Oleh Gentio Harsono
Staf Pengajar Universitas Pertahanan RI
Meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan akhir-akhir ini semakin banyak membawa korban baik jiwa maupun materi.
Bibit Siklon Tropis 95B yang berkembang sejak 21 November 2025 di Selat Malaka tepatnya Perairan Timur Aceh menjadi siklon tropis Sanyar telah berdampak pada peningkatan intensitas memicu cuaca ekstrim berupa hujan lebat, menyebabkan bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 1.200 jiwa , Selain korban meninggal, hingga saat ini tercatat sebanyak 143 orang masih dinyatakan hilang,” kata dia. Sementara jumlah penduduk terdampak yang masih bertahan di lokasi pengungsian mencapai 113.903 jiwa yang tersebar di berbagai wilayah terdampak bencana sejak banjir dan longsor melanda akhir November 2025 lalu (Antara, 21/01/2026).
Di Jakarta, pohon besar dan rindang bukan lagi tempat yang nyaman untuk berteduh dan memperoleh udara segar, kini pohon telah menjelma sebagai salah satu faktor pencabut nyawa yang paling ditakuti warga ketika angin kencang cuaca ekstrim terjadi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyatakan hingga saat ini, terdapat 1.349 warga di daerah ini mengungsi ke tempat lebih aman akibat banjir di daerah itu. Akibat banjir juga menyebabkan 4 orang meinggal dunia, 3 orang tersengat listrik dan 1 orang meninggal dunia saat terjebak macet (Tribunjakarta,23/01/2026). Dampak banjir juga masyarakat Jakarta harus menanggung kerugian ekonomi mencapai 2,1 Trilyun Rupiah pertahunnya. Ini bukti kegagalan kita dalam mengatasi perubahan iklim yang berdampak fisik dan kerugian ekonomi yang besar,
Gejala cuaca akhir-akhir ini menjadi makin ekstrem, tidak menentu dan sukar untuk diprediksi (baca: tidak linear). Demikian halnya, gejala alam ekstrem ikutannya dalam skala yang lebih luas pun muncul seperti musim kemarau lebih panjang dan musim penghujan yang pendek, namun intensitas hujannya justru meningkat drastis. Atau justru sebaliknya musim hujan panjang dan musim kemarau yang pendek dengan peningkatan suhu atmosfer bumi di atas normal. Bagi warga Jakarta tentu masih merasakan teriknya udara Jakarta pada pertengahan Oktober 2025 lalu, hingga mencapai 35 derajat Celcius. Hal yang sama juga menimpa Semarang, Surabaya, Bali hingga Mataram Lombok.
Meningkatnya frekuensi dan kekuatan siklon tropis dan efek yang ditimbulkannya telah membuat sejarah baru, sekarang bukan saja pada lalu lintas pelayaran dan penerbangan terganggu akibat meningkatnya kecepatan angin dan tinggi gelombang laut, namun juga efek dari meningkatnya intensitas hujan di atas normal, suhu udara tinggi serta kemarau panjang.
Beberapa daerah kepulauan Indonesia mengalami kekurangan bahan pokok dan energi akibat terputusnya jalur suplai bahan pangan yang umumnya melalui laut, petani yang gagal panen karena tanamannya terendam banjir, kerusakan infrastruktur sosial seperti jalan dan jembatan yang memutuskan jalur distribusi dan perhubungan simpul-simpul kegiatan ekonomi mengakibatkan tingginya harga bahan pangan dan kebutuhan pokok masyarakat lainnya.
Dalam konteks kajian meteorologi-oseanografi, gejala alam yang demikian ini tidak lepas kaitannya dari apa yang disebut sebagai interaksi lautan-atmosfer (air-sea interaction), di mana proses yang berperan dominan dalam menentukan cuaca dan iklim adalah aliran massa air yang terjadi dalam siklus air (siklus evaporasi-kondensasi-presipitasi) dan proses perpindahan energi dalam bentuk bahang (heat) antara atmosfer dan lautan melalui media angin dan arus laut yang disebut dengan ocean-atmosphere coupling.
Teori Konservasi Energi
Hukum fisika ini menyatakan bahwa jumlah total energi dalam suatu sistem terisolasi (baca: bumi dan atmosfer di atasnya) adalah kekal sepanjang masa.
