Festival Lampu Colok Ramadan Kembali Bersinar Terangi Bukit Raya

Kerlap-kerlip cahaya lampu colok memenuhi kawasan Kelurahan Tangkerang Labuai, Kecamatan Bukit Raya, Pekanbaru, pada malam Ramadan. Ratusan lampu minyak yang dipasang warga itu merupakan simbol pelestarian tradisi Melayu yang dahulu menerangi kampung sebelum listrik masuk.

Pekanbaru (Outsiders) – Suasana malam Ramadan di Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru, tampak berbeda pada Ahad (15/3/2026). Ratusan lampu colok yang dinyalakan warga menerangi kawasan Kelurahan Tangkerang Labuai, menandai kembali hidupnya tradisi lama masyarakat Melayu.

Cahaya lampu minyak yang disusun berderet dan membentuk berbagai pola itu menghadirkan suasana khas Ramadan sekaligus menghidupkan kembali tradisi lama masyarakat Melayu.

Bacaan Lainnya

Pada masa lalu, lampu colok menjadi sumber penerangan di perkampungan sebelum listrik masuk ke wilayah permukiman. Saat bulan Ramadan, lampu-lampu tersebut biasanya dipasang di halaman rumah, jalan kampung, hingga sekitar masjid untuk menerangi aktivitas ibadah masyarakat pada malam hari.

Kini, tradisi itu dihidupkan kembali melalui festival yang melibatkan warga dari berbagai lingkungan di Kecamatan Bukit Raya. Ratusan lampu colok dinyalakan secara serentak sehingga menciptakan pemandangan cahaya yang memeriahkan malam Ramadan.

Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar yang meninjau festival tersebut mengapresiasi inisiatif masyarakat dalam menjaga tradisi budaya Melayu di tengah perkembangan kota.

Menurutnya, tradisi lampu colok tidak hanya menjadi simbol penerangan, tetapi juga bagian dari syiar Ramadan, terutama pada sepuluh malam terakhir yang diyakini sebagai waktu mencari malam Lailatul Qadar.

Ia berharap kegiatan serupa dapat digelar di kecamatan lain di Pekanbaru sehingga tradisi lampu colok semakin dikenal dan tetap lestari di tengah masyarakat.

Sementara itu, Camat Bukit Raya Tengku Ardi Dwisasti mengatakan antusiasme masyarakat cukup tinggi dalam mempersiapkan festival tersebut. Persiapan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan berbagai unsur warga di kecamatan itu.

“Festival ini menjadi semangat bagi kami untuk terus melestarikan budaya Melayu di Pekanbaru,” ujarnya.

Pos terkait