Bangkok (Outsiders) – Jaringan narkoba internasional diduga memanfaatkan media sosial untuk merekrut awak kabin maskapai penerbangan Thailand sebagai kurir penyelundup narkotika ke luar negeri. Modus tersebut terungkap setelah seorang pramugari Thai Airways ditangkap di Australia karena diduga membawa lebih dari satu kilogram heroin.
Otoritas Thailand mengungkapkan, sindikat narkoba menggunakan berbagai platform media sosial, seperti TikTok dan Facebook, untuk menghubungi awak kabin yang rutin melakukan penerbangan internasional. Mereka menawarkan imbalan kepada kru pesawat agar bersedia membawa barang titipan yang ternyata berisi narkotika.
Dilaporkan Bangkok Post, Salah seorang pramugari maskapai berbiaya rendah mengaku pernah menerima pesan dari akun TikTok tak dikenal pada 18 Juni 2026. Pengirim pesan menanyakan apakah ia terbang ke Australia dan bersedia menerima jasa penitipan barang dengan bayaran tertentu.
Pramugari tersebut memilih mengabaikan pesan itu. Namun beberapa hari kemudian, seorang pramugari Thai Airways ditangkap aparat Australia setelah diduga menyelundupkan lebih dari satu kilogram heroin yang disembunyikan di dalam tas bawaannya.
Kasus tersebut memicu perhatian luas di Thailand karena melibatkan awak maskapai nasional sekaligus mengungkap pola baru penyelundupan narkoba lintas negara yang menyasar kru penerbangan.
Pemerintah Thailand menyebutkan sedikitnya enam warga negara itu telah ditangkap dalam kasus penyelundupan narkoba internasional sepanjang paruh pertama 2026. Jumlah tersebut dinilai cukup tinggi dan berpotensi merusak citra negara.
Sebagai respons, pemerintah memerintahkan peningkatan pengawasan terhadap awak pesawat di seluruh bandara internasional. Pemeriksaan bagasi akan diperketat, sementara seluruh maskapai diminta menegakkan larangan menerima maupun membawa barang titipan dari pihak lain.
Kantor Pengawasan Narkotika Thailand (ONCB) menyatakan akun TikTok yang menghubungi salah seorang pramugari merupakan bagian dari jaringan narkoba yang membuat identitas palsu di media sosial untuk mencari kurir. Akun tersebut kini telah ditutup, sementara penyelidikan terhadap jaringan pelaku masih berlangsung.
Thai Airways menyatakan akan bekerja sama penuh dengan aparat penegak hukum serta memastikan seluruh pegawainya mematuhi ketentuan perusahaan terkait larangan membawa barang titipan.
Menurut ONCB, sindikat memperoleh pasokan heroin dari kawasan perbatasan negara tetangga sebelum mengirimkannya melalui Thailand menuju negara tujuan, termasuk Australia dan Taiwan. Narkotika disamarkan dalam berbagai barang, seperti pakaian, kain tradisional, kopi kemasan, vas bunga, hingga jaket musim dingin.
Penyelidikan terhadap pramugari yang ditangkap di Australia mengungkap bahwa ia sebelumnya menawarkan jasa penitipan barang melalui media sosial. Setelah dihubungi seseorang melalui Facebook, ia diduga menerima bayaran sekitar 8.800 baht untuk membawa barang tersebut.
Kepolisian Federal Australia memperkirakan heroin yang ditemukan dalam tas pramugari itu memiliki nilai sekitar 500.000 dolar Australia di pasar gelap.
Dalam operasi lanjutan, aparat Thailand menggagalkan lima upaya pengiriman heroin lainnya menuju Australia dan Taiwan dengan menyita sekitar 24,38 kilogram heroin yang disembunyikan di berbagai barang kiriman.
Sejauh ini, aparat telah menangkap dua tersangka yang diduga berperan mengirim paket narkoba dari wilayah perbatasan menuju Bangkok. Otoritas Thailand kini bekerja sama dengan aparat Australia dan Taiwan untuk mengusut jaringan penyelundupan narkoba internasional tersebut.





