Tradisi Hoyak Tabuik, jejak duka Karbala di Pesisir Pariaman

Arak- arakan Tabuik menuju pantai Gondoria Pariaman, Sumatera Barat (Dok. gumilang jalan- jalan)

 Di Kota Pariaman, sebuah tradisi tua terus hidup dari generasi ke generasi. Masyarakat menyebutnya Hoyak Tabuik, sebuah upacara budaya yang setiap tahun menarik ribuan orang untuk berkumpul, merayakan, dan mengenang kisah duka dari masa ratusan tahun lalu. Pada hari puncaknya, suara gandang tasa terdengar menghentak, memecah udara yang hangat, sementara arak arakan tabuik melintas di jalan utama kota. Arakan itu selalu memunculkan rasa takjub, sebab di balik kemeriahan dan warna warni ornamen, tersimpan jejak panjang sejarah pengaruh luar, percampuran budaya, serta perjalanan sosial yang terus berubah.

Hoyak Tabuik tidak lahir dari masyarakat Pariaman sendiri. Jejak paling awal tradisi ini berawal dari peringatan Asyura dalam ajaran Syiah, tradisi untuk mengenang gugurnya Hussein bin Ali dalam peristiwa Karbala pada abad ketujuh.

Versi yang paling banyak diterima para peneliti menyebut bahwa tradisi tabuik dibawa ke Pariaman oleh pasukan sepoy dari India atau Benggala pada paruh pertama abad ke sembilan belas, ketika Inggris sempat menguasai wilayah Sumatera Barat. Di tempat asalnya, peringatan itu dikenal sebagai taazia atau taaziya, yang menghadirkan replika peti atau usungan jenazah untuk mengingat tragedi Karbala. Ketika para sepoy itu datang ke Pariaman, mereka membawa tradisi tersebut dan memperkenalkannya kepada masyarakat setempat.

Namun perjalanan waktu membuat tradisi itu mengalami perubahan. Masyarakat Minangkabau yang terkenal adaptif mengolah tradisi tersebut sehingga tidak lagi berdiri sebagai ritual keagamaan Syiah. Unsur unsur lokal pun menyatu, mulai dari nilai adat hingga penggunaan gandang tasa sebagai pengiring utama. Perpaduan itu membuat tabuik tumbuh sebagai tradisi masyarakat Pariaman, bukan sekadar tradisi impor dari India. Inilah salah satu alasan mengapa tabuik tetap bertahan, bahkan melewati masa masa ketika ia pernah dilarang dan dianggap mengganggu ketertiban atau melanggar nilai nilai masyarakat.

Untuk memahami akar tradisinya, perlu melihat lebih dekat setiap prosesi tabuik. Tradisi ini berlangsung selama hampir dua pekan, dimulai pada awal bulan Muharram. Rangkaian dimulai dari maambiak tanah, sebuah ritual yang melibatkan pengambilan segumpal tanah dari tempat yang dianggap suci. Tanah itu melambangkan duka, rasa kehilangan, dan kepedihan akibat tragedi Karbala. Prosesi berikutnya adalah maambiak atau menabang batang pisang, yang menyimbolkan tubuh Hussein. Dalam ritual ini, masyarakat seperti diajak menghidupkan kembali kisah pilu yang menjadi latar tradisi tabuik, meski konteks lokal telah mengubah nuansa ritual menjadi lebih simbolis dan budaya daripada religius.

Semangat kerjasama masyarakat lokal di Kota Pariaman tergambar dalam prosesi Hoyak Tabuik (Dok. gumilang jalan- jalan)

Setelah itu, masyarakat memasuki tahapan maatam, yang merupakan bentuk ekspresi duka. Dulu prosesi ini lebih ekspresif, tetapi dalam perkembangan modern, maatam lebih banyak dimaknai sebagai bentuk penghormatan sejarah. Tahapan berikutnya adalah maarak jari jari dan maarak saroban, dua iring iringan yang membawa perlengkapan simbolis. Keduanya menjadi bagian dari persiapan membangun tabuik yang nantinya berdiri megah di tengah kota.

