Melacak kemungkinan Suku di Wae Rebo sebagai rantai yang terputus dari Minangkabau

Pemandangan desa Wae Rebo, (Foto: Dok. DesaWahid A Fauzi/ Five Project Aerial)

Di puncak pegunungan terpencil di Kabupaten Manggarai, Flores bagian barat, berdiri sebuah kampung kecil yang dikenal dunia karena bentuk rumah adatnya memiliki ciri khas dan lanskap seolah menembus kabut. Wae Rebo, demikian desa adat ini disebut, hanya terdiri dari tujuh rumah utama berbentuk kerucut tinggi yang disebut mbaru niang, menjadi lambang ketekunan masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur.

Namun di balik pesona arsitektur dan kehidupan adatnya, ada kisah menarik tentang asal-usul mereka. Konon kabarnya berasal dari tanah jauh di barat, dari Minangkabau di Sumatra. Cerita itu hidup dalam memori lisan masyarakat Wae Rebo, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, namun masih menjadi misteri besar dalam sejarah kebudayaan Nusantara.

Dalam cerita yang sering diulang oleh para tetua adat, leluhur Wae Rebo disebut bernama Empu Maro atau Empo Maro. Dikisahkan bahwa Empu Maro berasal dari Minangkabau, kemudian melakukan perjalanan panjang menyeberangi lautan hingga akhirnya menetap di dataran tinggi Flores dan mendirikan perkampungan pertama yang kemudian menjadi Wae Rebo.

Legenda ini hidup dalam tutur masyarakat setempat dan bahkan menjadi bagian dari narasi pariwisata yang kerap disampaikan kepada para pengunjung. Cerita itu menjadi semacam fondasi identitas, pengikat antara masa lalu dan masa kini, serta alasan mengapa warga Wae Rebo merasa memiliki hubungan spiritual dengan tanah Minangkabau, meski jarak dan waktu telah memisahkan keduanya.

Namun sejauh ini, cerita tentang asal-usul Minangkabau tersebut belum bisa dibuktikan dengan data sejarah yang pasti. Tidak ada catatan tertulis, artefak, atau bukti arkeologis yang menunjukkan adanya migrasi langsung dari Sumatra ke Flores. Peneliti antropologi dan sejarah yang pernah mengunjungi Wae Rebo, seperti yang dicatat dalam sejumlah kajian etnografi lokal, menempatkan kisah ini dalam ranah tradisi lisan, bukan dalam kronologi sejarah faktual.

Cerita migrasi seperti ini lazim ditemukan di banyak tempat di Indonesia, di mana asal-usul suatu suku atau kampung kerap dihubungkan dengan wilayah lain sebagai bentuk penegasan identitas. Dalam konteks Wae Rebo, hubungan dengan Minangkabau mungkin lebih bersifat simbolik, menunjukkan keinginan masyarakat untuk mengaitkan asal-usul mereka dengan kebudayaan besar yang terkenal memiliki sistem sosial matrilineal dan nilai adat yang kuat.

Beberapa pengamat budaya mencoba mencari titik temu antara budaya Minangkabau dan Wae Rebo, salah satunya melalui bentuk rumah adat. Rumah Gadang di Minangkabau memiliki atap bergonjong yang menjulang ke atas, menyerupai tanduk kerbau, sedangkan mbaru niang berbentuk kerucut tinggi dengan lapisan atap daun lontar dari bawah hingga ke puncak.

Sekilas keduanya tampak sangat berbeda, tetapi dalam pandangan arsitektur tradisional Nusantara, keduanya sama-sama mencerminkan struktur sosial yang berakar pada komunitas dan nilai gotong royong. Rumah Gadang dibangun untuk menampung satu kaum dalam sistem matrilineal, sementara mbaru niang menampung seluruh keluarga besar dalam satu bangunan, mencerminkan konsep hidup bersama dalam satu kesatuan sosial. Kesamaan dalam prinsip sosial dan kolektivitas inilah yang kadang dianggap sebagai jejak persamaan nilai budaya, meskipun bukan bukti adanya hubungan langsung antara keduanya.

