Menyusuri jejak Antonio Blanco, maestro romantik Ubud

Don Antonio Mara Blanco bersama Bung Karno (Foto: repro)

Di Ubud, Bali, bukan hanya sawah bertingkat dan suara gamelan yang memikat hati para pelancong. Ada satu tempat yang selalu membuat orang berhenti sejenak, terpana, dan akhirnya jatuh cinta, The Blanco Renaissance Museum. Museum ini adalah rumah sekaligus warisan Don Antonio María Blanco, pelukis berdarah Spanyol–Amerika yang menjadikan Bali sebagai panggung terakhir hidupnya.

Blanco lahir di Manila pada 1912. Seperti seniman besar lainnya, ia tak pernah betah di satu tempat. Awalnya tinggal dan berkarya di Amerika Serikat, ia lalu mengembara ke berbagai belahan dunia, Hawaii, Jepang, hingga Kamboja. Namun takdir membawanya ke Bali pada 1952. Di sinilah perjalanan seninya menemukan bentuk paling matang, sekaligus cinta sejatinya, seorang penari Bali bernama Ni Ronji, yang dinikahinya setahun kemudian.

Bacaan Lainnya

Bagi Blanco, Bali adalah surga dan memberinya tiga hal yang ia cari seumur hidup, yaitu pemandangan bak alam mimpi, tradisi seni yang hidup di setiap napas dan rasa cinta yang membuat karyanya semakin berjiwa. Tak heran jika sejak itu ia jarang sekali meninggalkan rumahnya di Ubud.

Foto Don Antonio Maria Blanco dengan latar belakang lukisannya yang di pajang di The Blanco Renaissance Museum (Foto: repro, The Blanco Renaissance Museum)

Perempuan selalu menjadi pusat semesta seni Blanco. Sosok tersebut dihadirkannya dalam goresan penuh romantisme, ekspresi, dan kelembutan. Tak sedikit kolektor besar dunia mengagumi karyanya, mulai dari Ingrid Bergman, Michael Jackson, hingga Presiden Soekarno. Bahkan Raja Spanyol Juan Carlos I menganugerahinya gelar kehormatan “Don.”

Impian Blanco untuk memiliki museum akhirnya terwujud pada akhir 1998. The Blanco Renaissance Museum berdiri di atas tanah pemberian Raja Ubud, Tjokorda Gde Agung Sukawati. Bangunannya unik, memadukan gaya rococo Eropa dengan filosofi arsitektur Bali. Begitu melangkah masuk, pengunjung seakan dibawa masuk ke dunia pribadi sang maestro, penuh warna, sensualitas, dan fantasi.

Ada lebih dari 80 hingga 100 karya Blanco yang dipamerkan di sini, dari lukisan hingga sketsa. Ruang-ruangnya ditata kronologis, memperlihatkan perkembangan estetik seorang seniman pengembara yang akhirnya menemukan rumah sejati. Dari jendela-jendela museum, hamparan hijau Ubud seakan menjadi bingkai alami untuk setiap karya.

Don Antonio Maria Blanco bersama penyanyi legendaris Michael Jackson (Foto: repro, The Blanco Renaissance Museum)

Blanco wafat pada 10 Desember 1999, hanya setahun setelah museumnya berdiri. Ia dimakamkan sesuai adat Hindu Bali, dengan upacara ngaben yang khidmat di Ubud. Namun kisahnya tidak berhenti di sana. Istri dan anak-anaknya meneruskan warisan seni itu, termasuk I Made Mario Blanco, sang putra penerus jejaknya di dunia seni lukis, serta cucunya, Antonio Blanco Jr., pelukis dan seniman seni peran.

Kini, siapa pun yang berkunjung ke Bali bisa menyelami dunia Antonio Blanco dengan berkunjung ke The Blanco Renaissance Museum, ruang untuk merasakan semangat seorang seniman yang menjadikan hidupnya sebagai karya seni.

Sekelumit cerita tentang museum ini, dapat disaksikan melalui video unggahan Turah Parthayana, seorang Youtuber asal Bali:

Pos terkait