Oleh Gentio Harsono
Pengamat Kelautan/ Alumni UNDIP
Siapa bilang El Nino petaka bagi kita….? Perairan Pasifik Barat yang dikenal sebagai tempat dimana embrio El Nino muncul yang menyuplai hampir 40% produk hasil perikanan tuna dunia justru panen ikan ketika “event” ini berlangsung….!
SAMUDRA Pasifik Barat mempunyai karakteristik yang paling unik dibandingkan dengan tempat lain di dunia. Perairan ini begitu kompleks dan rumit baik dari terminologi biologi maupun dinamika osea-nografinya. Masih banyak teka-teki yang belum terpecahkan dan menjadi bahari diskusi yang sangat hangat oleh para ahli kelautan dan perikanan.
Wilayah yang sering disebut dengan sebutan warm water pool (WWP) meliputi sebagian besar perairan utara Papua ini terkenal sejak dipublikasinya hasil penelitian bahwa kelahiran El Nino temyata embrionya berasal dari sini. Bagi masyarakat awam El Nino sering dikaitkan dengan bencana kekeringan berkepanjangan yang efeknya bukan saja pada masalah kebutuhan pokok air manusia, kemudian meluas ke sektor pertanian berkaitan gagal panen, peternakan, perkebunan, kebakaran hutan, suhu udara ekstrim, kesehatan manusia, bahkan sektor transportasi. Dampak pun meluas tidak lagi dalam skala regional, tetapi juga iklim global.
Meliputi wilayah yang dibatasi dan dikelilingi garis khayal yang dilintasi Arus Khatulistiwa Selatan (Southern Equatorial Current) dan Arus Khatulistiwa Utara (Northern Equatorial Current) serta Low-Latitude Western Boundary Current (L-WBC) di bagian baratnya. Mempunyai karakter suhu permukaan laut (SPL) yang hangat dengan rata-rata tahunan 28 C, Suhu Permukaan Lautnya dapat mencapai lebih dari 29°C menjadikan wilayah ini sebagai perairan terhangat di dunia terutama ketika berlangsungnya event La Nina (kondisi dimana Suhu Permukaan Laut perairan Pasifik Barat hangat).


Salinitas pada lapisan permukaannya lebih tawar (32-33 PSU) dibandingkan dengan perairan sekitarnya (35-36 PSU) yang disebabkan tingginya presipitasi dibanding dengan evaporasinya. Massa air dengan karakter hangat dan lebih tawar ini merupakan ciri massa air tropis yang terakumulasi di wilayah Pasifik Barat yang dihantarkan oleh tiupan angin passat (trade wind). Hasilnya adalah terbentuknya lapisan penghalang (barrier layer) yang timbul pada lapisan permukaannya, menghambat naiknya massa air lebih dingin dan lebih asin dari lapisan bawahnya (up welling).
Barrier layer merupakan tipikal stratifikasi perairan tropis yang oleh para ahli kelautan diartikan sebagai jarak vertikal antara batas bawah lapisan tercampur (mixed layer) ditandai densitas yang hampir seragam dengan batas atas lapisan thermodine, lapisan di mana gradien suhu vertikal sangat tajam. Peranan barrier layer ini dapat diibaratkan sebagai dinding pemisah rangmenyekat aliran babang (heat) dari lapisan di atasnya, juga naiknya massa air dingin kaya nutrien dari lapisan bawahnya. Oleh karena itu, dapat dipahami, wilayah ini merupakan laut dengan produktivitas primer rendah atau dengan kata lain menjadi tempat yang tidak potensial bagi usaha perikanan.


Apa yang menjadi daya tarik ikan pelagis samudra seperti cakalang (Katsuwonus pelamis), tuna sirip kuning (Thunnus alba-cores), serta tuna mata besar (Thunnus obe-sus) datang dan memperoleh tempat yang nyaman bagi keberlangsungan hidup mereka di tengah “gurun” yang “panas” dan gersang ini?
