Catatan Jurnalis Muda: Kenangan Bom Natal 2000 di Sungai Panas Batam

Ilustrasi : Foto dibuat menggunakan Lab Google ImageFX

Oleh: Rosyita Hasan

Pagi itu, 25 Desember 2000, langit Batam tampak cerah seperti tak tahu apa yang akan terjadi. Hari masih terlalu dini untuk hiruk-pikuk kota. Jalan Laksamana Bintan di kawasan Sungai Panas masih sepi. Namun segalanya berubah saat sebuah bungkusan mencurigakan ditemukan di pelataran Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), tepat di depan rumah Tuhan yang biasanya menjadi tempat bernaung bagi ratusan jiwa di hari Natal.

Jam tangan saya menunjukkan pukul delapan pagi ketika kaki ini menjejak lokasi. Saya datang sebagai wartawan yang baru bertugas setahun, seorang pemula yang baru saja ditugaskan di Koran Lantang, sebuah surat kabar lokal yang mulai dikenal masyarakat Batam.

Dengan semangat membara tapi jantung yang berdebar tak karuan, saya menyelinap di antara garis polisi pembatas akses publik ke area gereja. Tidak ada kebaktian pagi itu. Hanya beberapa pegawai gereja yang terlihat berdiri gugup, saling bertanya-tanya sambil mengangkat bahu. Mereka tak menyangka, di hari yang seharusnya penuh puji-pujian dan lilin-lilin terang, malah diusik oleh aroma teror yang menyusup dalam bungkusan plastik berwarna hitam.

Gegana dari Brimob Polda Kepulauan Riau sudah lebih dulu tiba. Mereka menyisir lokasi dengan ketelitian yang membekukan udara. Mata mereka tajam, gerak-gerik penuh kewaspadaan.

Di halaman gereja, sebuah mobil khusus milik Jihandak Gegana terparkir, pada pintu bagia belakang, menggantung peralatan pelumpuh bom dengan model tabung silinder baja berwarna merah khas Brimob membuat suasana semakin mencekam. Para personel, berseragam lengkap dengan pelindung tubuh dan helm, hilir mudik seperti bayang-bayang hitam kematian.

Saya berdiri kaku, gemetar dalam diam. Sementara tepat disebelah berdiri Bang Yos, senior saya di Koran Lantang, sambil menggenggam tangkai payung hitam. Tak ada tempat untuk bersembunyi dari ketegangan itu. Sesaat kemudian Bang Yos meminta saya sedikit merunduk dari balik onggokan semen yang telah membatu. Ia mengubah posisi payung mengarah ke muka kami seolah ingin membentengi diri dari ledakan. Saya tidak tahu apa yang tengah difikirkan Bang Yos, yang jelas raut wajahnya terlihat menggambarkan ketegangan. Bom… Kata itu bergema di kepala seperti palu godam. Ini bukan latihan. Ini nyata.

Sekitar pukul sembilan, tim Gegana berhasil menemukan bungkusan itu. Hitam, mencurigakan, dengan bentuk tak lazim. Perlahan, mereka memindahkannya ke bagian belakang halaman gereja. Di sana, bungkusan itu dimasukkan ke dalam sebuah tabung baja silinder berwarna merah, wadah anti-ledak yang tampak seperti peti mati bagi benda-benda berbahaya. Saya hanya bisa menahan napas.

Beberapa menit setelah area dinyatakan aman, terdengar ledakan. Dentumannya keras, menyayat langit pagi. Getarannya menembus tanah, merambat ke telapak kaki saya, naik ke dada, mengoyak ketenangan. Awan putih membumbung tinggi, seperti cendawan. Sebuah pemandangan yang tak pernah saya bayangkan akan terpapar didepan mata pada hari pertama saya meliput peristiwa besar.

Saya terdiam. Badan lemas. Rasanya seperti berada di medan perang. Keinginan untuk lari menguar dalam dada, namun tertahan oleh rasa ingin tahu dan tanggung jawab yang baru saya emban jurnalis. Saya tahu, cerita ini harus ditulis. Dunia harus tahu apa yang terjadi.

Ketika petugas akhirnya mengizinkan wartawan mendekat, saya langsung berburu keterangan. Seorang petugas gereja, yang ternyata penjaga sekaligus office boy, mengaku sebagai orang pertama yang melihat bungkusan itu. Ia curiga karena tak biasa ada benda diletakkan di pojok gerbang sebelum kebaktian dimulai. Instingnya benar. Ia menyelamatkan banyak nyawa.

Dari komandan Gegana saya dapatkan pernyataan resmi bahwa bom yang ditemukan adalah bom rakitan aktif, cukup berdaya ledak tinggi bila dibiarkan meledak di tempat.

Namun, satu kesalahan fatal saya buat hari itu. Dalam gelombang kecemasan dan kegugupan, saya lupa mengambil foto. Kamera tergantung di leher saya, tapi jari-jari tak mampu bergerak. Momen berharga, yang bisa menjadi bukti visual penting, hilang begitu saja. Saya menyesal, dan penyesalan itu tetap tinggal dalam ingatan, dua puluh lima tahun setelah kejadian.

Bom Natal tahun 2000 di GKPS Sungai Panas bukan hanya tentang upaya teror yang gagal. Ia menjadi pelajaran hidup bagi saya, seorang jurnalis muda yang hari itu belajar tentang keberanian, ketegangan, dan betapa mahalnya nilai sebuah informasi.

Kini, setiap kali saya mendengar dentuman keras atau melihat bungkusan tak dikenal di tempat umum, jantung saya kembali berdetak seperti pagi itu. Sebab, beberapa pengalaman dalam hidup tidak hanya meninggalkan ingatan, tetapi juga membekas dalam tubuh, menjadi bagian dari siapa kita hari ini.

Catatan:

Kejadian ini adalah satu dari sekian banyak rangkaian teror bom Natal tahun 2000 yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Di Batam, berkat kesiapsiagaan petugas dan kewaspadaan masyarakat, tragedi dapat dicegah. Namun, bayang-bayang ketakutan yang ditinggalkannya akan terus hidup dalam kenangan mereka yang pernah menyaksikannya.

Pos terkait