Dalam kunjungan kenegaraan yang penuh makna ke Australia, Presiden Prabowo Subianto dan PM Anthony Albanese menegaskan komitmen memperkuat kemitraan strategis di kawasan Indo-Pasifik melalui penyelesaian perjanjian keamanan baru yang memperluas kerja sama pertahanan kedua negara.
Sydney (Outsiders) – Langkah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ketika tiba di Kirribilli House, di halaman depan kediaman resmi Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese telah menunggu dengan senyum ramah dan jabatan tangan hangat. Momen itu menjadi simbol sederhana dari persahabatan dua negara yang telah terjalin lebih dari tujuh dekade.
Suasana akrab segera terasa sejak awal. Keduanya berbincang ringan sebelum memasuki ruang tamu utama, di mana Presiden Prabowo menandatangani buku tamu kenegaraan sebagai bentuk penghormatan diplomatik. Setelah prosesi singkat itu, kedua pemimpin berjalan berdampingan menuju ruang pertemuan untuk melaksanakan tête-à-tête, pertemuan empat mata yang berlangsung dalam suasana akrab namun penuh makna strategis.
Pertemuan tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Australia. Di ruang yang menghadap ke pelabuhan Sydney itu, kedua pemimpin membahas berbagai hal mulai dari kerja sama ekonomi dan pembangunan, hubungan antar masyarakat, hingga penguatan sektor pertahanan, keamanan, dan kemaritiman.
Bagi kedua negara, pertemuan ini bukan sekadar diplomasi formal. Ia mencerminkan tekad bersama untuk menata ulang kemitraan strategis di kawasan Indo-Pasifik yang dinamis dan penuh tantangan. Prabowo dan Albanese sama-sama menegaskan pentingnya menjaga stabilitas kawasan, sekaligus memperkuat industri strategis nasional yang saling melengkapi.
Sebagai latar, hubungan Indonesia dan Australia telah menempuh perjalanan panjang. Dari Joint Declaration on Comprehensive Partnership pada 2005 hingga peningkatan status menjadi Comprehensive Strategic Partnership (CSP) pada 2018, keduanya menunjukkan konsistensi dalam memperluas ruang kerja sama yang konkret dan setara.
Usai pertemuan di Kirribilli House, Presiden Prabowo dan PM Albanese melanjutkan agenda ke Garden Island Naval Base. Di atas kapal HMAS Canberra, keduanya tampil bersama dalam konferensi pers yang menandai babak baru hubungan bilateral Indonesia–Australia.
Di hadapan para jurnalis, PM Albanese mengumumkan kabar penting: kedua negara telah secara substantif menyelesaikan negosiasi perjanjian bilateral baru di bidang keamanan bersama.
“Pemerintah Australia dan Indonesia baru saja secara substantif menyelesaikan negosiasi mengenai perjanjian bilateral baru tentang keamanan bersama kita. Hubungan Australia dengan Indonesia didasarkan pada persahabatan, kepercayaan, saling menghormati, dan komitmen bersama terhadap perdamaian serta stabilitas di kawasan kita,” ujar PM Albanese.
Ia menambahkan bahwa perjanjian baru ini menjadi pengakuan bahwa perdamaian dan stabilitas kawasan hanya dapat dijaga melalui tindakan kolektif. Albanese menyebut kesepakatan ini sebagai “era baru hubungan Australia–Indonesia” yang berakar dari kerja sama keamanan sejak masa PM Paul Keating dan Presiden Soeharto tiga puluh tahun lalu.
“Perjanjian ini akan memperkuat Treaty of Lombok tahun 2006 yang menegaskan kembali integritas teritorial dan kedaulatan Indonesia. Ini juga memperkuat perjanjian kerja sama pertahanan yang kita tandatangani tahun lalu,” lanjutnya.
Melalui perjanjian baru tersebut, kedua negara akan mengadakan konsultasi rutin di tingkat pemimpin dan menteri mengenai isu-isu keamanan serta melaksanakan kegiatan yang saling menguntungkan. Jika salah satu pihak menghadapi ancaman, Australia dan Indonesia akan berkonsultasi dan mempertimbangkan langkah bersama untuk menghadapinya.
“Ini momen penting dalam hubungan Australia–Indonesia. Perjanjian ini merupakan perluasan besar dari kerja sama keamanan dan pertahanan yang sudah ada. Hubungan kedua negara sekuat sebelumnya, dan hal itu baik bagi kawasan kita serta rakyat Australia dan Indonesia,” tegas PM Albanese.
Di akhir pernyataannya, Albanese juga menyampaikan rencananya untuk berkunjung ke Indonesia pada Januari tahun depan atas undangan Presiden Prabowo.
Kunjungan kenegaraan ini menjadi penanda penting dalam hubungan diplomatik Indonesia–Australia. Dari ruang tenang di Kirribilli House hingga dek kapal HMAS Canberra yang bersejarah, dua pemimpin meneguhkan arah baru kerja sama yang berlandaskan kepercayaan, kesetaraan, dan kepentingan bersama bagi perdamaian kawasan Indo-Pasifik.





