Uniknya Sade, Desa Suku Sasak Lombok

Foto: Outsiders

Oleh: Winbaktianur

“Kenapa dinamakan pohon cinta? Muda-mudi Sade memiliki tradisi memari atau kawin lari. Kawin lari dalam masyarakat Suku Sasak berarti mempelai laki-laki akan ‘menculik’ calon mempelai wanita sebelum menikah. Perempuan tersebut dibawa ke rumah keluarga laki-laki. Keesokan harinya kedua keluarga laki-laki dan perempuan membicarakan rencana pernikahan. Di pohon cinta inilah tempat bertemunya pasangan remaja saat berpacaran dan tempat si pemuda ‘menculik’ sang gadis. Tak lupa, saya mengabadikan pohon cinta yang menjadi saksi bisu ‘penculikan’ calon mempelai wanita Desa Sade. Namun, untuk menikah ada syaratnya, si gadis harus sudah pandai menenun”

Bacaan Lainnya

 

Pemandangan rumah tradisional berdinding bambu terhampar di hadapan saya. Seketika lelahnya perjalanan dengan sepeda motor dan padatnya jadual kegiatan selama di Mataram sirna. Desa Adat Sade, semua warganya merupakan Suku Sasak tinggal di kampung ini. Semua rumah beratapkan alang-alang kering yang dalam bahasa Sasak di sebut “re“.

Atap disusun rendah di bagian depan atau teras rumah, bermaksud supaya siapa saja yang akan memasuki rumah lebih menunduk dan sopan ketika datang. Nuansa tradisional sangat kental, terlihat dari posisi rumah yang berjejer rapi serta bentuk yang serupa.

Begitu masuk ke gapura Desa adat Sade, dan menulis nama di buku pendaftaran tamu, saya bergegas berkeliling ditemani seorang pemandu, warga setempat. Saatnya eksplorasi kampung yang mendapat julukan Desa Wisata sejak tahun 1989.

Desa Adat Sasak Sade ini memiliki sejarah panjang dan adat istiadat yang telah berlangsung selama lebih dari 1.500 tahun. Penduduk desa masih menjalankan tradisi-tradisi yang berpegang teguh pada kearifan lokal dalam kehidupan sehari-harinya. Contohnya saja, sangat memegang teguh bahwa membangun hunian harus memperhatikan tata letak. Hunian tidak boleh dibangun di tempat bekas perapian, bekas sumur, tempat pembuangan sampah, dan susur gubug (tusuk sate), karena mereka percaya hal demikian itu melanggar konsep tradisi dan dianggap tabu (maliq lenget).

Bahan yang digunakan sangat sederhana, seperti kayu sebagai penyanggga, bambu atau bedek untuk dinding, jerami dan alang-alang untuk atap, tanah liat dicampur kotoran kerbau atau sapi, getah pohon kayu banten dan bajur, abu jerami sebagai bahan pengeras lantai. Rumah tradisional ini atapnya diganti setiap 8 tahun sekali.

foto: Outsiders

Uniknya, masyarakat Sasak mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau atau sapi yang masih baru. Kotoran ini dicampur dengan air agar mudah diratakan lalu disapukan ke seluruh lantai, kecuali area tempat shalat. Setelah kering, kemudian disapu, dan digosok supaya mengkilat. Maka, dalam 30 menit bau kotorannya sudah hilang.

Penggunaan kotoran kerbau atau sapi ini selain bertujuan untuk memperkuat lantai rumah juga sebagai pengganti semen. Masyarakat Suku Sasak Sade mempercayai bahwa lantai rumah nanti menjadi kuat dan tidak mudah retak dan pecah.

Rumah di Desa Sade umumnya terbagi menjadi tiga bagian. Bagian depan untuk tidur kaum laki-laki dan orang tua. Bagian dalam yang harus melalui dua atau tiga anak tangga menuju bagian atas berisi dapur, lumbung dan tempat tidur perempuan. Kemudian bagian ketiga yaitu sebuah ruangan kecil yang digunakan untuk tempat melahirkan.

Berdasarkan fungsinya, rumah Suku Sasak Sade dikelompokkan dalam tiga tipe, yakni Bale Bonter yakni rumah yang dimiliki oleh pejabat desa atau tetua kampung, Bale Kodong untuk warga yang baru menikah atau generasi tua untuk menghabiskan masa tua. Kemudian yang ketiga adalah Bale Tani yang digunakan sebagai tempat tinggal.

Saya berkesempatan memasuki salah satu rumah yang baru beberapa dua hari lalu disapukan kotoran kerbau, namun saya tidak mencium aroma apapun.
Menurut Bayu, pemandu yang menemani saya berkeliling, waktu pembangunan biasanya berpedoman pada papan warige dari primbon tapel adam dan tajul muluk. Tidak semua orang mampu menentukan hari baik.

Biasanya mereka bertanya kepada pimpinan adat. Orang Sasak meyakini waktu yang baik memulai membangun rumah adalah bulan ketiga dan keduabelas penanggalan Sasak yakni Rabiul Awal dan Dzulhijjah. Pantangan yang dihindari untuk membangun rumah adalah pada Muharram dan Ramadhan.

Menurut kepercayaan, rumah yang dibangung pada bulan itu cenderung mengundang malapetaka, seperti penyakit, kebakaran, sulit rezeki dan lainnya. Wah seram! Satu hal lagi, semua rumah di sini tidak ada yang berlawanan arah dan ukurannya nyaris sama.