Dalam suatu sistem terisolasi seperti halnya dalam sistim atmosfir bumi, energi dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dan dapat berubah bentuk dari sifat satu ke sifat lainnya, namun energi tidak dapat diciptakan dan juga dimusnahkan, karenanya dikatakan jumlah energi akan tetap (konservasi).
Jika dikaitkan fenomena yang terjadi di atmosfer, terjadi berbagai perubahan bentuk energi seperti energi laten yang terbentuk akibat perubahan fase air menjadi uap atau es, energi kinetik seperti angin, siklon, pergerakan awan dan uap air, sedangkan energi potensial seperti air yang jatuh sebagai hujan dan lain sebagainya.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, proses interaksi lautan-atmosfer akhir-akhir ini menjadi terganggu akibat meningkatnya suplai bahang di atmosfer dari sisa energi hasil pembakaran fosil (baca: minyak bumi dan batu bara) yang dibuang ke atmosfer. Meningkatkan suplai bahang dan memberikan surplus energi berlebih pada atmosfer.
Jika semula sumber energi utama atmosfer adalah radiasi matahari, sekarang ada peranan baru yang kekuatannya semakin besar, yaitu energi dari sisa pembakaran fosil. Proses ini diyakini sebagai trigger terhadap ketidakstabilan pola temporal iklim dan cuaca.
Sisa energi dari hasil pembakaran fosil yang terbuang ke atmosfer juga akan membentuk gas-gas rumah kaca, menyerap energi matahari dan menyimpannya di atmosfer. Energi panas yang tersimpan pada gas-gas di atmosfer ini akan menambah panasnya atmosfer bumi.
Meskipun laut mempunyai kemampuan dalam menyerap energi melalui proses fotosintesis pada tumbuhan pada lapisan atasnya, namun laut juga mempunyai kemampuan yang terbatas bila energi berlebih ini terus meningkat.
Proses ini diperparah dengan ketidakmampuan buffer dalam menyerap surplus energi ini seperti berkurangnya luasan vegetasi akibat alih fungsi hutan, tambang dan ekspansi budi daya manusia.
Kembali ke Teori Konservasi, energi yang berlebih di atmosfer tersebut akan berubah bentuk menjadi energi lainnya. Salah satu bentuk energi yang paling mungkin terjadi adalah perubahan menjadi energi kinetik berupa angin kencang seperti halnya meningkatnya siklon tropis, berdampak pada cuaca ekstrim, intensitas dan frekuensi hujan di Indonesia.
Meningkatnya energi yang beredar di atmosfer, memungkinkan terjadinya siklon tropis dengan energi yang lebih besar dari kondisi normalnya baik intensitas maupun frekuensinya. Hal ini merupakan konsekuensi logis agar jumlah total energi di atmosfer adalah tetap (konservasi). Panjang ekornya pun menjadi lebih besar. Meskipun jejak siklon tropis tidak mampu mencapai pada lintang 10° LU/LS (sebagian besar wilayah Indonesia), limpasan dari kekuatan energi ekornya sangat dirasakan di wilayah Indonesia dalam bentuk angin kencang dan gelombang laut yang besar.
Kuatnya penyerapan uap air dan awan pada lokasi sekitar siklon mengakibatkan pengurangan secara drastis jumlah awan dan uap air pada daerah yang jauh dari lokasi siklon yang berakibat pada berkurangnya hari hujan di daerah tropis.
Di daerah tropis hari hujan menjadi sedikit, namun intensitas hujan menjadi lebih besar atau dengan kata lain jumlah hari hujan turun, tetapi frekuensi hujan maksimum harian meningkat.
Orang bijak berkata, bumi hanya mengembalikannya apa yang dikirimkan manusia kepadanya. (hgentio1969@gmail.com)
Tentang penulis
Gentio Harsono. Adalah alumni SEPA PK III 1995/1996 dan ditempatkan pertamakalinya di Dishidros TNI AL (1996). Pendidikan Sarjana Ilmu Kelautan di Universitas Diponegoro, lulus 1995, Magister Ilmu Kelautan di Program Pasca Sarjana (PPS) Institut Pertanian Bogor, lulus pada tahun 2005. Menyelesaikan pendidikan doktor Teknologi Kelautan IPB tahun 2014. Penelitian inetrnasionalnya bersama Japan Agency of Marine Science and Technology (JAMSTEC) Jepang pada tahun 2012. Berbagai jurnal Nasional dan Internasional telah dipublikasikan. Sekarang penulis bekerja sebagai Dosen Tetap di Fakultas Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan RI.