Para ahli arsitektur dan antropologi melihat bahwa bentuk rumah adat di berbagai wilayah Indonesia sebenarnya berkembang dari akar kebudayaan Austronesia yang sama. Bangsa-bangsa penutur bahasa Austronesia menyebar dari Taiwan ribuan tahun lalu ke berbagai pulau di Pasifik dan Nusantara, membawa tradisi membangun rumah panggung, penggunaan bahan alami seperti kayu dan daun palma, serta sistem kepercayaan yang memandang rumah sebagai simbol hubungan antara dunia manusia, alam, dan leluhur. Dalam kerangka inilah kemiripan antara rumah adat Wae Rebo dan rumah-rumah adat lain di Nusantara bisa dipahami sebagai warisan budaya yang berakar dari migrasi besar bangsa Austronesia, bukan dari hubungan langsung antara dua kelompok tertentu seperti Minangkabau dan Wae Rebo.

Penelitian genetika modern terhadap populasi di wilayah Indonesia Timur menunjukkan betapa kompleksnya sejarah migrasi manusia di kepulauan ini. Studi yang dilakukan oleh berbagai lembaga riset internasional menemukan adanya pencampuran antara populasi berketurunan Austronesia dan populasi lokal yang sudah lama mendiami wilayah Wallacea, termasuk Flores.

Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Flores memiliki campuran genetik yang khas, berbeda dari penduduk Sumatra bagian barat yang mayoritas memiliki campuran Austronesia dengan komponen Asia Daratan. Dengan demikian, hingga kini belum ada bukti genetika yang menunjukkan adanya hubungan biologis langsung antara masyarakat Wae Rebo dan Minangkabau.

Namun dalam konteks budaya, kebenaran tidak selalu diukur dari data ilmiah semata. Bagi masyarakat Wae Rebo, legenda Empu Maro dan kaitan dengan Minangkabau adalah bagian dari narasi kolektif yang memberikan makna bagi kehidupan mereka.

Kisah itu mengajarkan asal-usul, nilai kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur. Cerita tersebut juga menjadi landasan moral bagi upacara adat seperti penti, yaitu ritual tahunan untuk bersyukur atas hasil panen dan memohon keberkahan dari para leluhur.

Dalam setiap pelaksanaan penti, warga Wae Rebo berkumpul di sekitar compang, batu persembahan di tengah kampung, dan menyebut nama-nama leluhur mereka. Empu Maro selalu menjadi bagian dari doa, seolah menjadi penghubung antara masa lampau dan masa kini, antara dunia nyata dan dunia roh.

Di luar makna spiritual, kisah asal-usul dari Minangkabau juga memainkan peran penting dalam menjaga eksistensi budaya Wae Rebo di tengah arus modernisasi. Ketika Wae Rebo mendapat penghargaan UNESCO Asia-Pacific Heritage Award pada 2012 karena keberhasilan mereka melestarikan mbaru niang, perhatian dunia terhadap kampung ini meningkat tajam.

Ribuan wisatawan datang setiap tahun untuk melihat langsung keunikan desa di atas awan ini. Dalam narasi wisata dan promosi kebudayaan, cerita tentang Empu Maro yang datang dari Minangkabau sering diangkat kembali, memberi warna pada citra Wae Rebo sebagai desa adat yang memiliki sejarah panjang lintas pulau.

Namun dalam proses komodifikasi budaya itu, legenda sering kali disederhanakan agar mudah dipahami oleh pengunjung. Cerita tentang perjalanan panjang Empu Maro menjadi semacam mitos turistik yang disajikan dalam bentuk narasi populer.

Di satu sisi, hal itu membantu memperkuat daya tarik pariwisata dan menumbuhkan kebanggaan lokal, tetapi di sisi lain berisiko mengaburkan batas antara tradisi lisan dan fakta sejarah.

Beberapa peneliti menyebut fenomena ini sebagai bentuk “folklorisasi” atau penyesuaian cerita rakyat agar sesuai dengan kebutuhan publik modern. Dalam hal ini, kisah Wae Rebo dan Minangkabau tidak lagi hanya berfungsi sebagai ingatan kolektif, melainkan juga sebagai komoditas budaya yang ikut membentuk identitas komunitas dalam ruang ekonomi baru.

Ketika kita menyebut hubungan Wae Rebo dan Minangkabau sebagai rantai yang terputus, yang dimaksud bukanlah hilangnya seluruh ikatan, melainkan keberlanjutan makna yang tidak lagi tersambung melalui bukti konkret.

Rantai itu kini tersisa dalam bentuk simbol, dalam kisah yang berulang di bibir para tetua adat, dan dalam struktur sosial yang menjunjung kebersamaan. Ia terputus secara sejarah dan biologi, tetapi tetap hidup dalam bentuk ingatan dan kepercayaan.