Sebenarnya, jika menilik pada luas wilayah yang hanya sekitar 5 hektar dengan 150 rumah serta jumlah penduduk sekitaran 700 jiwa, maka Sade tidak terlalu luas. Bayu menjelaskan bahwa Sade merupakan nama sebuah dusun yang masuk dalam wilayah Desa Rembitan. Namun, wisatawan lebih mengenalnya dengan sebutan Desa Sade.

Foto: Outsiders

Di samping rumahnya yang ikonik berjejer rapi, di tengah perkampungan terdapat Masjid Nur Syahada. Masjid berukuran 10×10 meter ini mengusung arsitektur khas rumah adat Kampung Sade dengan bangunan beratapkan alang-alang dan dinding yang didominasi oleh kayu dan bambu, dapat menampung 200 jamaah.

Setelah berhenti sejenak di masjid ini, saya meneruskan langkah berkeliling kampung adat nan elok. Tangan-tangan perempuan yang terampil menghasilkan kain Tenun Sasak dan Songket Lombok nan indah. Selain dijual langsung kepada pengunjung, hasil kerajinan tenun dan songket juga dijual secara di toko-toko kecil milik keluarga dalam kampung adat serta di jual keluar Desa.

Penenun Suku Sasak. Foto: outsiders

Harga bervariasi, mulai dari Rp. 30.000,- hingga ratusan ribu, tergantung motif, tingkat kesukaran, dan jenisnya. Sebagian besar masih menggunakan pewarna alami, seperti daun sirih untuk mendapatkan warna hijau, batok kelapa yang dibakar warna hitam, warna kuning menggunakan kunyit, dan warna putih dari kapur sirih.

Tidak hanya kain, juga tersedia tas, dompet, gelang, gantungan kunci, topi, bubuk kopi sasak, serta masih banyak lagi, dan semua dijual dengan harga terjangkau dan berlaku tawar-menawar. Keuntungan penjualan berbagai souvenir di Desa Sade, akan dikumpulkan dan kemudian dibagi rata dengan mengadopsi sistem koperasi.

Foto: Outsiders

Tidak hanya membeli kerajinan tangan, pengunjung juga dapat belajar menenun kain khas Suku Sasak Lombok. Alat tenun kain songket ini disebut dengan berire. Sehelai kain tenun atau songket diselesaikan dalam waktu kurang lebih satu minggu. Benang-benang bahan pembuatan kain songket mereka dapatkan dengan memintal serat kapas dengan alat pemintal tradisional, namun juga ada yang membeli benang dari toko penjual bahan-bahan tenun.

Saya berhenti sejenak di pohon nangka yang telah mati, tepat di tengah-tengah kampung. Ternyata ini adalah pohon cinta, sebagai spot foto terbaik yang tak boleh dilewatkan. Kenapa dinamakan pohon cinta? Muda-mudi Sade memiliki tradisi memari atau kawin lari. Kawin lari dalam masyarakat Suku Sasak berarti mempelai laki-laki akan ‘menculik’ calon mempelai wanita sebelum menikah.

Perempuan tersebut dibawa ke rumah keluarga laki-laki. Keesokan harinya kedua keluarga laki-laki dan perempuan membicarakan rencana pernikahan. Di pohon cinta inilah tempat bertemunya pasangan remaja saat berpacaran dan tempat si pemuda ‘menculik’ sang gadis. Tak lupa, saya mengabadikan pohon cinta yang menjadi saksi bisu ‘penculikan’ calon mempelai wanita Desa Sade. Namun, untuk menikah ada syaratnya, si gadis harus sudah pandai menenun.

“Ternyata ini adalah pohon cinta, sebagai spot foto terbaik yang tak boleh dilewatkan,” ujar Penulis. Foto: Outsiders

Pengunjung juga dapat menyaksikan kehidupan Desa Sade dengan menaiki menara pengawas dan dijamin akan menghasilkan foto yang ciamik dari ketinggian 10 meter. Menara pengawas atau menara pandang yang terbuat dari kayu ini bertujuan untuk melihat pemandangan seluruh desa dari atas.

Mencapai Desa Sade sangat mudah, karena terletak di pinggir jalan. Lokasinya tepat berada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Jalan Raya Praya-Kuta. Hanya butuh sekitar 20-25 menit berkendara dari Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid.

Jika pengunjung datang dari pusat kota Mataram, dibutuhkan waktu sekitar satu jam atau 40 kilometer perjalanan. Tidak perlu khawatir dengan harga tiket, karena saat pendaftaran pengunjung tidak dikenakan tarif masuk, hanya dibutuhkan sumbangan seikhlasnya.

Termasuk juga jasa pemandu, tanpa ada tarif. Juga tersedia warung yang menjual aneka cemilan dan minuman, termasuk kopi Suku Sasak yang khas, berupa bubuk kopi dicampur dengan beras yang ditumbuk halus. Desa Sade dibuka setiap hari untuk dikunjungi, mulai pukul 08.00 hingga pukul 18.00 WITA. Tertarik berkunjung dan merasakan peradaban yang tak lekang oleh kemajuan zaman? Sade salah satunya.

Winbaktianur
Akademisi UIN Imam Bonjol, Penikmat Wisata & Budaya
winbaktianur1978@gmail.com

 

Pos terkait