Pekanbaru (Outsiders) – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara megabiodiversitas dengan kekayaan fauna air tawar luar biasa. Salah satu spesies endemik yang memiliki nilai ekonomi tinggi adalah ikan arwana, khususnya jenis super red (Scleropages formosus) dari perairan Kalimantan Barat.
Super Red bukan hanya menjadi primadona di pasar ikan hias global, tetapi juga menyimpan potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam lokal secara berkelanjutan.
Arwana super red hanya ditemukan di habitat asli seperti Danau Sentarum, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, merupakan salah satu jenis arwana paling dicari oleh kolektor internasional karena warnanya yang merah menyala dengan bentuk tubuh elegan.
Sebagai ikan yang termasuk dalam daftar Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), perdagangan spesies ini dari alam liar dilarang, namun diperbolehkan jika berasal dari penangkaran bersertifikat resmi. Hal ini membuka peluang legal dan berkelanjutan bagi pengembangan budidaya ikan arwana asli Indonesia.
Data dari Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) mencatat bahwa nilai ekspor ikan hias Indonesia pada tahun 2022 mencapai lebih dari 46 juta dolar AS. Dari jumlah tersebut, Arwana menyumbang sebagian besar nilai karena harga jualnya yang sangat tinggi di pasar internasional.

Seekor arwana super red dari penangkaran resmi bisa dijual mulai dari Rp10 juta hingga lebih dari Rp150 juta, Â tergantung kualitas dan kelengkapan sertifikasi. Negara tujuan utama ekspor arwana Indonesia meliputi Tiongkok, Jepang, Singapura, Taiwan, dan Malaysia.
Potensi ekonomi arwana tidak hanya terletak pada nilai jualnya, tetapi juga pada dampak ekonomi multiplikatif yang ditimbulkannya. Budidaya arwana telah menciptakan lapangan kerja bagi ribuan orang di berbagai daerah, termasuk pembudidaya, teknisi akuakultur, penjual pakan, pengrajin akuarium, serta pelaku logistik ekspor.
Di Kalimantan Barat, khususnya lokasi masyarakat adat di sekitar kawasan Danau Sentarum, penangkaran arwana turut menggerakkan ekonomi, yang sebelumnya menggantungkan hidup dari perikanan tangkap dan kini beralih ke penangkaran berbasis konservasi.
Sejumlah daerah di luar habitat aslinya, seperti Blitar, Jawa Timur dan Pekanbaru, Riau, juga telah mengembangkan budidaya arwana super red melalui kerja sama dengan penangkaran legal dan lembaga pemerintah.
Di Blitar, terdapat lebih dari 500 unit usaha kecil menengah (UKM) yang terlibat dalam bisnis budidaya arwana, yang secara signifikan menyumbang terhadap pendapatan daerah. Produk-produk dari Blitar bahkan berhasil menembus pasar premium di Asia dan Timur Tengah.
Namun demikian, pengembangan potensi ekonomi arwana asli Indonesia juga menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah peredaran ilegal arwana tanpa dokumen CITES yang merusak harga pasar dan citra ekspor Indonesia. Selain itu, masih rendahnya akses pembudidaya kecil terhadap fasilitas pembiayaan, pelatihan teknologi akuakultur modern, serta sertifikasi internasional menjadi penghambat utama bagi peningkatan nilai tambah produk arwana.
Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengambil langkah-langkah strategis, seperti pembinaan pembudidaya, penyederhanaan perizinan ekspor, dan peningkatan kerja sama antar-negara untuk mencegah penyelundupan.
Sisi konservasi juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan ekonomi arwana asli Indonesia. Karena statusnya sebagai spesies langka, pengembangan harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan berbasis sains. Beberapa balai konservasi, seperti Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi dan Loka Konservasi di Pontianak, telah melakukan riset genetika, pembenihan indukan unggul, hingga pengembangan sistem resirkulasi akuakultur ramah lingkungan.
Tidak hanya sebagai komoditas ekspor, arwana asli Indonesia juga mulai dikembangkan sebagai daya tarik wisata edukatif. Beberapa sentra budidaya di Kalimantan Barat dan Blitar telah membuka kawasan ekowisata arwana, di mana pengunjung dapat melihat langsung proses penetasan telur, pemisahan indukan, hingga pengemasan untuk ekspor. Hal ini menjadi peluang diversifikasi ekonomi lokal yang memadukan nilai konservasi, ekonomi kreatif, dan edukasi lingkungan.
Melalui pendekatan yang terintegrasi antara konservasi, industri, dan inovasi, ikan arwana asli Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi simbol ekonomi biru Indonesia yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, peningkatan teknologi budidaya, dan penegakan hukum yang tegas terhadap perdagangan ilegal, arwana dapat menjadi komoditas unggulan yang tidak hanya menguntungkan dari sisi ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia di panggung perdagangan ikan hias dunia.





