Galo-galo, primadona baru Bukit Tigapuluh

Kelulut adalah jenis lebah yang memiliki ukuran relatif kecil dari lebah pada umumnya dan tidak memiliki sengat atau stingless bees. Sebelumnya masyarakat sering menjumpai koloni lebah kelulut di hutan, tetapi belum mengetahui bahwa madunya dapat dikonsumsi.

Bacaan Lainnya
Penguluh Kehutanan Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Nur Hajjah, S. Hut saat mendampingi Ketua KTH Sutan Limbayang Datai, Ginok

“Galo-galo, demikian masyarakat Talang Mamak menyebutnya, akhirnya percaya khasiat madu kelulut sangat baik untuk penyembuhan. Beberapa diantara mereka mengkonsumsi madu tersebut saat sakit, dan terbukti pemulihannya lebih cepat,” ujar Nur Hajjah kepada www.majalahoutsiders.com.

Ia melanjutkan, bantuan madu kelulut dari TNBT adalah jenis Trigona Ittama, dan beberapa anggota KTH juga mendapat Trigona sp lainnya seperti jenis Trigona Thorasica dan Trigona Apicalis, dimana produksi madunya cukup besar.

“Mereka senang bisa meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui budidaya madu kelulut ini. Pada prinsipnya, madu yang diproduksi anggota KTH akan dikumpulkan sebelum dikemas. Semakin aktif mereka menyetorkan hasilnya, semakin tinggi pendapatan yang mereka peroleh,” ungkap Nur Hajjah.

Tentu saja, tidak semua anggota aktif menyetor. Seleksi alam juga membuktikan tingkat keseriusan mereka berusaha. “Dari seleksi alam tersebut, yang paling menonjol adalah KTH Tunas Harapan Desat Rantau Langsat. Mereka berhasil mengumpulkan 100 kg lebih tinggi dari 11 kelompok lainnya dalam rentang waktu sejak terbentuk hingga Juli 2021 dengan penghasilan Rp. 25 juta,” ujar Nur Hajjah merincikan.

Pos terkait