Oleh Syam Irfandi
Indonesia berada di antara kekuatan militer utama Asia Tenggara berdasarkan sejumlah indeks pertahanan internasional. Global Firepower 2026 menempatkan Indonesia di peringkat pertama Asia Tenggara, sementara Lowy Institute Asia Power Index 2025 menempatkan Indonesia di posisi ketiga dalam kategori military capability di kawasan.
Perbedaan posisi tersebut memperlihatkan bahwa pengukuran kekuatan militer bergantung pada indikator dan metodologi yang digunakan. Global Firepower menghitung lebih dari 60 faktor yang mencakup personel, alutsista, keuangan, logistik, sumber daya dan kondisi geografis, sedangkan Lowy mengukur kemampuan militer melalui sejumlah dimensi yang mencakup belanja pertahanan, kekuatan personel, persenjataan dan platform, kemampuan khusus serta kemampuan mengerahkan kekuatan di kawasan Asia.
Menurut Global Firepower 2026, Indonesia memperoleh Power Index 0,2582 dan menempati posisi pertama di Asia Tenggara. Vietnam berada di posisi kedua dengan 0,4066, disusul Thailand 0,4458 dan Singapura 0,5272. Dalam metodologi Global Firepower, nilai indeks yang semakin kecil menunjukkan posisi yang semakin tinggi.
Daftar tersebut menempatkan Indonesia di atas Vietnam, Thailand dan Singapura dalam ukuran kekuatan militer konvensional versi Global Firepower. Myanmar berada di posisi kelima, Filipina keenam, Malaysia ketujuh, Kamboja kedelapan dan Laos kesembilan. Brunei dan Timor-Leste tidak tercantum dalam daftar Global Firepower 2026 Asia Tenggara.
Gambaran berbeda muncul dari Lowy Institute. Dalam Asia Power Index 2025, Indonesia memiliki skor 15,9 untuk kategori military capability dan berada di peringkat ketiga Asia Tenggara, setelah Singapura dengan skor 25,0 dan Vietnam 19,9. Thailand berada di posisi keempat dengan skor 14,8.
Lowy menilai kekuatan militer melalui kemampuan yang lebih luas. Indikator tersebut mencakup sumber daya pertahanan, kekuatan angkatan bersenjata, persenjataan dan platform, kemampuan khusus serta postur militer di kawasan Asia. Pendekatan tersebut memberikan bobot pada kemampuan aktual untuk mengerahkan kekuatan, bukan hanya jumlah personel atau inventaris alutsista.
Dalam indikator armed forces, Indonesia memperoleh skor 26,7 dan berada di peringkat ke-11 Asia. Vietnam berada di peringkat ke-10 dengan skor 27,3. Data tersebut menggambarkan besarnya kapasitas personel dan organisasi militer Indonesia dalam perspektif regional Asia.
Tantangan Indonesia terlihat pada kemampuan memproyeksikan kekuatan. Dalam indikator Asian military posture, Indonesia berada di peringkat ke-14 Asia dengan skor 39,6. Singapura berada di peringkat kedelapan, Vietnam kesembilan dan Thailand ke-13. Indikator tersebut menilai kemampuan negara mengerahkan kekuatan militer secara cepat dan berkelanjutan dalam konteks kawasan Asia.
Faktor geografis menjadi bagian penting dalam membaca posisi Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang sangat luas, TNI membutuhkan kemampuan pertahanan yang tersebar di berbagai kawasan. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap kapal perang, pesawat, sistem radar, pertahanan udara, pangkalan, logistik dan kemampuan mobilitas menjadi bagian penting dari postur pertahanan.
Modernisasi alutsista kemudian menjadi salah satu agenda utama pembangunan kekuatan TNI. Kementerian Pertahanan pada 2026 mencatat penerimaan sejumlah platform baru, termasuk enam pesawat tempur Rafale, empat pesawat Dassault Falcon 8X, satu Airbus A400M Atlas dan radar GCI GM403. Paket tersebut juga mencakup persenjataan seperti rudal Meteor dan AASM HAMMER.
Modernisasi tersebut memperluas kemampuan TNI pada domain udara dan memperkuat unsur pendukung operasi. Kehadiran platform baru juga harus dibaca bersama kebutuhan sistem persenjataan, pelatihan personel, pemeliharaan, pangkalan, jaringan sensor dan logistik agar kemampuan operasional dapat dipertahankan.
Dari sisi anggaran, pemerintah mengalokasikan Rp337,4 triliun untuk fungsi pertahanan dalam APBN 2026. Anggaran tersebut antara lain berkaitan dengan pencapaian optimum essential force dan agenda pembangunan pertahanan nasional.
Kapasitas anggaran menjadi salah satu faktor yang menentukan kecepatan modernisasi. Namun, angka APBN fungsi pertahanan tidak dapat langsung disamakan dengan angka belanja militer yang digunakan dalam indeks internasional karena setiap lembaga memiliki definisi dan cakupan penghitungan berbeda.
Lowy juga memberikan gambaran mengenai prospek peningkatan kemampuan Indonesia. Dalam indikator military capability enhancement 2035, Indonesia berada di peringkat kelima Asia. Lowy memperkirakan tambahan sumber daya pertahanan Indonesia sepanjang 2025 hingga 2035 akan menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kapasitas militernya dalam jangka menengah.
Posisi Indonesia juga perlu dilihat dari jaringan pertahanan. Dalam indikator defence networks Lowy, Indonesia berada di peringkat ke-12 Asia dengan skor 14,8. Singapura berada di peringkat keenam, Filipina kesembilan, Thailand ke-10 dan Malaysia ke-13.
Data tersebut menunjukkan karakter kekuatan militer Indonesia yang memiliki basis besar pada skala personel, luas wilayah, kapasitas alutsista dan sumber daya pertahanan. Pada saat yang sama, kemampuan proyeksi kekuatan, jaringan pertahanan, kesiapan operasional serta integrasi sistem menjadi faktor yang menentukan posisi Indonesia dalam pengukuran yang lebih luas.
Karena itu, penyebutan Indonesia sebagai negara dengan militer terkuat di Asia Tenggara perlu selalu disertai sumber pemeringkatnya. Berdasarkan Global Firepower 2026, Indonesia berada di posisi pertama ASEAN. Berdasarkan Lowy Institute Asia Power Index 2025, Indonesia berada di posisi ketiga dalam military capability ASEAN.
Dua hasil tersebut memberikan gambaran yang berbeda mengenai kekuatan TNI. Global Firepower memberikan posisi tinggi berdasarkan kombinasi berbagai faktor kekuatan konvensional, sementara Lowy memperlihatkan dimensi kemampuan militer yang mencakup sumber daya, personel, teknologi, kemampuan khusus, postur pengerahan dan jaringan pertahanan.
Dengan modernisasi alutsista yang terus berjalan, peningkatan anggaran pertahanan dan proyeksi pengembangan kemampuan hingga 2035, posisi Indonesia di kawasan akan sangat ditentukan oleh kemampuan mengubah sumber daya tersebut menjadi kesiapan operasional. Bagi negara kepulauan, ukuran kekuatan TNI pada akhirnya berkaitan erat dengan kemampuan menjaga wilayah, mengerahkan kekuatan dan mempertahankan operasi di berbagai titik strategis Indonesia.





