Kaltara (Outsiders) – Kawasan di Kecamatan Kayan Hulu dan Kecamatan Kayan Selatan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, telah dipetakan dalam delineasi Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) sebagai dasar perencanaan pengembangan kawasan perbatasan secara terpadu dan berkelanjutan.
Langkah ini menjadi bagian penting dalam memperkuat basis data spasial dan sosial ekonomi guna memastikan arah pembangunan perbatasan sejalan dengan kebutuhan masyarakat serta fungsi strategis wilayah PKSN sebagai simpul pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik di daerah terdepan.
Asisten Deputi Potensi Kawasan Perbatasan Darat BNPP RI, Brigjen TNI Topri Daeng Balaw, menjelaskan bahwa kegiatan pemetaan dilakukan untuk melihat langsung potensi dan tantangan di lapangan agar kebijakan pengembangan PKSN dapat disusun secara tepat sasaran.
“Melalui kegiatan pemetaan ini, kami berupaya memastikan bahwa setiap kebijakan pembangunan di kawasan perbatasan benar-benar berpijak pada kebutuhan nyata masyarakat, terutama dalam hal infrastruktur dasar, pelayanan publik, serta potensi ekonomi lokal,” ujarnya baru- baru ini.
Hasil pemetaan menunjukkan bahwa Kecamatan Kayan Selatan telah memiliki Puskesmas Long Ampung berakreditasi Madya dan Rumah Sakit Pratama kelas D, namun masih menghadapi keterbatasan tenaga medis dan sarana prasarana. Pasokan listrik dari PLN juga hanya beroperasi 12 jam per malam, sementara potensi energi alternatif seperti PLTS dan PLTA belum termanfaatkan maksimal.
Dari sisi pemerintahan, kantor kecamatan belum memiliki Balai Pertemuan Umum dan kekurangan staf. Di bidang ekonomi, potensi beras ladang dan kakao cukup menjanjikan, tetapi keterbatasan akses jalan dan pasar menghambat pengembangan hasil pertanian.
Sektor pendidikan di wilayah ini terdiri atas 4 PAUD/TK, 4 SD, 3 SMP, dan 1 SMA, dengan beberapa fasilitas yang masih memerlukan perbaikan, termasuk sarana belajar dan rumah dinas guru.
Sementara itu, di Kecamatan Kayan Hulu, Puskesmas berakreditasi Madya sudah tersedia, tetapi gedung barunya belum difungsikan karena akses jalan masih dalam perbaikan. Wilayah ini juga mengalami keterbatasan listrik yang hanya tersedia 12 jam per malam, dan satu desa, yakni Long Betaoh, belum terjangkau jaringan PLN.
Selain itu, kondisi bendungan DAM yang bocor menyebabkan pasokan air bersih terganggu, terutama pada musim kemarau. Dalam bidang pendidikan, terdapat 4 SD, 2 SMP, dan 1 SMA, namun masih kekurangan tenaga pendidik dan jumlah siswa relatif sedikit.
Deputi Bidang Pengelolaan Potensi Kawasan Perbatasan BNPP RI, Irjen Pol. Edfrie R. Maith, menegaskan bahwa hasil pemetaan di kedua kecamatan tersebut akan dijadikan acuan dalam penyusunan strategi pengembangan PKSN.
“Wilayah PKSN seperti Kayan Hulu dan Kayan Selatan memiliki peran strategis sebagai pusat kegiatan ekonomi dan pelayanan publik di perbatasan. Hasil pemetaan lapangan ini akan kami jadikan dasar untuk merumuskan arah kebijakan pembangunan yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pemetaan PKSN tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan identifikasi data, tetapi juga sebagai langkah strategis dalam memperkuat peran kawasan perbatasan sebagai pusat pertumbuhan baru yang berdaya saing.
Melalui pemetaan potensi dan kebutuhan dasar di wilayah PKSN, BNPP RI berharap pengembangan Kayan Hulu dan Kayan Selatan dapat berjalan lebih terarah, efektif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kedaulatan Indonesia di wilayah perbatasan.





