Kuala Lumpur (Outsiders) – Perdana Menteri Anwar Ibrahim menegaskan pentingnya kebijakan transportasi yang adaptif terhadap tantangan global, termasuk dampak krisis energi terhadap biaya dan rantai pasok.
Kebijakan harus responsif terhadap tantangan global
Dari laman resmi facebook Anwar ibrahim, dalam rapat bulanan Kementerian Transportasi, Anwar Ibrahim menekankan bahwa setiap kebijakan yang dirumuskan harus selaras dengan kondisi saat ini dan kebutuhan masa depan.
“Setiap kebijakan yang diputuskan harus sejalan dengan realitas tantangan saat ini serta kebutuhan masa depan, termasuk mempertimbangkan ketidakpastian akibat krisis energi global yang menekan biaya dan rantai pasok,” ujarnya.
Soroti dampak diesel pada masyarakat
Ia juga menyoroti isu bahan bakar diesel yang dinilai berdampak luas terhadap masyarakat, khususnya sektor transportasi, petani, nelayan, peternak, serta pengusaha bus pariwisata.
“Dalam konteks isu diesel, kita harus memahami dampaknya terhadap mayoritas masyarakat,” kata Anwar.
Menurutnya, pendekatan kebijakan harus dilakukan secara bertahap, menyeluruh, dan berkeadilan.
“Pendekatan kita harus didasarkan pada kemampuan untuk mendengar, memahami, dan menyelesaikan secara bertahap, menyeluruh, dan adil demi menjamin keberlanjutan ekonomi rakyat,” ujarnya.
Proyek strategis transportasi terus berjalan
Dalam pertemuan tersebut, Anwar juga menerima paparan terkait pelaksanaan berbagai proyek strategis, termasuk perkembangan proyek kereta api besar seperti East Coast Rail Link.
Proyek-proyek tersebut dinilai menjadi pendorong konektivitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Penguatan regulasi dan SDM transportasi
Selain itu, pembahasan juga mencakup penguatan kerangka regulasi melalui revisi undang-undang terkait, peningkatan penggunaan transportasi publik, serta pengembangan sumber daya manusia di sektor transportasi.
Langkah ini diharapkan dapat menjaga daya saing industri transportasi secara berkelanjutan.






