Kuda Sumbawa, transisi budaya Savana Doro Ncanga

Kuda Sumbawa di Padang Savana Doro Ncanga, Dompu, NTB (Dok. Novita Listyani)

Di bawah langit timur Indonesia yang membara, angin kering menyapu hamparan savana Doro Ncanga, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Rumput-rumput liar bergoyang, dan debu tipis membumbung pelan saat segerombolan kuda melesat melintasi cakrawala. Bulu mereka berkilau keemasan di bawah matahari—liar, bebas, dan anggun. Mereka adalah Kuda Sumbawa (Equus ferus caballus), salah satu ras kuda asli Indonesia yang tetap lestari dalam gelombang modernitas dan industrialisasi.

Dompu (Outsiders) – Kuda Sumbawa memiliki akar sejarah panjang yang menjejak kuat di tanah Nusa Tenggara. Meskipun kuda bukan fauna asli Nusantara, para ahli memperkirakan bahwa nenek moyang mereka pertama kali dibawa oleh para pedagang dan penjelajah dari Arab, Cina, India, dan Belanda sejak abad ke-14 hingga 18. Namun, seiring waktu, populasi yang berkembang biak secara alami di pulau Sumbawa telah beradaptasi terhadap iklim, medan, dan pola hidup masyarakat setempat—hingga menjelma menjadi subspesies unik dengan karakter tersendiri.

Bersama dengan kuda Sumba dari Pulau Sumba, kuda Sumbawa sering disebut sebagai salah satu jenis kuda lokal Indonesia yang berkarakter tangguh dan lincah. Namun, keduanya memiliki perbedaan signifikan dari segi fisik dan sifat. Jika kuda Sumba cenderung lebih besar dan digunakan dalam pacuan adat atau ritual, kuda Sumbawa justru dikenal karena daya tahannya dan kegesitannya, menjadikannya favorit untuk kegiatan sehari-hari, transportasi tradisional, hingga olahraga rakyat seperti pacuan kuda dan barapan kebo.

Kuda Sumbawa memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil—tingginya sekitar 120–130 cm diukur dari pundak. Namun, jangan tertipu oleh ukurannya. Tubuhnya kompak dan berotot, dengan kaki yang kuat dan lincah. Warna bulu mereka beragam: cokelat, abu-abu, hitam, hingga kuning keemasan. Yang paling khas adalah bulu yang mengilat, serta ekor dan surai yang lebat dan halus.

Sifat mereka pun mencerminkan ketangguhan alam Sumbawa—liar namun bisa dijinakkan, keras kepala namun setia. Mereka dikenal memiliki stamina tinggi, mampu menempuh jarak jauh dengan beban tanpa mudah lelah. Ini menjadi alasan utama mengapa kuda Sumbawa menjadi kendaraan penting bagi masyarakat pedalaman selama berabad-abad.

Kuda Sumbawa dipelihara dengan pola semi liar oleh masyarakat lokal. (Dok. Novita Listyani)

Kuda Sumbawa banyak ditemukan di daerah pedalaman Pulau Sumbawa, terutama di kabupaten-kabupaten seperti Sumbawa, Dompu, dan Bima. Salah satu habitat paling terkenal mereka adalah Doro Ncanga, sebuah padang sabana luas di kaki Gunung Tambora, Dompu. Di sinilah kawanan kuda liar hidup bebas, menjadi bagian dari ekosistem alami dan budaya masyarakat setempat.

Doro Ncanga menjadi saksi kebebasan dan keindahan alami Kuda Sumbawa. Tidak jarang wisatawan lokal dan mancanegara datang hanya untuk melihat mereka berlari melintasi padang terbuka, menyaksikan jejak langkah yang menggurat tanah dan menyisakan kekaguman.

Bagi masyarakat Sumbawa, kuda bukan sekadar hewan peliharaan. Ia adalah sahabat, kendaraan, simbol status sosial, bahkan bagian dari tradisi dan upacara adat. Anak-anak belajar menunggang sejak usia dini, dan berbagai acara pacuan kuda digelar rutin, terutama dalam momen-momen perayaan atau hari besar daerah.

Pacuan kuda tradisional di Sumbawa unik karena joki yang menunggang sering kali adalah anak-anak yang ramping, berpakaian minimalis, dan menunggang tanpa pelana—mengandalkan keseimbangan, keberanian, dan ikatan batin dengan kudanya. Di sinilah terlihat sinergi antara manusia dan hewan yang terjalin sejak kecil.

Namun, pesona kuda Sumbawa tidak luput dari ancaman zaman. Modernisasi, alih fungsi lahan, dan minimnya perhatian terhadap pelestarian plasma nutfah lokal membuat populasi kuda ini menurun dalam beberapa dekade terakhir. Perkawinan silang yang tidak terkontrol dengan ras kuda luar juga mengancam kemurnian genetiknya.

Pemerintah daerah, bersama komunitas peternak lokal dan akademisi, telah mulai bergerak. Program konservasi, peningkatan kualitas peternakan rakyat, hingga promosi wisata berbasis kuda telah digalakkan. Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) juga memainkan peran penting dalam menjaga standar mutu kuda Sumbawa.

Kuda Sumbawa adalah cermin dari kekayaan hayati dan budaya Indonesia Timur. Dalam tubuhnya yang mungil tersimpan kisah perjuangan, adaptasi, dan simbiosis dengan manusia. Dalam derap langkahnya melintasi savana, ada semangat yang tidak boleh padam—semangat untuk tetap bebas, kuat, dan lestari.

Menjaga Kuda Sumbawa bukan sekadar menjaga satu spesies hewan. Ia adalah tentang menjaga warisan, identitas, dan hubungan manusia dengan alam. Selama kuda-kuda itu masih berlari di Doro Ncanga, selama suara ringkik mereka masih menggema di lereng Tambora, kita masih punya harapan bahwa Indonesia tidak melupakan akar dan alamnya.

Assyifa School

Pos terkait