Galo-galo, primadona baru Bukit Tigapuluh

“Bagi bapak-bapak, kata madu ini pasti menjadi topik menarik. Tapi ini madu bukan sembarang madu. Madu asli, tapi bukan madu asli menurut bapak-bapak, ya, yang dapat memicu  piring terbang di rumah,” kata Fifin disambut riuh peserta.

Bacaan Lainnya
Kepala Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Fifin Arifiana Jogasara

Madu kelulut saat ini menjadi salah satu produksi andalan TNBT. Budidaya madu ini terus digencarkan sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan hutan di TNBT bagi peningkatan ekonomi masyarakat Suku Talang Mamak.

Kegiatan yang disebut sebagai kemitraan konservasi dengan target pembinaan masyarakat desa adalah kegiatan pembinaan sejumlah kelompok masyarakat yang dilaksanakan UPT Balai TNBT dibawah Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), melalui Direktorat Kawasan Konservasi, seperti  tertuang dalam Perdirjen No.6 Tahun 2018 tentang Juknis Kemitraan Konservasi.

“Secara singkatnya, kemitraan konservasi bertujuan untuk memberikan akses legal bagi masyarakat mengembangkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan tetap menjaga kelestarian kawasan itu sendiri,” jelas Fifin.

Sebenarnya, ujar Fifin, pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) secara intensif dimulai sejak tahun 2017 melalui program kemitraan konservasi dengan sasaran masyarakat yang hidup di dalam kawasan dan bina daerah penyangga dengan sasaran masyarakat di luar dan sekitar kawasan TNBT.

“Komoditas yang dikembangkan berdasarkan potensi dan kesepakatan dengan masyarakat, salah satunya adalah budidaya lebah madu Kelulut (latin, Trigona Sp).  Sementara masyarakat tempatan menyebutnya Galo-galo,” sebut Fifin

Lanjutnya lagi, Pemberdayaan Kelompok Tani Hutan (KTH) untuk mengembangkan potensi madu kelulut tersebar di sepanjang Sungai Batang Gansal serta beberapa wilayah lainnya, dan hingga Juli 2021 sudah terbentuk 12 KTH.

Pos terkait