TNBT, Jejak terakhir hutan tropis dataran rendah Sumatera

Hamparan hijau hutan TNBT, memberikan atmosfir berbeda, seakan tak percaya ini berlokasi di Provinsi Riau yang mulai tandus

Oleh Rosyita Hasan

Di jantung pulau Sumatera, membentang hamparan hutan lebat yang menyimpan nyawa alam yang nyaris punah. Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), seluas lebih dari 144.000 hektar, adalah benteng terakhir hutan hujan tropis dataran rendah yang masih tersisa di bagian tengah Sumatera. Terletak melintasi dua provinsi, Riau dan Jambi, taman ini tidak hanya menjadi tempat berlindung terakhir bagi satwa langka, tapi juga menjadi nadi kehidupan bagi komunitas adat yang tinggal bersamanya.

Bacaan Lainnya

TNBT (Outsiders) – Udara di kawasan ini terasa pekat oleh kelembapan. Kabut tipis menyelimuti kanopi hutan yang menjulang tinggi, di mana pohon-pohon meranti, merbau, dan medang berdiri kokoh, beberapa telah berusia ratusan tahun. Di antara akar-akar raksasa dan lantai hutan yang lembab, semak belukar menyimpan keajaiban biologis yang rumit dan nyaris tak terjamah.

Beropse di depan Shelter dengan latar belakang hutan TNBT

Taman Nasional Bukit Tigapuluh merupakan potret lanskap tropis yang kompleks. Kontur wilayahnya terdiri atas dataran rendah hingga perbukitan dengan ketinggian antara 60 hingga 843 meter di atas permukaan laut. Sungai-sungai seperti Batang Hari, Batang Tebo, dan Batang Gangsal melintasi hutan, membawa air dari rimba ke desa-desa dan lahan pertanian di hilir.

Kawasan ini menjadi rumah bagi ratusan spesies flora, termasuk tanaman langka seperti Rafflesia hasseltii, dan berbagai jenis anggrek hutan. Lebih dari 193 spesies burung telah tercatat di sini, dari elang ular bido yang berputar di langit, hingga burung rangkong yang terbang berat di antara pepohonan. TNBT juga menjadi tempat hidup 59 jenis mamalia, termasuk enam jenis primata, seperti siamang dan orangutan Sumatera.

Tracking di belantara TNBT yang masih asiri

Namun, satwa yang paling menggetarkan adalah Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), predator puncak yang diam-diam mengintai dalam kesunyian. Jejaknya yang langka masih bisa ditemukan di kawasan hutan yang jarang disentuh manusia, meskipun ancaman jerat dan perburuan terus menghantuinya.

Taman Nasional Bukit Tigapuluh adalah satu dari sedikit tempat di dunia yang menjalankan program reintroduksi orangutan ke alam liar. Orangutan yang sebelumnya diselamatkan dari perdagangan ilegal atau konflik dengan manusia dilatih untuk kembali ke habitat aslinya. Program ini dijalankan oleh Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) sejak awal 2000-an. Beberapa dari orangutan tersebut kini telah berkembang biak di alam bebas—sebuah kabar yang jarang terdengar dari spesies yang terancam punah ini.

Nafas mulai sedikit sesat, saat menunu puncak Bukit Tigapuluh

Di dalam taman nasional, hidup masyarakat adat Talang Mamak dan Orang Rimba. Mereka tidak hanya tinggal di hutan—mereka hidup bersama hutan. Dengan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun, komunitas ini mengenali lebih dari seratus jenis tumbuhan obat, membaca tanda-tanda alam, dan menjaga ekosistem dengan kearifan yang tak tertulis.

Talang Mamak, misalnya, dikenal menanam padi ladang tanpa membakar hutan, mengambil rotan dan madu secara lestari, dan menjaga kawasan keramat di rimba yang mereka anggap sakral. Namun kini, tekanan modernisasi perlahan mendorong batas adat dan mempersempit ruang hidup mereka.

Pohon tua ratusan tahun yang tumbang melintang diatas track

Meski keindahannya memukau, TNBT berada dalam tekanan. Penebangan liar masih ditemukan di beberapa titik, terutama melalui jalan-jalan bekas konsesi HPH. Perambahan lahan untuk sawit dan kebun masyarakat menggerus zona penyangga taman nasional. Sementara itu, jerat baja dan perburuan satwa menjadi ancaman mematikan bagi harimau, tapir, dan burung-burung langka.

Dalam dua dekade terakhir, konflik antara manusia dan gajah Sumatera meningkat drastis. Lahan yang semakin sempit membuat gajah masuk ke pemukiman, memicu kerusakan dan ancaman terhadap satwa maupun manusia.

Meskipun tantangannya berat, upaya konservasi terus berjalan. WWF Indonesia bersama Balai TNBT aktif melakukan patroli hutan, memasang kamera pemantau, dan melakukan edukasi masyarakat. Teknologi GPS dan drone digunakan untuk memantau kawasan dari udara. Proyek-proyek restorasi lahan di wilayah seperti Keritang dan Gangsal menumbuhkan kembali pohon-pohon asli dengan harapan menciptakan koridor satwa yang berkelanjutan.

Menikmati kesegaran curahan air terjun di salah satu spot TNBT

Bagi para ilmuwan dan pecinta alam, TNBT adalah laboratorium hidup. Bagi masyarakat adat, ia adalah ibu dan rumah. Dan bagi dunia, taman nasional ini adalah cerminan dari apa yang bisa hilang jika kita lengah, sekaligus simbol harapan jika kita bertindak.

Taman Nasional Bukit Tigapuluh adalah sisa dari surga yang perlahan menyusut. Ia bukan sekadar kawasan lindung di peta, tetapi jantung ekosistem tropis yang memompa kehidupan bagi Sumatera dan bumi secara luas. Menjaganya bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis, tetapi panggilan bagi kita semua yang percaya bahwa alam dan manusia bisa hidup berdampingan dalam hormat dan keseimbangan.

Assyifa School

Pos terkait