Laila tumbuh sebagai simbol harapan bagi upaya penyelamatan Gajah Sumatra, tetapi Sabtu pagi, pukul 05.30 WIB yang tenang di PLG Sebanga, Kabupaten Bengkalis, Riau berubah menjadi kabar duka.
Pekanbaru (Outsiders) – Pagi itu, udara di Pusat Konservasi Gajah Sebanga terasa lebih dingin dari biasanya. Suasana hening menyelimuti kawasan yang biasanya dipenuhi suara langkah gajah dan panggilan para mahout. Keheningan itu pecah oleh kabar yang tak diinginkan. Laila, seekor anak gajah betina berusia satu tahun enam bulan, ditemukan terbaring tanpa napas pada Sabtu pagi.
Bagi para penjaga, Laila bukan sekadar satwa binaan. Ia adalah simbol harapan bahwa populasi gajah sumatra yang terus menurun masih bisa diselamatkan. Sejak lahir pada 6 April 2024 dari induk Puja dan pejantan Sarma, Laila menjadi kebanggaan. Kelahirannya dirayakan sebagai momen penting di tengah tekanan habitat yang semakin menyempit dan ancaman perburuan yang tak kunjung surut.
Namun harapan itu perlahan diwarnai kecemasan. Pada 20 November, tim medis mulai melihat tanda bahwa kondisi Laila menurun. Ia masih makan dan minum, tetapi aktivitasnya tidak seperti biasa. Para dokter hewan, dibantu mahout yang setiap hari membersamainya, melakukan pemeriksaan menyeluruh. Suhu tubuhnya tetap normal, yang memberi sedikit kelegaan, tetapi langkah penanganan tetap dilakukan. Infus, obat, dan pemantauan ketat setiap dua jam menjadi rutinitas baru yang dijalani sepanjang hari.
Malam menjelang 21 November membawa secercah optimisme. Laila masih menyusu, masih berselera makan, dan matanya masih memancarkan keinginan untuk bertahan. Tidak ada yang menduga bahwa harapan itu akan runtuh dalam hitungan jam.
Menjelang tengah malam, dari kandangnya terdengar jeritan pendek. Laila sempat berdiri, bergerak, lalu terbaring kembali. Tim kembali bergegas melakukan penanganan. Ia masih bisa menyusu sekali lagi, seolah memberikan kesempatan terakhir bagi tim untuk berharap. Tetapi pagi itu, sekitar pukul 05.30, tubuh kecilnya tak lagi merespons. Laila pergi dalam senyap, meninggalkan duka yang sulit diterima.
Peristiwa ini menjadi pukulan berat bagi tim konservasi yang merawatnya setiap hari. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, tidak menyembunyikan kesedihannya. Bagi mereka, Laila adalah bagian dari keluarga. Mereka mengenal setiap gerak tubuhnya, kebiasaannya bermain, serta cara ia merespons panggilan mahout yang merawatnya sejak lahir.
“Untuk memastikan penyebab kematian, tim dokter hewan melakukan nekropsi. Organ vital diperiksa, sampel jaringan diambil, dan seluruh hasil akan dianalisis di laboratorium. Penjelasan medis ini diharapkan membantu mencegah kejadian serupa pada anak gajah lain dalam perawatan,” ujar Supartono.
Kepergian Laila menegaskan bahwa menyelamatkan gajah sumatra bukan pekerjaan mudah. Selain rentan terhadap penyakit, mereka juga terus menghadapi ancaman hilangnya ruang hidup dan konflik dengan manusia. Di tempat seperti Sebanga, setiap kelahiran adalah harapan baru. Namun setiap kehilangan adalah pengingat bahwa jalan konservasi masih panjang dan penuh tantangan.
Di tengah duka ini, para mahout tetap melangkah. Mereka membersihkan kandang, mempersiapkan pakan, dan merawat gajah lain yang juga membutuhkan perhatian. Laila mungkin telah pergi, tetapi jejak kehadirannya tetap tertinggal di hati para penjaganya. Kepergiannya menjadi dorongan baru untuk memperkuat upaya konservasi, menjaga agar harapan bagi gajah sumatra tidak ikut padam.