Inilah yang membuat kisah Wae Rebo menarik, karena di balik kabut pegunungan yang menyelimuti kampung itu, tersimpan hubungan imajiner yang menghubungkan dua budaya besar di ujung Nusantara.

Sampai saat ini belum ada penelitian arkeologis atau linguistik yang secara khusus menelusuri jejak bahasa atau artefak yang dapat membuktikan hubungan tersebut. Bahasa Manggarai yang digunakan di Wae Rebo termasuk dalam rumpun bahasa Bima-Sumba yang sangat berbeda dengan bahasa Minangkabau yang tergolong dalam subkelompok Melayu Tengah.

Perbedaan linguistik ini menunjukkan jarak kultural yang besar di antara keduanya, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya pengaruh lintas budaya akibat perdagangan dan migrasi kecil yang terjadi selama berabad-abad.

Beberapa catatan sejarah kolonial Belanda juga menunjukkan bahwa jalur perdagangan antara bagian barat dan timur Nusantara telah aktif sejak lama, sehingga perpindahan kelompok kecil manusia dari satu pulau ke pulau lain bukan hal yang mustahil.

Meski begitu, kisah Empu Maro tetap menempati posisi penting dalam narasi identitas masyarakat Wae Rebo. Cerita itu bukan sekadar legenda, melainkan bentuk pengetahuan lokal yang memelihara hubungan manusia dengan leluhur.

Dalam pandangan masyarakat adat, kebenaran tidak selalu terletak pada fakta sejarah yang dapat diverifikasi, melainkan pada nilai yang terkandung di dalamnya. Kisah itu memberi mereka arah, memberi alasan untuk melestarikan adat, menjaga keharmonisan, dan terus hidup di tanah yang dipercaya telah dipilih oleh nenek moyang.

Dalam percakapan yang lebih luas tentang asal-usul manusia di Nusantara, Wae Rebo menjadi contoh bagaimana tradisi lisan dan ilmu pengetahuan saling melengkapi dan saling menguji. Satu sisi mengandalkan kepercayaan dan nilai spiritual, sisi lain menuntut bukti empiris dan analisis ilmiah. Di antara keduanya ada ruang kebudayaan yang sangat manusiawi, di mana memori, imajinasi, dan identitas berpadu.

Rantai yang terputus itu mungkin tidak akan pernah tersambung kembali secara penuh. Namun justru di sanalah nilai pentingnya. Ia mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya ditulis dengan tinta, tetapi juga diucapkan dengan kata, diingat dengan hati, dan dijaga dengan ritual.

Bagi masyarakat Wae Rebo, cerita tentang Minangkabau bukan sekadar asal-usul yang hilang di balik kabut waktu, melainkan cara untuk menegaskan siapa mereka dan dari mana mereka datang, meskipun jawabannya mungkin tidak pernah ditemukan di dalam arsip sejarah.

Pada akhirnya, hubungan antara Wae Rebo dan Minangkabau adalah refleksi tentang bagaimana manusia mencari akar dalam dunia yang terus berubah. Mungkin Empu Maro benar berasal dari Minangkabau, mungkin juga tidak.

Tetapi dalam kisah itu tersimpan keinginan manusia untuk menjembatani jarak, untuk menghubungkan yang jauh, dan untuk menemukan diri di tengah perbedaan. Seperti rumah mbaru niang yang berdiri tegak di atas awan, kisah ini juga menjadi rumah bagi ingatan kolektif, tempat di mana masa lalu, kini, dan masa depan bertemu dalam satu ruang kesadaran budaya.

Kisah Wae Rebo mengajarkan bahwa kadang yang terpenting bukan apakah rantai itu benar-benar terputus, tetapi bagaimana setiap mata rantai, setiap cerita, dan setiap keyakinan terus dijaga agar identitas tidak hilang.  Karena pada akhirnya, dalam keheningan pegunungan Flores yang diselimuti kabut, gema masa lalu dari Minangkabau masih hidup di hati masyarakat Wae Rebo, mengikat mereka dengan sejarah yang tak pernah sepenuhnya hilang, meski tak lagi terlihat utuh di mata ilmu pengetahuan.

Secara visual, kondisi Desa Wae Rebo dapat dilihat melalui video unggahan YouTuber Arsal Bahtiar berikut ini:

Pos terkait