Puluhan tengkorak manusia tersusun rapi di bawah pohon besar di kawasan pemakaman Desa Trunyan, Bali. Tidak ada liang kubur, tidak pula asap kremasi. Selama ratusan tahun, masyarakat Bali Aga di desa ini mempertahankan tradisi mepasah, ritual pemakaman unik yang membiarkan jenazah menyatu langsung dengan alam.
Bali (Outsiders) – Di lereng timur Danau Batur, terdapat sebuah desa tua bernama Desa Trunyan yang dikenal sebagai salah satu komunitas Bali Aga tertua di Pulau Bali. Desa ini menjadi perhatian dunia karena memiliki tradisi pemakaman yang sangat berbeda dibanding masyarakat Hindu Bali pada umumnya. Jika sebagian besar masyarakat Bali melaksanakan kremasi atau ngaben, warga Trunyan justru membiarkan jenazah terbaring di atas tanah tanpa dikubur maupun dibakar.
Tradisi tersebut dikenal dengan nama mepasah atau sering pula disebut “kubur angin”. Jenazah hanya diletakkan di bawah pohon besar bernama Taru Menyan, lalu ditutupi anyaman bambu berbentuk kerucut. Yang paling mengundang rasa ingin tahu adalah kenyataan bahwa mayat-mayat itu tidak menimbulkan bau busuk menyengat seperti lazimnya proses pembusukan tubuh manusia.
Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun selama ratusan tahun dan masih dijaga ketat oleh masyarakat adat hingga sekarang. Para peneliti budaya menyebut praktik tersebut sebagai salah satu bentuk warisan budaya Bali Kuno yang memperlihatkan hubungan spiritual masyarakat dengan alam dan leluhur.
Lokasi Makam Trunyan
Kompleks pemakaman adat Trunyan berada di tepi timur Danau Batur, Kabupaten Bangli, Bali. Untuk mencapai lokasi makam, pengunjung biasanya harus menyeberangi danau menggunakan perahu motor dari dermaga di Kintamani. Perjalanan penyeberangan memakan waktu sekitar 20 hingga 30 menit.
Lokasi pemakaman berada cukup terpencil dan dipagari tebing serta hutan kecil. Kondisi geografis inilah yang ikut menjaga keaslian tradisi masyarakat Trunyan selama berabad-abad. Di area tersebut berdiri pohon Taru Menyan yang dianggap sakral oleh warga desa. Pohon inilah yang diyakini menjadi pusat dari tradisi pemakaman mepasah.
Masyarakat Trunyan termasuk kelompok Bali Aga, yaitu masyarakat Bali asli yang mempertahankan adat sebelum pengaruh besar Majapahit masuk ke Bali pada abad ke-14. Karena itu, banyak ritual dan tata kehidupan mereka berbeda dibanding masyarakat Bali pada umumnya.
Sejarah Awal Tradisi Pemakaman Trunyan
Asal-usul tradisi Trunyan banyak dikaitkan dengan legenda pohon Taru Menyan. Dalam bahasa Bali kuno, “taru” berarti pohon, sedangkan “menyan” berarti harum. Nama Trunyan sendiri dipercaya berasal dari gabungan dua kata tersebut.
Menurut cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, aroma harum dari pohon Taru Menyan pernah tercium hingga Pulau Jawa. Bau wangi itu membuat beberapa bangsawan datang mencari sumber aroma tersebut hingga akhirnya tiba di kawasan Danau Batur. Dalam perjalanan legenda itu, masyarakat kemudian percaya bahwa pohon Taru Menyan memiliki kekuatan suci dan hubungan dengan dunia roh leluhur.
Dalam kajian sejarah budaya, tradisi mepasah diperkirakan berasal dari masa Bali Kuno dan menjadi bagian dari sistem kepercayaan masyarakat Bali Aga yang sangat menghormati keseimbangan alam. Penelitian historis menyebut praktik ini tidak sekadar ritual kematian, tetapi juga simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur sebagaimana konsep keseimbangan hidup dalam budaya Bali.
Berbeda dengan masyarakat Hindu Bali lainnya yang mempercayai penyucian roh melalui api kremasi, masyarakat Trunyan meyakini tubuh manusia sebaiknya dikembalikan langsung kepada alam. Karena itulah jenazah tidak dibakar maupun dikubur.
Adat Kebiasaan dalam Prosesi Pemakaman
Prosesi pemakaman Trunyan memiliki aturan adat yang sangat ketat. Jenazah yang akan dimakamkan terlebih dahulu dibersihkan menggunakan air, lalu dibungkus kain putih sebagai simbol kesucian. Setelah itu, tubuh dibawa menuju kompleks pemakaman adat.
Di lokasi makam, jenazah tidak diletakkan begitu saja. Tubuh ditempatkan di bawah ancak saji, yaitu kurungan bambu berbentuk setengah kerucut yang berfungsi melindungi jasad dari gangguan hewan liar. Anyaman bambu itu sekaligus menjadi simbol penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal.