Arak arakan besar terjadi ketika tabuik yang telah selesai dihias dinaikkan dan diarak keliling kota. Inilah yang disebut Hoyak Tabuik. Pada momen ini, ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan. Tabuik diangkat dan digoyang oleh puluhan pemuda dengan ritme yang mengikuti tabuhan gandang tasa. Pergerakan itu melambangkan perjuangan, semangat, dan kesedihan yang dilepaskan sekaligus oleh masyarakat. Tak jarang, sorak sorai warga bercampur dengan dentuman musik tradisional sehingga menciptakan suasana khas yang tidak ditemui di tempat lain.

Rangkaian ditutup dengan prosesi mambuang tabuik, yaitu pelarungan tabuik ke laut. Prosesi ini adalah simbol pelepasan duka dan penyerahan kembali kisah Karbala kepada tempat yang lebih luas. Arti simbolisnya berkembang dalam masyarakat, antara lain sebagai ajakan untuk membersihkan diri dari sifat buruk serta mengakhiri suasana duka yang sejak awal Muharram dihadirkan dalam prosesi tabuik.

Meski dianggap sebagai tradisi sakral oleh masyarakat Pariaman, perjalanan tabuik tidak selalu mulus. Ada periode periode tertentu ketika perayaan ini dilarang. Salah satu catatan paling tua terjadi pada masa kolonial Belanda. Pemerintah kolonial menilai arak arakan tabuik mengandung risiko kerusuhan, karena antusiasme masyarakat sering memunculkan gesekan antarkelompok. Tabuik pernah dilarang pada penghujung abad ke sembilan belas dan awal abad kedua puluh dengan alasan keamanan. Ketika itu, Belanda melihat konsentrasi massa dalam jumlah besar sebagai ancaman politik sehingga mereka memberlakukan pembatasan ketat.

Detik- detik Tabuik akan dihanyutkan di Pantai Gondoria Pariaman (Dok. gumilang jalan- jalan)

Larangan berikutnya muncul pada era kemerdekaan ketika kondisi sosial politik Indonesia masih belum stabil. Data sejarah menyebut pada sekitar tahun 1950 hingga pertengahan 1960, rangkaian tabuik sempat dihentikan karena pertimbangan keamanan dan adanya kekhawatiran bahwa massa yang besar dapat memicu konflik horizontal. Pada periode tersebut, nilai kesakralan tabuik juga disebut mengalami penurunan akibat perubahan sosial dan tekanan politik yang terjadi di Sumatera Barat. Beberapa catatan penelitian menggambarkan suasana ketika tabuik tidak lagi dilaksanakan secara penuh, bahkan ada tahun tahun ketika tradisi ini tidak digelar sama sekali.

Larangan juga pernah terjadi pada masa pandemi global tahun 2020 dan 2021, ketika pemerintah daerah membatalkan seluruh perayaan Tabuik untuk mencegah penyebaran covid-19. Meskipun pembatalan tersebut bukan dalam konteks konflik atau gangguan, keputusan itu tetap tercatat sebagai salah satu periode ketika tradisi tabuik dihentikan sementara. Situasi ini menunjukkan bahwa tradisi yang telah berusia dua abad pun tidak luput dari pengaruh kondisi global yang memaksa masyarakat mengambil keputusan demi menjaga keselamatan bersama.

Walau begitu, setiap kali tradisi ini kembali digelar, antusiasme masyarakat tidak pernah pudar. Dalam catatan budaya, minat masyarakat Pariaman terhadap tabuik selalu muncul kembali setelah masa masa pelarangan. Hal ini menunjukkan bahwa tabuik bukan sekadar ritual, tetapi bagian penting dari identitas masyarakat. Banyak orang Pariaman yang tinggal di rantau menjadikan momen tabuik sebagai waktu pulang kampung, sehingga tradisi ini sekaligus menjadi wadah silaturahmi besar. Ikatan ranah dan rantau terlihat jelas dalam arak arakan tabuik, ketika warga yang jarang pulang pun ikut berbaur untuk menyaksikan perayaan yang telah menjadi simbol kampung halaman mereka.

Selain itu, perkembangan pariwisata memberi warna baru bagi tabuik. Pemerintah daerah menjadikan festival ini sebagai agenda resmi wisata tahunan yang mampu menarik puluhan ribu pengunjung. Keterlibatan wisatawan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat. Para perajin lokal mendapatkan pesanan, pedagang makanan menikmati lonjakan pembeli, dan pelaku usaha pariwisata menikmati peningkatan aktivitas.

