Senja di Selat Sunda, Menghapus Penat Perjalanan Panjang

Oleh Rosyita Hasan

Tawa dan kilatan kamera ponsel memecah angin sore di dek kapal Ro Ro yang melaju di Selat Sunda. Para penumpang yang sebelumnya terdiam lelah di bangku bus kini larut menikmati senja, seolah melupakan panjangnya perjalanan dari Pekanbaru.

Sekitar Pukul 16.00 WIB, kapal Ro Ro yang saya tumpangi perlahan menjauh dari dermaga Bakauheni. Mesin meraung pelan, lambung kapal mulai membelah perairan Selat Sunda, dan garis pantai Lampung perlahan mengecil di belakang. Di hadapan, perjalanan menuju Merak terbentang dalam balutan cahaya senja yang mulai hangat.

Setelah berjam jam duduk di atas bus dari Pekanbaru menuju Serang untuk menghadiri Hari Pers Nasional 2026, tubuh terasa lelah dan pikiran penat. Jalan lintas Sumatera yang panjang seolah menyisakan sisa kantuk dan pegal di punggung. Namun begitu kaki menapaki dek kapal dan angin laut menyentuh wajah, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah laut menyambut dengan pelukan yang sudah lama dirindukan.

Bagi saya, laut selalu menghadirkan rasa rindu pulang, ruang luas yang memberi napas lebih panjang. Berdiri di pagar dek atas, memandang cakrawala yang perlahan berubah warna dari biru terang menjadi jingga keemasan, kerinduan itu seperti terbayar. Riak gelombang memantulkan cahaya matahari senja, menciptakan kilau yang menenangkan mata dan hati.

Beberapa teman seperjalanan tampak tak ingin menyia nyiakan momen. Mereka bergerombol di sisi kapal, sibuk berswafoto dengan latar laut dan langit senja. Tawa mereka pecah tertiup angin, seolah lupa pada kepenatan perjalanan darat yang panjang. Ada yang mengangkat tangan tinggi tinggi, ada yang mengatur sudut kamera agar cahaya senja jatuh sempurna di wajah. Di antara deru mesin kapal dan suara ombak, keceriaan itu terasa tulus.

Sebagian lain memilih duduk santai di bangku dek, menyeruput kopi hangat sambil berbincang ringan tentang agenda yang akan dihadiri di Serang. Namun percakapan mereka tak lagi bernada lelah. Laut telah mengubah suasana. Perjalanan yang semula terasa melelahkan kini menjadi pengalaman yang berkesan.

Di kejauhan, siluet pulau kecil tampak samar, sementara matahari kian merendah di ufuk barat. Momen itu menghadirkan keheningan yang justru menguatkan. Saya menyadari, penyeberangan ini bukan hanya perpindahan dari Sumatera ke Jawa, namun telah menjadi ruang jeda, ruang pemulihan, sekaligus ruang nostalgia terhadap laut yang lama tak disapa.

Ketika lampu lampu pelabuhan Merak mulai menyala dan kapal bersiap merapat, saya merasa perjalanan ini telah memberi  kesan yang melekat, menghapus penat, dan sedikit banyak melepas kerinduan terhadap laut.

Di atas kapal Ro Ro Bakauheni Merak sore itu, laut menjadi teman perjalanan, pengingat bahwa di tengah agenda besar dan perjalanan panjang, selalu ada ruang sederhana yang mampu mengembalikan semangat.

Di antara deru mesin dan suara pengumuman awak kapal, saya menyadari bahwa setiap perjalanan memiliki titik heningnya sendiri. Bagi saya, titik itu hadir di atas kapal Ro Ro Bakauheni – Merak saat itu, ketika Selat Sunda menjadi ruang pelepas lelah sebelum melangkah ke agenda besar Hari Pers Nasional 2026 di Kota Serang.

Pos terkait