Pekanbaru (Outsiders) – Blacan adalah sebutan lokal untuk salah satu jenis kucing hutan liar asli Indonesia. Dalam istilah ilmiah, blacan sering merujuk pada kucing batu (Prionailurus javanensis, sebelumnya diklasifikasi sebagai Prionailurus bengalensis). Kucing ini memiliki persebaran yang cukup luas di Asia Tenggara, termasuk hutan-hutan Indonesia dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi.
Kucing blacan memiliki ukuran tubuh kecil hingga sedang, dengan panjang sekitar 40–60 cm dan ekor sepanjang 20–30 cm. Beratnya berkisar 3–7 kg, tergantung usia dan jenis kelamin. Ciri khasnya adalah bulu berwarna cokelat keabu-abuan dengan bintik-bintik gelap di seluruh tubuh, menyerupai macan tutul mini. Wajahnya tajam dengan garis-garis hitam yang menonjol dari mata hingga pipi.
Blacan dikenal sebagai hewan soliter dan nokturnal, aktif berburu di malam hari. Mangsanya bervariasi, mulai dari tikus, burung, reptil kecil, hingga serangga. Ia juga dikenal sebagai pemanjat pohon ulung.
Blacan hidup di berbagai jenis hutan, yaitu hutan hujan tropis dataran rendah, hutan pegunungan, perkebunan dan hutan sekunder. Sementara di Indonesia, blacan ditemukan di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Lombok (kemungkinan)
Blacan saat ini terancam oleh perusakan habitat dan perburuan liar. Banyak diburu karena dianggap mengganggu ternak atau dijadikan peliharaan eksotis. Di beberapa daerah, perdagangan ilegal kucing ini masih berlangsung, walaupun telah dilindungi undang-undang.
Menurut IUCN Red List, status konservasi kucing ini adalah “Least Concern” (Risiko Rendah) secara global, namun di Indonesia, status lokal bisa berbeda-beda tergantung tingkat ancaman di tiap wilayah.
Blacan telah dilindungi oleh hukum Indonesia, termasuk dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018) tentang jenis tumbuhan dan satwa dilindungi. Artinya, memelihara, memperjualbelikan, atau memburu kucing ini tanpa izin dilarang dan dapat dikenai sanksi pidana.
Sebagai predator alami, blacan berperan penting dalam mengendalikan populasi hama, seperti tikus. Ia menjaga keseimbangan ekosistem hutan dan pertanian di sekitarnya.
Blacan adalah salah satu kekayaan fauna Nusantara yang mencerminkan keragaman hayati Indonesia. Meski tergolong kecil dan tidak sepopuler satwa ikonik seperti harimau atau orangutan, blacan memiliki peran penting dalam rantai makanan dan keseimbangan ekosistem. Kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian spesies ini perlu terus ditingkatkan, demi menjaga keberlangsungan satwa liar Indonesia.





