Jakarta (Outsiders) – Suasana akrab dan penuh kehangatan menyelimuti pertemuan antara Jaksa Agung Republik Indonesia ST Burhanuddin dan jajaran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Kamis (13/11/25).
Kunjungan yang dipimpin langsung Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir itu menjadi momentum penting memperkuat sinergi antara penegak hukum dan insan pers. Dalam sambutannya, Akhmad Munir menyampaikan apresiasi atas penerimaan yang hangat dari Kejaksaan Agung. “Pak, kantornya megah, liftnya harum, dan penyambutannya hangat sekali. Terima kasih atas kehormatannya,” ujar Munir sambil tersenyum membuka pertemuan.
Dalam kesempatan tersebut, Munir mengundang Kejaksaan Agung untuk berpartisipasi dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang akan digelar di Serang, Banten, pada 9 Februari mendatang. “Kami berharap Kejagung dapat ikut berkolaborasi, terutama dalam kegiatan literasi hukum dan pameran di HPN tahun depan,” kata Munir.
Menanggapi hal itu, Jaksa Agung ST Burhanuddin menyambut baik kerja sama tersebut. Ia menegaskan pentingnya hubungan harmonis antara lembaga hukum dan media. “Bagi kami, pers adalah sahabat yang harus dijaga. Tanpa media, masyarakat tidak akan tahu apa yang kami kerjakan,” ujar Burhanuddin.
Burhanuddin menegaskan Kejaksaan selalu terbuka untuk berkomunikasi dengan insan pers, baik di pusat maupun di daerah. “Silakan teman-teman media menjalin komunikasi dengan jajaran kami. Keterbukaan adalah kunci agar masyarakat memahami kinerja kami,” tegasnya.
Ia juga mengajak pers untuk terus menyampaikan informasi yang benar dan membangun kepercayaan publik. “Kami sangat membutuhkan peran media dalam menyampaikan apa yang telah kami kerjakan. Mari kita terus bersinergi demi kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Munir juga memaparkan tiga program utama yang tengah dijalankan PWI Pusat untuk memperkuat peran pers nasional. Program pertama adalah konsolidasi organisasi, terutama setelah dinamika internal beberapa waktu lalu. “Kami bersyukur seluruh permasalahan hukum yang sempat muncul kini telah selesai dengan baik setelah bertemu dengan Bapak Kapolri,” ujarnya.
Program kedua berkaitan dengan peningkatan kapasitas wartawan melalui kegiatan Safari Jurnalistik, Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI), dan Uji Kompetensi Wartawan (UKW). “Kami ingin agar integritas, profesionalitas, dan kompetensi wartawan terus terjaga. Semua kegiatan itu kami jalankan secara mandiri, bekerja sama dengan pemda dan kejaksaan di berbagai daerah,” jelasnya.
Hingga kini, PWI telah memiliki lebih dari 30.000 anggota, dan sekitar dua pertiganya sudah mengikuti uji kompetensi. “Kami terus berupaya memperkuat SDM agar wartawan Indonesia mampu beradaptasi dengan perubahan cepat di era digital,” tambah Munir.
Ia juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi industri media akibat disrupsi digital. “Platform global mengubah cara publik mengonsumsi informasi dan berdampak langsung pada keberlangsungan ekonomi media nasional. Karena itu, ekosistem pers perlu diperkuat bersama,” ujarnya.
Pertemuan ini ditutup dengan perkenalan jajaran pengurus baru PWI Pusat periode 2025–2030, antara lain Atal S Depari sebagai Ketua Dewan Kehormatan, Zulmansyah Sekedang sebagai Sekjen, serta beberapa ketua bidang seperti Agus Sudibyo (pendidikan), KS Ariawan (kemitraan), dan Anriko Pasaribu (hukum).
Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga awal kolaborasi yang lebih kuat antara dunia pers dan lembaga penegak hukum, dengan semangat menjaga profesionalisme jurnalisme serta memperkuat literasi hukum di masyarakat.