Kuncinya, terdapat pada keberadaan barrier layer. Salah satu konsekuensi stratifikasi barrier layer adalah tertahannya penetrasi energi bangkitan angin kencang baratan atau dikenal dengan istilah Westerly Wind Bursts (WWBs) ke lapisan bawah permukaan. Wasterly Wind Bursts merupakan karakter khas angin di Pasifik Barat yang berkaitan dengan variasi intra-seasonal (periode 30-90 harian) gelombang atmosfer antar samudra Madden Julian Oscillation (MJO) yang berasal dari Samudra Hindia.
Selama fase El Nino, WWBs ini menjadi semakin intensif, meningkatkan momentum WWBs yang terjebak di lapisan permukaan, menghasilkan aliran maksimum massa air ke timur sepanjang ekuatorial Pasifik Barat hingga ke Pasifik Tengah. Bersamaan dengan itu, Warm Pool yang berlaku sebagai barrier Layer turut pula bergeser ke timur menuju Pasifik Tengah dengan menyertakan lapisan barrier layer di bawahnya.
Ketidakhadiran Barrier Layer di perairan Pasifik Barat ini memungkinkan tegangan angin bangkitan WWBs mampu mengaduk massa air lebih dalam di kolom Lapisan Tercampur (Mixed Layer). Dengan demikian, pada lapisan bawahnya yang bsemula tertahan lapisan Barrier Layer, massa air dingin dan lebih asin serta kaya hara juga lebih mudah mengadakan sirkulasi terhadap lapisan atasnya. Perubahan proses inilah yang kemudian menginduksi terjadinya peningkatan produktivitas phytoplankton yang merupakan peletak dasar dalam siklus rantai makanan di laut.
Blooming phytoplankton menjadi sering terjadi di perairan ini akibat up welling ini, bahkan dapat mencapai panjang sejauh 4.000 kilometer, seperti halnya kejadian El Nino tahun 1997-1998 di mana terbentuk pita plankton mulai dari Mindanao Filipina ke timur hingga 1600-i8o°BT. Oleh para ardi pengindeaan jauh disebutnya sebagai “The Ribbon Dark”. Namun demikian, kondisi ini situasional dan sangat bergantung pada intensitas El Nino pada saat itu (Indeks El Nino).
Sementara itu, di wilayah perairan sepanjang pantai utara Papua tempat embrio El Nino terbentuk, terjadi peningkatkan produktivitas primer yang luar biasa hingga menyebar jauh ke timur. Selama fase ini konsentrasi khlorofil di permukaan bahkan dapat meningkat tiga kali dibandingkan dengan kondisi normalnya, menghasilkan jumlah makanan” tuna dan rekrutmen tuna yang luar biasa di wilayah ekuatorial Pasifik Barat
Adalah anchovy (Encrasicholina punc-tifer), spesies kunci pakan tuna skipjack dan YFT di perairan Pasifik Barat yang suhu pe-riarannya sangat hangat. Populasi spesies ini cenderung melimpah setelah jeda waktu kira-kira 3-4 minggu setelah fase blooming phytoplankton terutama saat berlangsungnya even El Nino.
Apa yang terjadi di laut sangat kontradiktif dengan keadaan di darat. Ketika kekeringan berkepanjangan melanda di sebagian besar wilayah Indonesia, kondisi di laut justru sebaliknya, produktivitas perairan di wilayah ini melimpah luar biasa….! Selama tahun saja 1995-2002, sekitar 520.000 ton per tahun Yellow Fin Tuna dapat dipanen di wilayah Pasifik. Belum lagi dampak El Nino di perairan Selatan Jawa dimana terjadi Up Wlling ekstrim yang juga meningkatkan produktivitas perikanan tangkap di wilayah ini.
Pada akhirnya, hikmah dari fenomena El Nino adalah Tuhan mengajarkan kita untuk slalu bersyukur, ketika pangan di darat telah menipis, pesan Nya, :”Pergilah ke laut, disana banyak sumber makanan seperti ikan dan hasil laut lainnya untuk dimakan umat manusia.
Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan…?
~~~~~~~~~~~
Penulis: Dr. Gentio Harsono ST MSi, adalah praktisi sekaligus akademisi bidang kelautan terutama bidang keilmuan Hidro-Oseanografi. Alumni Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (S1) dan Ilmu Kelautan IPB University (S2 dan S3). Sekarang Dosen Tetap di Fakultas Strategi Pertahanan UNHAN RI.





