Di antara birunya laut dan hijaunya hutan tropis, terbentang gugusan pulau yang kini dikenal dunia sebagai salah satu destinasi menyelam terbaik: Kepulauan Raja Ampat. Dengan empat pulau besar, Waigeo, Misool, Salawati, dan Batanta, serta ratusan pulau kecil yang tersebar, kawasan ini ibarat permata di Samudra Pasifik.
Bagi penyelam, Raja Ampat adalah laboratorium alam yang menakjubkan. Di perairannya, para ahli mencatat lebih dari 574 spesies terumbu karang dan 553 jenis ikan karang, menjadikannya salah satu kawasan laut terkaya dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Namun, di balik panorama bawah lautnya yang menghipnotis, Raja Ampat juga menyimpan kisah sejarah, mitos, dan legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebelum dikenal sebagai destinasi wisata dunia, Raja Ampat telah dihuni oleh masyarakat bangsawan dengan sistem kerajaan lokal. Tradisi Maluku turut memengaruhi struktur kekuasaan di sini. Pada masa lampau, empat raja atau fun berkuasa atas empat pulau besar, Fun Giwar di Waigeo, Fun Tusan di Salawati, Fun Mustari di Misool, dan Fun Kilimuri yang kemudian bermigrasi ke Seram.
Namun, cerita rakyat setempat tak berhenti pada sejarah politik semata. Masyarakat Kawe dan Wawiyai, sebagaimana dicatat oleh Van der Leeden pada 1979–1980, menuturkan legenda tentang Pin Take, saudari bungsu para raja yang dihanyutkan ke laut karena hamil tanpa suami. Ia terdampar di Pulau Numfor, bertemu tokoh mitos Manar Maker, dan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Kurabesi.
Ketika dewasa, Kurabesi kembali ke Waigeo. Dari sinilah kisahnya berkembang menjadi legenda. Ia dikenal sebagai Gurabesi, tokoh penting yang membantu Kesultanan Tidore berperang melawan Ternate. Sebagai hadiah, Gurabesi dinikahkan dengan putri Sultan Tidore, Boki Taiba atau Tabai. Pernikahan itu bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan juga penanda lahirnya hubungan politik antara Tidore dan kepulauan Raja Ampat. Sejak itu, Gurabesi dikenal sebagai pemimpin besar yang memerintah dari Waigeo, dengan kewajiban memberikan upeti kepada Tidore setiap musim angin timur. Ekspansinya bahkan merambah ke wilayah Kepala Burung, membentuk cikal bakal negeri-negeri yang kelak disebut Papo-ua Gam Sio, sembilan negeri orang Papua.
Legenda lain menyebut Gurabesi dan istrinya, Boki Tabai, menemukan telur-telur misterius di sungai Waikeo. Dari enam atau tujuh telur itu, empat menetas menjadi pangeran yang kelak memimpin Waigeo, Salawati, Misool Timur, dan Misool Barat. Satu telur berubah menjadi makhluk gaib, satu menjadi perempuan, dan satu lagi menjelma menjadi batu keramat Telur Raja atau Kapatnai di Kali Raja. Kisah ini menjelaskan asal-usul nama Raja Ampat, empat raja yang memimpin empat pulau besar. Legenda itu terus hidup dalam ingatan masyarakat hingga kini, membaur dengan sejarah kolonial Belanda dan masuknya kepulauan ini ke dalam wilayah Indonesia.
Mengunjungi Raja Ampat hari ini berarti turut menapaki sebuah perjalanan budaya. Di bawah laut, dunia penuh warna menanti para penyelam. Di atas permukaan, masyarakat lokal menjaga tradisi, cerita rakyat, dan upacara adat yang menyambung kisah masa lalu dengan kehidupan modern.
Dari Wayag yang terkenal dengan panorama karst bak lukisan, hingga Misool dengan gua purbanya yang menyimpan lukisan tangan manusia ribuan tahun silam, setiap pulau memiliki cerita sendiri. Dan di tengah pesona itu, mitos Gurabesi dan telur-telur ajaib masih diceritakan ulang, mengikat wisatawan dengan pesona spiritual yang jarang ditemukan di tempat lain.
Raja Ampat kini memang identik dengan wisata bahari kelas dunia. Namun, bagi masyarakat Papua Barat Daya, Gugusan Raja Ampat adalah tanah leluhur, tempat mitos dan sejarah berpadu.





