Malioboro, titik temu kerinduan Yogyakarta

Foto: Win/Outsiders

Oleh: Winbaktianur

Malioboro ibarat simfoni kehidupan yang senantiasa memanggil untuk datang lagi. Sebagaimana goresan di salah satu sudut Yogyakarta “Yogyakarta terbuat dari rindu pulang dan angkringan”.

Bacaan Lainnya

 

Menginjakkan kaki di stasiun Tugu Yogyakarta, saya disambut hujan deras dan angin kencang. Pilihan terbaik adalah berteduh di kursi stasiun mengurai lelah setelah penerbangan Padang-Jakarta-Yogyakarta dan kereta api menuju stasiun yang senantiasa ramai ini.

Saat deras hujan mulai reda, bergegas saya menuju penginapan di jalan Pajeksan, sisi Selatan Malioboro. Beres urusan check-in, bergegas menuju warung makan mengisi perut yang telah sejak sore protes karena lapar. Malam ini, sejenak menikmati keriuhan Malioboro sebelum beristirahat.

Yogyakarta selalu bisa membuat saya jatuh cinta. Kota budaya ini memiliki segudang daya Tarik untuk ditelusuri, terutama bagi mereka yang ingin menikmati keunikan suasana Yogyakarta.

Malioboro yang ikonik dan tidak pernah sepi, Pasar Beringharjo yang kaya akan sejarah dan bertebaran pilihan batik dan cenderamata, Titik Nol Kilometer yang penuh sesak di waktu sore, hingga tugu Yogya yang legendaris, merupakan simbol kota ini, masing-masing memiliki daya tarik tersendiri.

 Simfoni Tanpa Jeda di Malioboro

Waktu yang sangat terbatas, saya memutuskan untuk menelusuri Malioboro. Malioboro, nama yang sangat akrab bagi wisatawan.  Bentangan jalan membelah pusat Yogyakarta, di mana ekonomi, budaya, dan sejarah bersatu.

Foto: win/Outsiders

Sebagian masyarakat meyakini Malioboro berasal dari nama pejabat kolonial Inggris Marlborough yang pernah mengukir sejarah menguasai Yogyakarta pada awal abad ke-19, namun ada juga yang mengatakan dari bahasa Sanskerta, yang berarti “karangan bunga”.

Ada juga yang menghubungkannya dengan Sumbu Filosofi Yogyakarta ruas Tugu Yogyakarta sampai Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Melambangkan alur hidup manusia menuju Sang Pencipta (Paraning Dumadi).

Karena sejak zaman kolonial, Malioboro sudah menjadi pusat perdagangan dan ekonomi. Selanjutnya menjelma menjadi pusat wisata belanja dan budaya.  Daya tarik utamanya adalah pedagang kaki lima, pertokoan, dan pertunjukan seni jalanan.

Di sepanjang jalan ini, setiap langkah saya seoalah-olah seperti menyusuri lorong waktu, melihat bagaimana warisan budaya tetap hidup di tengah kemajuan kota.

Malioboro menjadi urat nadi penting yang menghubungkan Keraton Yogyakarta dengan Tugu Yogyakarta sejak dibangun oleh Kesultanan Yogyakarta pada abad ke-18.

Jalan Malioboro tepat berada di garis lurus antara Keraton Yogyakarta, Laut Selatan, dan Gunung Merapi, sehingga dinilai memiliki makna simbolis dalam filosofi Jawa yang agung.  Konsep ini menunjukkan bagaimana alam, manusia, dan spiritualitas berhubungan satu sama lain.

Seiring berjalan waktu, Malioboro berkembang menjadi area perdagangan strategis selama penjajahan Belanda.  Disertai dengan pemerintah kolonial membangun banyak bangunan penting, seperti Benteng Vredeburg dan Kantor Pos Besar, area ini menjadi pusat ekonomi yang penuh dengan aktivitas perdagangan dan sosial masyarakat Yogya kala itu.

Malioboro mengalami banyak transformasi mengikuti perkembangan waktu. Pedagang Tionghoa dan Arab mulai membuka toko di sepanjang jalan ini pada awal 1900-an.  Komoditi utama adalah kain batik dan perhiasan.

Memasuki era 1980-an, Malioboro semakin menjadi pusat wisata pada yang berkembang pesat.  Toko suvenir, pedagang kaki lima, dan seniman jalanan memenuhi jalan ini menambah semarak industri pariwisata Yogyakarta yang berkembang pesat.

Menikmati Malioboro paling seru dengan berjalan kaki, menikmati hasil revitalisasi Malioboro dilakukan oleh pemerintah kota.  Ruang publik diperluas, trotoar diperlebar, dan jalur kendaraan diatur ulang.

Adanya area pedestrian yang memungkin wisatawan menikmati Malioboro dengan lebih nyaman. Kawasan Malioboro membentang dari Tugu Yogyakarta sampai persimpangan Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

Menelusuri Malioboro tidak langkap tanpa merasakan aura perjuangan rakyat Yogya melawan penjajah Belanda. Saya mampir ke Benteng Vredeburg yang berdiri kokoh berseberangan dengan Gedung Agung dan berada di titik nol kilometer.

Harga tiket sangat terjangkau, hanya dengan membayar tiket Rp.15 ribu saya telah bergabung bersama dengan pengunjung lain.

Benteng Vredeburg pertama kali dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda atas perintah Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1760, dan hanya terdiri dari struktur sederhana dari kayu dan tanah liat.

