Namun, kini gudang sebelah rumahnya tampak sepi dari aktifitas timbangan buah sawit. “Pohon sawit kini sudah tua, buahnya tidak seberapa. Dua tahun lagi akan ditebang, ditanam baru, kata suami istilahnya replanting,” ungkap Bu Neneng mengulang perbincangan dengan suaminya.

Ia mengambil keranjang plastik berisi buah Kakao yang sudah dikeringkan. Dalam sebulan akan terkumpul sekitar 45 kg dan dijual antara Rp 20.000,- hingga Rp 30.000,- perkilogram.
“Ini menjadi tambahan pendapatan kami, bersihnya kami dapat tujuh ratus ribu hingga satu juta perbulan. Masuk kantong saya ini,” ujarnya sambil tertawa reyah.
Pohon Kakao di halaman belakang rumahnya berjumlah sekitar 400 batang tersebar di atas lahan seluas lebih kurang setengah hektare. Bu Neneng menuturkan, pohon Kakaonya berusia hampir dua tahun. Dalam setahun pohon Kakao berbuah sebanyak dua kali. Tampak pohon Kakao setinggi 1,5 meter masih tergantung buah di dahan-dahan yang rendah.
“Setiap hari saya memeriksa buah yang matang, kemudian biji cokelat akan dijemur selama 3 atau 4 hari untuk mendapatkan kualitas yang bagus. Saya yakin sambil menanti buah pasir sawit, Kakaopun terasa manis,” terangnya dengan fasih.
Kegembiraan keluarga Bu Neneng dan Pak Parjo juga dirasakan oleh keluarga 30 anggota Koperasi Prima Jaya Tapung (Prijata) lainnya dalam penantian replanting sawit maupun harapan paska replanting sambil menunggu kejayaan sawit di lahan dua hektare mereka.






