Teheran (Outsiders) – Konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran terus memicu krisis kemanusiaan dengan jumlah korban jiwa yang terus meningkat di berbagai wilayah Timur Tengah.
Dilaporkan Al Jazeera, ribuan korban tewas dan luka-luka tercatat sejak eskalasi konflik yang dimulai pada akhir Februari 2026.
Rincian korban berdasarkan negara:
- Iran: sekitar 3.375 orang tewas
- Lebanon: sekitar 2.509 orang tewas
- Israel: puluhan korban jiwa akibat serangan balasan
- Negara kawasan Teluk: sedikitnya 28 orang tewas di beberapa wilayah terdampak
- Irak dan wilayah lain: korban jiwa dan luka dilaporkan namun terus diperbarui
Konflik ini tidak hanya berdampak pada korban jiwa, tetapi juga menyebabkan ribuan orang mengalami luka-luka serta kerusakan luas terhadap infrastruktur sipil, termasuk permukiman, fasilitas kesehatan, dan sarana publik.
Serangan yang dimulai sejak akhir Februari 2026 ini berkembang menjadi konflik regional dengan melibatkan berbagai aktor, termasuk kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran di sejumlah negara.
Selain Iran dan Lebanon, dampak konflik juga dirasakan di negara lain seperti Irak, Israel, dan beberapa negara Teluk akibat serangan balasan berupa rudal dan drone.
Situasi ini memperburuk stabilitas kawasan Timur Tengah, dengan meningkatnya ketegangan geopolitik serta potensi gangguan terhadap jalur perdagangan global, termasuk di Selat Hormuz yang strategis.
Sejumlah pihak internasional menyerukan deeskalasi konflik guna mencegah krisis yang lebih luas, mengingat dampaknya tidak hanya bersifat militer tetapi juga kemanusiaan dan ekonomi global.
Perkembangan konflik masih berlangsung dinamis, dengan jumlah korban dan dampak kerusakan diperkirakan terus bertambah seiring berlanjutnya operasi militer di kawasan tersebut.