Kompleks pemakaman Trunyan juga memiliki pembagian area khusus berdasarkan kategori kematian. Secara umum terdapat tiga tempat pemakaman utama:
- Sema Wayah
Tempat khusus bagi orang dewasa yang meninggal secara wajar dan telah menikah. - Sema Muda
Digunakan untuk anak-anak atau remaja yang belum menikah. - Sema Bantas
Diperuntukkan bagi orang yang meninggal tidak wajar, seperti kecelakaan, bunuh diri, atau penyakit tertentu.
Tidak semua jenazah bisa dimakamkan dengan tradisi mepasah. Hanya mereka yang memenuhi syarat adat tertentu yang boleh ditempatkan di bawah pohon Taru Menyan.
Syarat Pemakaman di Trunyan
Masyarakat adat Trunyan memiliki sejumlah syarat ketat terkait jenazah yang boleh dimakamkan secara mepasah. Syarat tersebut antara lain:
- Meninggal secara alami atau wajar.
- Tubuh jenazah masih utuh dan lengkap.
- Sudah menikah atau dianggap dewasa menurut adat.
- Tidak meninggal akibat kecelakaan berat atau penyakit menular tertentu.
Jenazah yang meninggal secara tidak wajar biasanya tidak ditempatkan di area utama Taru Menyan, melainkan dikubur di lokasi berbeda. Hal ini berkaitan dengan keyakinan adat mengenai kesucian dan keseimbangan spiritual desa.
Selain itu, jumlah jenazah di area utama juga dibatasi. Dalam beberapa sumber disebutkan hanya ada sebelas tempat utama di bawah Taru Menyan. Ketika ada jenazah baru, tulang-belulang jenazah lama akan dipindahkan ke area khusus di dekat pohon tersebut.
Mengapa Jenazah Tidak Dikubur?
Bagi masyarakat luar, tradisi ini sering dianggap aneh karena jenazah dibiarkan terbuka di alam. Namun bagi warga Trunyan, praktik tersebut memiliki makna spiritual mendalam.
Masyarakat Trunyan percaya tubuh manusia berasal dari alam dan harus kembali menyatu dengan alam secara alami. Mereka meyakini proses pembusukan merupakan bagian dari siklus kehidupan yang tidak perlu dilawan dengan penguburan atau pembakaran.
Dalam sudut pandang budaya Bali Aga, kematian bukan akhir kehidupan, melainkan perjalanan menuju dunia leluhur. Karena itu tubuh tidak dianggap sesuatu yang harus disembunyikan di dalam tanah. Tubuh justru dibiarkan kembali kepada unsur alam secara perlahan.
Faktor geografis juga diduga memengaruhi lahirnya tradisi ini. Kawasan sekitar Danau Batur memiliki struktur tanah berbatu vulkanik yang keras sehingga penguburan tidak mudah dilakukan pada masa lampau. Tradisi mepasah kemudian berkembang sebagai bentuk adaptasi budaya sekaligus keyakinan spiritual masyarakat.
Pohon Taru Menyan dan Misteri Hilangnya Bau Busuk

Salah satu hal paling terkenal dari pemakaman Trunyan adalah tidak tercium bau menyengat meskipun mayat dibiarkan membusuk di ruang terbuka.
Masyarakat setempat percaya pohon Taru Menyan mampu menetralisasi bau busuk dari jenazah. Pohon besar yang tumbuh di tengah area pemakaman itu mengeluarkan aroma khas yang diyakini menyerap bau pembusukan. Karena itulah kawasan makam tidak berbau menyengat seperti tempat pembusukan mayat pada umumnya.
Kajian ilmiah mencoba menjelaskan fenomena tersebut melalui beberapa faktor. Penelitian tentang Taru Menyan menyebut kondisi lingkungan sekitar makam, suhu udara pegunungan, sirkulasi angin di tepi Danau Batur, serta kelembapan tertentu diduga memperlambat proses dekomposisi. Selain itu, aroma dari pohon Taru Menyan juga dipercaya membantu mengurangi bau menyengat yang muncul dari tubuh manusia yang membusuk.
Meski demikian, hingga kini masyarakat Trunyan tetap memandang pohon Taru Menyan sebagai pohon suci yang memiliki kekuatan spiritual. Pohon tersebut menjadi simbol utama identitas budaya desa dan tidak boleh ditebang sembarangan.
Tradisi yang Bertahan di Tengah Modernisasi

Hingga kini, masyarakat Trunyan tetap mempertahankan tradisi pemakaman mepasah. Bagi mereka, ritual ini bukan sekadar objek wisata, melainkan warisan leluhur yang harus dijaga.
Penelitian budaya menunjukkan keberlangsungan tradisi Trunyan didukung oleh kuatnya lembaga adat serta keterlibatan generasi muda dalam menjaga nilai-nilai budaya Bali Aga. Tradisi tersebut juga menjadi identitas sosial masyarakat Trunyan yang membedakan mereka dari komunitas Bali lainnya.
Kini pemakaman Trunyan memang menjadi salah satu tujuan wisata budaya di Bali. Namun masyarakat adat tetap menerapkan aturan ketat bagi pengunjung agar kesakralan tempat tersebut tidak terganggu.