Namun ada sisi lain dari perkembangan tersebut. Para peneliti mencatat munculnya ketegangan antara nuansa sakral Tabuik dengan tuntutan dunia hiburan dan pariwisata. Sebagian masyarakat menilai tradisi ini jangan sampai kehilangan nilai inti akibat komersialisasi berlebihan. Walaupun demikian, pemerintah dan tokoh adat berusaha menjaga keseimbangan sehingga tradisi tetap otentik sekaligus relevan dalam konteks modern.

Keunikan tabuik juga terletak pada simbolisme yang kaya. Tabuik dianggap bukan hanya replika peti duka dari kisah Karbala, tetapi juga simbol perlawanan, identitas, dan karakter masyarakat Pariaman yang teguh menjaga tradisi. Dalam tradisi lisan yang berkembang, tabuik sering dikaitkan dengan makna moral agar manusia menjauhi sifat buruk, menahan diri dari rasa amarah, serta menghargai perjuangan orang orang yang teguh mempertahankan prinsip hidup. Bagi generasi muda, tabuik menjadi sarana pendidikan budaya yang mengajarkan arti kebersamaan dan menghargai sejarah.

Lempar- lemparan makanan tradisional yang dibawa dalam arakan Tabuik (Dok. gumilang jalan- jalan)

Proses pembuatan tabuik juga mencerminkan gotong royong. Rangkaian itu menggerakkan seluruh lapisan masyarakat. Para perajin bambu bekerja sejak berminggu minggu sebelumnya untuk membangun rangka yang kuat. Kelompok ibu ibu membantu menyiapkan perlengkapan ritual. Para pemuda menjadi tenaga utama penggoyang tabuik ketika hari puncak tiba. Kolaborasi banyak pihak itu menunjukkan bahwa tabuik bukan sekadar ritual kelompok tertentu, tetapi tradisi yang mempertemukan banyak elemen budaya.

Karena sejarah dan kedalaman maknanya, Tabuik kini sedang diusulkan menjadi salah satu warisan budaya tak benda yang diakui secara internasional. Upaya ini dilakukan dengan harapan tradisi tersebut semakin dilestarikan dan dikenal di tingkat global. Pemerintah daerah bersama berbagai lembaga budaya telah menyusun dokumentasi lengkap agar tradisi ini masuk ke daftar warisan budaya yang diakui secara formal. Pengakuan itu diharapkan menjadi dorongan untuk menjaga tabuik dari ancaman hilangnya nilai nilai budaya akibat modernisasi.

Meski begitu, tantangan tetap ada. Arak arakan tabuik yang besar membutuhkan biaya tidak sedikit. Selain itu, perubahan pola pikir generasi muda membuat sebagian dari mereka kurang memahami akar tradisi. Tantangan lainnya adalah mempertahankan kemurnian nilai tabuik, sebab proses komodifikasi sering kali mendorong penyederhanaan makna tradisi. Beberapa peneliti menilai bahwa salah satu tugas penting pewaris budaya di Pariaman adalah memastikan tabuik tidak semata menjadi pertunjukan wisata, melainkan tetap menjadi bagian hidup masyarakat.

Namun, ketika hari puncak tabuik berlangsung dan ribuan orang memadati tepi pantai saat prosesi mambuang tabuik, seluruh tantangan itu seakan lenyap sejenak. Pada momen itu yang terlihat adalah masyarakat yang menyatu, tradisi yang terjaga, dan warisan panjang yang hidup kembali di tengah suara ombak dan tabuhan gandang tasa. Di sinilah kekuatan sejati Hoyak Tabuik sebagai jembatan yang menghubungkan generasi lama dan baru, sebagai ruang untuk memaknai duka, merayakan kebersamaan, dan menegaskan identitas masyarakat Pariaman yang kaya dengan sejarah dan budaya.

Untuk lebih jelasnya prosesi perayaan Hoyak Tabuik Pariaman, dapat langsung disaksikan melalui kanal YouTube “gumilang jalan- jalan” berikut:

Pos terkait