Namun, Belanda merasa perlu memperkuat benteng itu, jadi pada tahun 1787, benteng itu dibangun kembali menjadi struktur permanen dengan menggunakan dinding batu yang lebih kokoh. Nama “Vredeburg”, berasal dari bahasa Belanda yang berarti “Benteng Perdamaian”.

Benteng ini menjadi saksi dari berbagai upaya rakyat Yogyakarta untuk menentang penjajahan.  Benteng juga pernah ini diambil alih oleh Jepang dan digunakan sebagai markas militer.

Benteng Vredeburg beberapa kali digunakan oleh penjajah dan pejuang Indonesia sebelum akhirnya diubah menjadi museum sejarah pada tahun 1985 untuk mengenang perjuangan bangsa. Museum Benteng Vredeburg memiliki banyak koleksi sejarah, termasuk diorama, foto, dan benda-benda peninggalan perjuangan rakyat Indonesia. Diorama yang ada di museum menggambarkan berbagai peristiwa penting, mulai dari masa penjajahan hingga perjuangan untuk kemerdekaan.

Konsep interaktif membantu saya dan pengunjung memahami sejarah Indonesia khususnya Yogyakarta dengan cara yang menyenangkan.

Tidak terasa sudah waktunya makan siang. Saya berjalan keluar museum untuk mengisi perut dan lanjut dengan mengulik pasar Beringharjo. Kenyang menikmati sajian makan siang Yogya yang cnenderung manis gurih di lidah, saya melangkah menuju pasar Beringharjo.

Pasar legendari yang telah ada bersamaan dengan berdirinya Keraton Yogyakarta pada tahun 1758.  Menilik berbagai catatat, jalan Malioboro didirikan sebagai pusat bisnis dan pemerintahan oleh Sultan Hamengkubuwono I.

Kawasan ini dulunya hanyalah hutan beringin sebelum menjadi pasar permanen yang sekarang.  “Beringharjo” berasal dari kata “bering”, yang berarti pohon beringin, dan “harjo”, yang berarti kemakmuran, di sinilah berdiri kokoh pasar yang sangat populer ini.

Sebagai pasar tertua di Yogyakarta, awalnya hanya terdiri dari lapak-lapak sederhana, baru tahun 1925 bangunan permanen menggantikan lapak-lapak.  Pasar Beringharjo terus berkembang sejak saat itu dan telah mengalami berbagai renovasi hingga saat ini.

Beragam barang tersedia, kebutuhan pokok, rempah-rempah, jamu, barang antik, kain batik dan aneka pakaian batik, hingga makanan khas Yogyakarta dan Jawa, maupun aneka warung makanan dengan harga yang sangat terjangkau.

Melewati berbagai masa dan masalah, seperti modernisasi dan persaingan dengan pusat perbelanjaan moderen, pasar ini tetap menjadi daya tarik utama Yogya yang dibagi menjadi beberapa zona berdasarkan jenis barang yang dijual. Di jamin seharian disini tidak akan terasa.

Jingga di Tugu Golong Gilig

Keluar dari Beringharjo, tujuan saya berikutnya adalah tugu Yogyakarta, dengan berjalan kaki dengan jarak sekitar 1,5 kilometer. Jangan khawatir, sepanjang perjalanan akan terhibur dengan deretan toko batik, oleh-oleh, kafe, penjual sate kaki lima, hingga seniman jalanan.

Setelah melewati rel kereta api, saya menyusuri jalan Margo Utomo (dulu Jalan Pangeran Mangkubumi). Tugu Yogyakarta terletak di persimpangan jalan Margo Utomo (dulu jalan Pangeran Mangkubumi), jalan Jenderal Sudirman, jalan AM Sangaji, dan jalan Diponegoro.

Saya datang pada waktu yang tepat, sore menjelang matahari terbenam. Saya menuju salah satu warung kopi dan memilih santai di teras lantai dua menikmati semburat jingga Yogyakarta.

Di bangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, pendiri Keraton Yogyakarta, pertama kali pada tahun 1755. Tugu ini awalnya disebut Tugu Golong-Gilig karena bentuknya yang berbentuk silinder dengan puncak bulat.

Bagi masyarakat Yogya, tugu Golong-Gilig tidak hanya berfungsi sebagai simbol hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Tetapi juga merupakan bagian dari garis imajiner yang menghubungkan Keraton Yogyakarta, Pantai Selatan, dan Gunung Merapi, yang menurut kepercayaan Jawa menggambarkan keseimbangan kosmos.

Sayangnya, gempa besar pada tahun 1867 menghancurkan tugu ini. Pada tahun 1889, pemerintah kolonial Belanda membangun ulang tugu ini dengan desain yang berbeda.  Hingga saat ini, tugu baru ini disebut Tugu Pal Putih karena memiliki bentuk persegi dengan puncak berbentuk kerucut lancip.

Tugu Pal Putih memiliki tinggi sekitar lima belas meter dan dihiasi dengan ornamen sederhana yang disesuaikan dengan gaya Eropa.  Di setiap sisi terdapat prasasti yang menunjukkan tanggal pemugaran serta simbol-simbol penting lainnya.

Tugu ini masih berfungsi sebagai simbol kebanggaan dan semangat perjuangan rakyat Yogyakarta, meskipun bentuknya sudah berubah.

 

Winbaktianur, penikmat wisata dan budaya. Akademisi UIN Imam Bonjol

E-mail: winbaktianur1978@gmail.com

 

Pos terkait