Ritual Nyobeng merupakan bentuk rasa syukur kepada Jubata, sebutan Tuhan dalam kepercayaan Dayak, atas hasil panen yang melimpah serta permohonan perlindungan bagi seluruh masyarakat. Prosesi ini tidak hanya menampilkan tarian dan ritual adat oleh para tetua, tetapi juga mempertontonkan aksi unik seperti memanjat bambu secara terbalik. Lebih dari sekadar seremoni, Nyobeng menjadi simbol identitas budaya dan harmonisasi antara manusia dan alam.

Mewakili Bupati Bengkayang, Sekretaris Daerah Yustianus secara resmi membuka rangkaian ritual Nyobeng yang digelar di Kecamatan Siding, Minggu (15/06/2025). Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya mempertahankan kedaulatan budaya di tengah tantangan zaman.
“Suku Dayak Bidayuh Sebujit adalah penjaga nilai-nilai leluhur yang hidup di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Mereka dikenal tangguh dalam bertani dan sangat menjunjung tinggi tradisi. Budaya adalah jati diri; bila kita kehilangan budaya, maka kita kehilangan arah,” ujarnya penuh semangat.
Acara ini turut dihadiri oleh pejabat daerah, tokoh adat, serta tamu undangan dari berbagai negara seperti Inggris, Australia, Tiongkok, dan Sarawak, Malaysia. Kehadiran mereka mencerminkan tingginya nilai budaya Nyobeng sebagai daya tarik global sekaligus jembatan diplomasi budaya.
Pemerintah Kabupaten Bengkayang pun telah menunjukkan komitmennya dalam pelestarian budaya melalui sejumlah kebijakan, termasuk Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2020 dan Peraturan Bupati Nomor 64 Tahun 2020. Inisiatif ini diperkuat dengan pengembangan desa adat, sentra kuliner tradisional, serta destinasi wisata berbasis budaya yang bertujuan mendongkrak ekonomi masyarakat lokal.
Meski demikian, tantangan utama masih membayangi: bagaimana menjaga ketertarikan generasi muda terhadap warisan budaya di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Dalam konteks inilah, ritual Nyobeng menjadi ruang penting untuk membangkitkan kesadaran kolektif.
“Tanamkan rasa cinta terhadap seni dan budaya warisan leluhur. Jika kita merawatnya, maka daerah ini akan tumbuh kuat dan berkarakter,” pesan Yustianus.
Ritual Nyobeng Sebujit tahun 2025 ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang pelestarian tradisi, tetapi juga menjadi inspirasi bahwa budaya lokal dapat hidup berdampingan dan tumbuh bersama dengan kemajuan zaman. Sebagai bagian dari kekayaan Nusantara, Nyobeng adalah bukti nyata ketangguhan budaya Indonesia. (**)






