Oleh: Winbaktianur
SURABAYA, 19 SEPTEMBER 1945
KETIKA MELIHAT BENDERA MEREH-PUTIH-BIRU BERKIBAT KEMBALI DI HOTEL ORANYE (YAMATO HOTEL), KEMARAHAN RAKYAT DAN PEMUDA-PEMUDA DI SURABAYA TIDAK TERTAHAN LAGI. DENGAN SEREMPAK RAKYAT BERGERAK . SUASANA MENJADI PANAS, JALAN TUNJUNGAN MENJADI LAUTAN MANUSIA YANG BERGELORA.
TERJADILAH
INSIDEN BENDERA, FAJAR PERMULAAN MELETUSNYA API REVOLUSI KARENA RAKYAT HANYA MENGHENDAKI SUPAYA SANG DWI WARNA MERAH-PUTIH SAJA YANG BERKIBAR DI ANGKASA INDONESIA, SEDANG TIGA WARNA HARUS TURUN.
KEMUDIAN
BERKIBARLAH SANG DWI WARNA HINGGA DETIK SEKARANG DAN UNTUK SETERUSNYA SEBAGAI LAMBANG KEMEGAHAN DAN KEJAYAAN NUSA DAN BANGSA INDONESIA.

Keramaian Jalan Tunjungan Kota Pahlawan, Surabaya di waktu malam semakin semarak. Sebagai kawasan penuh sejarah dan kenangan, jalan ini tidak pernah sepi. Beragam sajian lokal, nasional dan mancanegara bertebaran dengan harga menyesuaikan kantong pengunjung.
Penulis berkesempatan menelusuri area ini, menikmati sajian yang lezat, suasana yang hangat, bangunan-bangunan tua yang terawat dengan sangat baik. Salah satunya adalah Hotel Majapahit.
Sudah 113 tahun silam, Hotel Majapahit, dikenal dengan Oranje Hotel, didirikan oleh keluarga Sarkies pada tahun 1910, resmi dibuka pada 1 Juli 1911. Merupakan salah satu hotel mewah terkemuka di Asia Tenggara pada masanya.
Hotel legendaris ini merupakan salah satu landmark penuh kenangan dan kebanggaan nasional. Berpadu sejarah, romansa, dan kemewahan penuh kesempurnaan. Arsitektur kolonial yang elegan dan taman tertata rapi memancarkan pesona abad ke-20 yang dipadukan dengan fasilitas moderen.

Hotel ini pernah berganti nama masa pendudukan Jepang pada Perang Dunia II, menjadi Hotel Yamato dan digunakan sebagai markas tentara Jepang. Salah satu peristiwa paling terkenal yang terjadi di hotel ini adalah Insiden Hotel Yamato pada 19 September 1945, ketika pejuang Indonesia merobek warna biru bendera Belanda yang dikibarkan di hotel, sehingga menjadi bendera merah putih.
Ketika itu, sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan keluarga Sarkies mengibarkan bendera Belanda (merah-putih-biru) di tiang tertinggi Hotel Yamato tanpa persetujuan Pemerintah Indonesia. Tindakan ini dipandang sangat provokatif oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Peristiwa tersebut bermula ketika rombongan yang dipimpin oleh W.V.C. Progman mengibarkan bendera Belanda tanpa persetujuan pemerintah daerah Surabaya di Republik Indonesia. Belanda tidak datang sendiri, melainkan bersama sekutunya AFNEI (Angkatan Bersekutu Hindia Belanda), dan bendera Belanda berkibar di tiang lantai atas sisi utara Hotel Yamato.
Dalam sekejap, Jalan Tunjungan dipenuhi massa yang marah hingga tumpah ke halaman hotel dan halaman gedung sebelahnya. Massa yang marah mulai berunding dengan Belanda.
Di pihak Indonesia, dipimpin oleh Residen Surabaya, Sudirman. Pihak Belanda diwakili oleh W.V.C. Ploegman, dan wakil wakilnya (Fuzhou Gugunseikan). Dalam perundingan tersebut, Sudirman meminta agar bendera Belanda diturunkan dari Hotel Yamato. Ploegman menolak menurunkan bendera Belanda dan perundingan gagal.

Negosiasi berakhir dengan pertempuran, dengan korban jiwa termasuk Ploegman. Sudirman melarikan diri dari Hotel Yamato. Hariyono yang semula bersama Sudirman kembali ke hotel dan ikut memanjat tiang bendera. Ia bersama Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya dan memasangnya kembali di atas tiang.
Insiden ini memicu semangat perjuangan rakyat Surabaya dan menjadi salah satu pemicu pertempuran besar melawan tentara Sekutu yang dikenal sebagai Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Peristiwa ini tidak hanya menunjukkan keberanian dan semangat nasionalisme para pejuang, tetapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan dan upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Setelah kemerdekaan Indonesia, hotel ini berganti nama menjadi Hotel Merdeka, namun kembali diambil alih dan dikelola oleh keluarga Sarkies dan diberi nama L. M. S. Hotel untuk mengenang Lucas Martin Sarkies, sang pendiri hotel.
Hotel ini diambil alih tahun 1969 oleh Mantrust Holdings Co, diberi nama Hotel Majapahit. Tahun 1994, hotel ini mengalami renovasi besar-besaran untuk mengubah Hotel Majapahit menjadi hotel mewah bintang lima dengan tetap mempertahankan sebagian besar bangunan aslinya.
Bangunan penuh bersejarah ini terletak di Jalan Tunjungan nomor 65 Surabaya, hotel ini berada di pusat kota, dekat dengan distrik bisnis dan lokasi wisata populer. Hanya dengan berjalan kaki, tamu dapat mengunjungi Tunjungan Plaza, kawasan Kota Tua Surabaya yang ikonik dan menikmati berbagai atraksi di sekitar Kota Surabaya, termasuk merasakan sensasi berkeliling kota dengan Suroboyo Bus dengan harga tiket bus hanya Rp. 5.000.

Hotel Majapahit Surabaya bukan hanya sekadar tempat menginap, tetapi juga sebuah perjalanan ke masa lalu yang penuh dengan sejarah dan kemewahan. Dengan lokasinya yang strategis dan fasilitas yang lengkap, hotel ini menjadi pilihan ideal bagi para pelancong yang mencari pengalaman menginap yang berbeda di Kota Pahlawan.
Winbaktianur
Akademisi UIN Imam Bonjol, Penikmat Wisata & Budaya
winbaktainur1978@gmail.com






