an, penyebaran padel meluas ke Brasil, Uruguay, Cile, Prancis, Amerika Serikat, dan Kanada. Argentina mendirikan asosiasi padel nasional pertamanya pada 1988. Setahun kemudian, lapangan kaca yang dapat dibongkar dan dipindahkan diperkenalkan, membuka peluang pembangunan fasilitas padel di lokasi yang lebih beragam.

Perkembangan berikutnya berlangsung pada 12 Juli 1991, ketika International Padel Federation dibentuk di Madrid oleh asosiasi padel Argentina, Spanyol, dan Uruguay. Kejuaraan Dunia Padel pertama digelar pada 1992 di Madrid dan Sevilla, Spanyol.

Pembentukan federasi internasional dan penyelenggaraan kejuaraan dunia menjadi bagian penting dalam pembakuan aturan serta pengembangan kompetisi lintas negara. Pada 1997, Spanyol dan Argentina menyepakati penyatuan aturan permainan dan standardisasi nama padel.

Pada 2005, sirkuit profesional internasional pertama, Padel Pro Tour, mulai diselenggarakan oleh pihak swasta. Kompetisi tersebut berlangsung selama delapan musim sebelum digantikan World Padel Tour pada 2013.

Perkembangan olahraga ini berlanjut pada 2019 ketika FIP meluncurkan sirkuit internasional yang kemudian dikenal sebagai CUPRA FIP Tour. Sementara itu, Premier Padel didirikan pada 2022 dan berkembang menjadi sirkuit profesional global resmi yang berada di bawah tata kelola FIP.

Skala penyelenggaraan kompetisi internasional ikut meningkat. Pada 2024, Premier Padel menggelar 24 turnamen di 16 negara. FIP juga mencatat jumlah federasi nasional yang berafiliasi mencapai 70 pada 2023.

Memasuki 2026, FIP mencatat 100 federasi berafiliasi, padel dimainkan di lebih dari 150 negara, dan jumlah pemain amatir di seluruh dunia diperkirakan mencapai 35 juta orang. Angka tersebut memperlihatkan perubahan padel dari olahraga yang awalnya berkembang di kalangan terbatas menjadi cabang olahraga dengan jangkauan internasional.

Di Indonesia, perkembangan padel berlangsung jauh lebih belakangan dibandingkan Eropa dan Amerika Latin. Sejumlah pemberitaan media nasional menyebut olahraga ini mulai diperkenalkan melalui komunitas ekspatriat di Bali pada dekade 2010-an, sebelum menyebar ke pusat-pusat perkotaan lainnya.

Bali memiliki lingkungan yang mendukung pengenalan olahraga tersebut, antara lain komunitas internasional dan fasilitas rekreasi. Namun, informasi mengenai tahun pembangunan lapangan pertama di Indonesia belum dapat dipastikan melalui satu catatan sejarah resmi yang terbuka. Karena itu, Bali lebih tepat disebut sebagai salah satu pintu awal perkembangan padel di Tanah Air, bukan sebagai lokasi yang telah terbukti secara definitif sebagai tempat pertama olahraga ini dimainkan.

Popularitas padel kemudian terlihat semakin nyata di Jakarta dan kawasan sekitarnya. Lapangan komersial bermunculan, klub membentuk komunitas pemain, sedangkan pemesanan lapangan dan penyelenggaraan pertandingan menjadi bagian dari kegiatan olahraga rekreasi perkotaan.

Pada Agustus 2025, The Jakarta Post melaporkan bahwa PBPI menyebut Indonesia memiliki 133 lapangan padel pada Juni 2025. Sekitar 40 persen berada di wilayah Jakarta Raya dan 30 persen di Bali. Laporan tersebut juga mencatat pembangunan kompleks padel baru untuk memenuhi permintaan pasar.

Pertumbuhan padel di Indonesia terlihat lebih jelas melalui data dalam Indonesia Padel Report 2025 yang disusun Core & Court dan diberitakan Katadata pada 26 Februari 2026.

Menurut laporan tersebut, Indonesia pada 2021 memiliki tiga klub dan 15 lapangan padel. Jumlahnya meningkat menjadi 293 klub dan 947 lapangan pada 2025. Dengan demikian, jumlah lapangan yang tercatat bertambah lebih dari 60 kali dalam empat tahun.

Core & Court juga memperkirakan jumlah pemain padel di Indonesia telah melampaui 20.000 orang, dengan 439 pemain profesional. Laporan tersebut menilai pertumbuhan infrastruktur, penggunaan platform digital, dan partisipasi anak muda turut mendukung perkembangan olahraga ini.

Angka 947 lapangan tersebut merupakan estimasi untuk 2025, bukan jumlah yang dapat langsung dianggap sebagai total fasilitas aktif pada Oktober 2026. Data itu juga berasal dari cakupan dan periode pendataan yang berbeda dari angka 133 lapangan yang dilaporkan PBPI pada Juni 2025. Perbedaan tersebut perlu diperhatikan ketika membandingkan perkembangan fasilitas padel di Indonesia.

Perkembangan padel di Indonesia juga mulai memasuki tahap pengorganisasian olahraga. Pada laman resmi FIP, Indonesian Padel Association tercatat berafiliasi pada 2025, dengan Galih Dimuntur Kartasasmita sebagai presiden asosiasi. FIP mencantumkan PBPI sebagai situs organisasi padel Indonesia.

Kehadiran organisasi nasional menjadi bagian penting bagi penyelenggaraan kompetisi, pendataan pemain, pembinaan atlet, dan hubungan Indonesia dengan ekosistem padel internasional.

Meski demikian, pertumbuhan jumlah lapangan dan pemain belum dengan sendirinya membuktikan pemerataan akses. Biaya pembangunan fasilitas, tarif sewa lapangan, ketersediaan pelatih, serta akses terhadap kompetisi dapat memengaruhi kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi.

Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut diikuti pembinaan atlet, kompetisi berjenjang, standardisasi fasilitas, dan pengembangan komunitas di luar kota-kota besar.

Perjalanan padel selama lebih dari lima dekade menunjukkan bagaimana sebuah permainan yang berawal dari keterbatasan lahan di Meksiko dapat berkembang menjadi olahraga internasional. Di Indonesia, lonjakan jumlah klub dan lapangan menjadi indikator kuat meningkatnya minat masyarakat. Keberlanjutan tren ini akan bergantung pada kemampuan ekosistem olahraga nasional mengembangkan partisipasi, pembinaan, dan kompetisi secara konsisten.

Pos terkait