Menyusuri sungai gambut, menyapa Orangutan Tanjung Puting

Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus, terutama subspesies P. p. wurmbii), satwa endemik Taman Nasional Tanjung Puting yang terus dilestarikan

Taman Nasional Tanjung Puting berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Lamandau, Kalimantan Tengah. Kawasan seluas 415.040 hektare ini menyimpan mozaik ekosistem yang beragam, mulai dari hutan rawa gambut, mangrove, hingga hutan kerangas di dataran rendah pesisir selatan Kalimantan. Pada tahun 1977 kawasan ini ditetapkan sebagai cagar biosfer UNESCO dan diresmikan sebagai taman nasional pada 1982. Sejak itu, Tanjung Puting dikenal sebagai surga konservasi orangutan Kalimantan dan menjadi salah satu destinasi wisata alam paling berkesan di Indonesia. Di sini hidup orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii), bekantan, owa, kera ekor panjang, serta satwa besar lain seperti beruang madu, macan dahan, hingga dua jenis buaya. Lebih dari 230 jenis burung juga menjadikan kawasan ini rumah mereka.

 

Pangkalan Bun (Outsiders) – Nama Tanjung Puting tak bisa dilepaskan dari sosok Dr. Biruté Mary Galdikas. Bersama timnya, ia mendirikan Camp Leakey pada 1971, stasiun riset yang hingga kini menjadi rujukan penelitian orangutan terpenting di dunia. Di sinilah lahir pemahaman baru tentang perilaku, sosial, hingga upaya penyelamatan primata besar berambut jingga yang kini populasinya kian terdesak.

Camp Leaky, salah satu stasiun yang ada di Taman Nasional Tanjung Puting

Gerbang utama menuju Tanjung Puting adalah Pangkalan Bun melalui Bandara Iskandar. Dari kota kecil ini wisatawan menempuh perjalanan singkat ke Pelabuhan Kumai. Di pelabuhan inilah perjalanan sesungguhnya dimulai dengan menaiki klotok, perahu kayu tradisional yang akan menjadi rumah selama beberapa hari. Klotok membawa pengunjung menyusuri Sungai Kumai dan Sungai Sekonyer, melewati air berwarna gelap yang tenang dengan dinding pepohonan tropis yang rimbun.

Paket perjalanan yang paling populer berlangsung tiga hari dua malam. Pada sore hari pertama, klotok biasanya berlabuh di Tanjung Harapan, stasiun rehabilitasi orangutan. Inilah momen pertama menyaksikan satwa berambut jingga yang menjadi ikon Kalimantan. Senja menghadirkan panorama hutan berwarna keemasan sebelum malam tiba, saat klotok menjadi tempat istirahat dengan alunan suara hutan sebagai pengantar tidur.

Feeding Platform, lokasi pemberian makanan tambahan kepada orangutan di stasiun Pondok Tanggui

Hari kedua adalah puncak pengalaman. Setelah sarapan, perjalanan dilanjutkan ke Pondok Tanggui. Sekitar pukul sembilan pagi, orangutan muda sering tampak di feeding platform atau tempat pemberian makanan tambaan, melompat lincah dari satu pohon ke pohon lain. Siang harinya perjalanan diteruskan ke Camp Leakey, stasiun penelitian yang menyimpan sejarah panjang konservasi orangutan. Wisatawan dapat menyaksikan orangutan dewasa yang gagah atau induk yang menggendong bayinya. Trekking singkat di jalur hutan tropis menyingkap keragaman vegetasi rawa gambut, sebelum malam kembali dihabiskan di atas klotok.

Hari ketiga biasanya diisi dengan pelayaran santai menyusuri sungai. Bekantan berkelompok sering terlihat di pepohonan nipah, sementara burung rangkong melintas dengan sayapnya yang besar. Setelah itu, perjalanan berbalik menuju Kumai dan kembali ke Pangkalan Bun, menutup petualangan dengan kesan yang sulit dilupakan.

Kapal Klotok, perahu seperti rumah terapung ini menjadi andalan wisatawan untuk menikmati pengalaman menelusuri trek sungai Taman Nasional Tanjung Puitng

Agar perjalanan lancar, disarankan menggunakan jasa pemandu resmi atau operator tur berizin yang mengurus dokumen masuk taman, izin pelayaran, serta kebutuhan logistik. Perlengkapan pribadi seperti obat anti nyamuk, jas hujan tipis, senter, masker, kantong kedap air, dan kamera dengan lensa tele sangat dianjurkan. Saat berada di kawasan konservasi, wisatawan wajib menjaga jarak dari satwa, tidak memberi makan, tidak berisik, dan selalu mematuhi arahan petugas rimbawan.

Selain orangutan, Tanjung Puting menawarkan kejutan lain. Sungai Sekonyer di bagian hulu Camp Leakey memiliki warna coklat pekat yang memantulkan pepohonan seperti cermin. Pada musim tertentu, terutama saat buah hutan berlimpah, orangutan lebih sering terlihat berpindah dari satu pohon ke pohon lain mencari pakan alami. Keberuntungan juga bisa membawa wisatawan berjumpa mamalia malam atau burung hutan yang langka.

Menelusuri sungai di Taman Nasional Tanjung Puting dengan aroma mirip Sungai Amazon

Waktu kunjungan terbaik biasanya pada musim kering antara Mei hingga Oktober, ketika curah hujan lebih rendah sehingga aktivitas menyusuri sungai terasa lebih nyaman. Namun di balik keelokan yang ditawarkan, Tanjung Puting juga menghadapi ancaman berupa pembalakan dan konversi lahan di sekitar batas taman. Upaya rehabilitasi dan penanaman kembali, misalnya di kawasan Pasalat, terus dilakukan oleh pemerintah bersama lembaga swadaya masyarakat.

Setiap klotok yang berlayar membawa serta pesan penting tentang konservasi hutan tropis Kalimantan. Setiap langkah wisatawan yang mematuhi etika menjadi bagian dari perjuangan menjaga satwa endemik dan ekosistem gambut agar tetap lestari. Tanjung Puting juga menghadirkan kesadaran bahwa petualangan di Borneo adalah kesempatan untuk ikut menjaga masa depan bumi.

Untuk memberikan visual nyata, pembaca dapat melihat langsung atmosfir Taman Nasional Tanjung Puting dari video unggahan Kapten Drone berikut:

Pos terkait